Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Karya Sineas Indonesia Bersaing di SGIFF 2026, Ada Empat Musim Pertiwi

5 min read
5 Karya Sineas Indonesia Bersaing di SGIFF 2026, Ada Empat Musim Pertiwi
Macho Mystic Meltdown Chapter 2: Monster; She Wrote dan Empat Musim Pertiwi (Instagram.com/asmaraabigal | instagram.com/sgiffest)

Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21 Oktober hingga 1 November 2026 di Singapura. Memasuki edisi ke-37, kali ini, festival film bergengsi di Asia Tenggara tersebut menghadirkan lebih dari 100 film dari lebih dari 50 negara. Di antara deretan karya yang akan ditampilkan, lima film karya sineas Indonesia pun berhasil menembus jajaran kompetisi, lho.

Kelima film tersebut membawa beragam cerita dari Indonesia ke panggung perfilman internasional. Mereka tersebar di dua kategori kompetisi, yakni Asian Feature Film Competition dan Southeast Asian Short Film Competition. Lantas, ada film apa saja yang membawa nama Indonesia ke Singapore International Film Festival 2026?

  1. 1. Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi) karya Kamila Andini

    Materi visual bertajuk Four Seasons in Java dengan kredit akun Instagram @sgiffest sebagai sumber unggahan.
    Four Seasons in Java (Instagram.com/sgiffest)

    Yang pertama, ada Four Seasons in Java atau Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini. Film berdurasi 137 menit ini menjadi satu-satunya film panjang karya sineas Indonesia yang masuk kompetisi Asian Feature Film Competition di SGIFF 2026, lho.

    Dibintangi oleh Putri Marino, film ini mengikuti kisah perempuan Jawa bernama Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun mendekam di penjara, karena membunuh laki-laki yang berusaha memperkosanya saat berusia 16 tahun. Kepulangan Pertiwi tersebut mempertemukannya kembali dengan trauma, ketidakadilan, dan kuatnya budaya patriarki di lingkungan tempat ia dibesarkan.

    Sebelum diumumkan masuk kompetisi SGIFF 2026, film yang juga dibintangi oleh Arya Saloka ini sudah lebih dulu tampil di sejumlah festival internasional, termasuk Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dan Busan International Film Festival 2026. Four Seasons in Java dijadwalkan tayang di bioskop pada 8 Oktober 2026.

  2. 2. Golden Island (Kota Emas) karya Arief Budiman

    Materi promosi film Golden Island yang dibagikan melalui akun Instagram SGIFF sebagai bagian publikasi festival.
    Golden Island (Instagram.com/sgiffest)

    Selanjutnya ada Golden Island atau Kota Emas karya Arief Budiman. Berbeda dari Four Seasons in Java yang berkompetisi di kategori film panjang, film berdurasi 22 menit ini masuk Southeast Asian Short Film Competition di SGIFF 2026.

    Film produksi Indonesia dan Singapura tersebut mengikuti kisah dua videografer asal Jawa dan Papua yang sedang membuat film tentang Papua. Namun, proses tersebut justru membawa mereka pada refleksi tentang realitas Papua serta keberadaan masyarakat Jawa di wilayah tersebut.

    Menggunakan tiga bahasa, yakni Papua, Jawa, dan Indonesia, dengan subtitle bahasa Inggris, film ini juga akan diputar untuk pertama kalinya di Asia melalui SGIFF 2026 sebagai Asian Premiere. Meski begitu, sebelum berkompetisi di Singapura, Golden Island sendiri sebenarnya sudah lebih dulu menjalani world premiere di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 dan berkompetisi dalam kategori Tiger Short Competition.

    Gak sampai di situ saja, Golden Island juga telah meraih penghargaan Best Film dalam International Competition Fiction & Documentary di Vienna Shorts 2026. Berkat penghargaan tersebut, film ini pun memenuhi syarat untuk dipertimbangkan dalam ajang Academy Awards atau Oscar untuk kategori Documentary Short Subject.

  3. 3. Macho Mystic Meltdown Chapter 2: Monster; She Wrote karya Natasha Tontey

    Visual promosi bertuliskan Macho Mystic Meltdown Chapter 2: Monster; She Wrote dari Asmara Abigail.
    Macho Mystic Meltdown Chapter 2: Monster; She Wrote (Instagram.com/asmaraabigail)

    Setelah membawa Of Other Tomorrows Never Known ke SGIFF 2023, kini Natasha Tontey kembali berkompetisi di festival tersebut lewat Macho Mystic Meltdown Chapter 2: Monster; She Wrote. Film pendek berdurasi 13 menit ini juga masuk kategori Southeast Asian Short Film Competition di SGIFF 2026. Tak hanya berkompetisi, film yang dibintangi oleh Asmara Abigail tersebut juga akan diputar sebagai Southeast Asian Premiere.

    Berlatar Minahasa, Sulawesi Utara, pada awal 1960-an, Macho Mystic Meltdown Chapter 2: Monster; She Wrote mengikuti kisah seorang perempuan anggota kelompok pejuang Permesta yang hidup terisolasi di wilayah terpencil. Di tengah latihan militer, ia juga mempersiapkan ritual yang berkaitan dengan leluhur Minahasa.

  4. 4. Tropenkolder karya Riar Rizaldi

    Materi visual bertajuk Tropenkolder dari unggahan Instagram akun SGIFFest, sebagaimana dicantumkan pada keterangan.
    Tropenkolder (Instagram.com/sgiffest)

    Tropenkolder karya Riar Rizaldi menjadi film pendek berikutnya yang masuk Southeast Asian Short Film Competition di SGIFF 2026. Film berdurasi 24 menit ini tercatat sebagai produksi Indonesia dan Belanda dengan cerita yang mengambil latar kehidupan para pekerja kereta api di tengah sistem kerja kolonial.

    Menariknya, bentuk perlawanan dalam film ini tidak digambarkan lewat aksi besar. Para pekerja justru melawan dengan memperlambat ritme kerja dan menolak mengikuti tuntutan sistem yang mengharuskan mereka terus bergerak dan bekerja.

    Kehadiran Riar Rizaldi di SGIFF juga bukan yang pertama, lho. Sebelumnya, sineas asal Bandung ini juga membawa Tellurian Drama ke festival tersebut pada 2020 dan berhasil meraih penghargaan Best Southeast Asian Short Film.

  5. 5. “Vaterland” or A Bule Named Yanto karya Berthold Wahjudi

    Materi promosi berjudul “Vaterland” atau “A Bule Named Yanto” karya Berthold Wahjudi di SGIFFest.
    “Vaterland” or A Bule Named Yanto — Berthold Wahjudi (Instagram.com/sgiffest)

    Terakhir ada “Vaterland” or A Bule Named Yanto karya Berthold Wahjudi. Film ini mengangkat isu identitas dan rasa memiliki melalui kisah Yanto, keturunan Jerman-Indonesia yang kembali bertemu dengan saudara perempuannya di Yogyakarta. Pertemuan tersebut membuat Yanto melihat perbedaan pengalaman mereka dalam menjalani kehidupan di Indonesia.

    Sementara sang saudara perempuan dapat berbaur dengan lingkungan sekitar, Yanto justru bergulat dengan rasa iri dan kegamangan terhadap identitasnya sebagai seseorang yang berada di antara dua latar budaya. Lewat kisah tersebut, “Vaterland” or A Bule Named Yanto mengeksplorasi pertanyaan tentang rumah, asal-usul, dan di mana seseorang merasa benar-benar menjadi bagian dari suatu tempat.

    Berdurasi 25 menit, film produksi Indonesia dan Jerman ini juga masuk dalam Southeast Asian Short Film Competition di SGIFF 2026.

    Itu dia lima film karya sineas Indonesia yang bersaing di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026. Kelimanya tersebar dalam dua kategori kompetisi, dengan cerita yang mengangkat beragam isu, mulai dari ketidakadilan terhadap perempuan, realitas Papua, sejarah dan mitologi, hingga identitas.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More