Kelebihan dan Kelemahan The Evil Lawyer, Worth to Watch?

- Serial Thailand The Evil Lawyer menyoroti Mek, pengacara yang dituduh membunuh, dan Jittri, pengacara licik yang memanipulasi hukum demi kemenangan di ruang sidang.
- Cerita menampilkan potret sistem hukum korup melalui konflik dengan Jenderal Anan serta dilema moral antara keadilan dan cara kotor dalam memperjuangkannya.
- Kelemahan muncul dari degradasi karakter Jittri, tumpang tindih sub-plot, dan akhir antiklimaks yang membuat potensi thriller hukumnya kurang maksimal.
Mengusung dinamika dua pengacara dengan prinsip yang bertolak belakang, The Evil Lawyer awalnya tampak siap menyajikan tontonan investigasi hukum yang menguras otak. Serial asal Thailand ini menyoroti perjalanan Mek (Nat Kitcharit), seorang pengacara yang mendadak menjadi tersangka pembunuhan. Demi membersihkan namanya dan mencari keadilan, ia nekat menggandeng Jittri (Rhatha Phongam), sosok "pengacara iblis" yang tak kenal ampun dalam memanipulasi celah di ruang sidang.
Meski episode pertamanya sukses mencuri perhatian lewat taktik hukum yang kejam, eksekusi dari pertengahan hingga akhir ceritanya justru menyisakan beberapa catatan. Sebelum kamu memutuskan apakah serial ini worth to watch, kita bedah kelebihan dan kelemahan plot The Evil Lawyer lewat ulasan berikut, yuk!
1. Taktik manipulasi Jittri yang kejam

Sejak awal, kekejaman Jittri sudah dipamerkan saat beraksi di meja hijau. Lewat kasus jasad bayi, Jittri diperkenalkan sebagai pengacara yang tak ragu menggunakan argumen medis secara objektif sekaligus tanpa empati demi memenangkan kliennya. Disusul oleh kasus-kasus berikutnya, Jittri semakin menunjukkan sisi manipulatifnya yang ekstrem.
Ia tidak segan melakukan pemerasan, menggiring opini publik, hingga menyiapkan saksi palsu. Bayangkan saja, ia bahkan tega memanipulasi trauma korban pelecehan sampai-sampai korbannya meragukan realitasnya sendiri. Rangkaian taktik tak bermoral ini sangat efektif dalam membangun pesonanya. Penonton diajak melihat bagaimana Jittri sanggup mengabaikan hati nuraninya demi meraih kemenangan di pengadilan.
2. Potret sistem hukum yang korup

Daya pikat lainnya terletak pada keberanian serial ini memotret sistem hukum yang korup. Melalui perjalanan Jittri dalam membantu Mek yang dituduh membunuh, mereka harus berhadapan dengan Jenderal Anan, ayah korban yang tak ragu bermain kotor untuk memanipulasi aparat. Dari konflik inilah The Evil Lawyer menelanjangi sisi gelap sistem yang ada.
Penonton akan diajak merasakan dilema moral yang dialami Mek: apakah cara kotor Jittri bisa dibenarkan demi melawan hukum yang sudah terlanjur bobrok? Serial ini seolah menyentil kita bahwa kebenaran bisa kehilangan harganya. Ruang sidang pun tak lagi menjadi tempat mencari keadilan, melainkan sebatas panggung sandiwara bagi yang paling lihai merangkai narasi palsu.
3. Degradasi karakter yang berujung klise

Secara pribadi, pergeseran motivasi Jittri menjadi sebuah kelemahan plot yang sangat disayangkan. Pesona Jittri yang memikat di awal mulai goyah di pertengahan seri ketika kapasitas "iblis" miliknya justru dikecilkan skalanya. Naskah malah membelokkan arah karakternya menuju motif balas dendam pribadi yang terasa klise. Memang, memberikan latar belakang traumatis sebagai alasan kekejaman sebenarnya sah-sah saja untuk menonjolkan perkembangan karakternya.
Namun, penonton terlanjur jatuh hati pada sosok karismatik yang menantang moral secara natural, bukan sekadar pelampiasan dari sejarah masa lalunya. Hasilnya, Jittri yang sebelumnya tampil tenang dan sanggup menahan diri, perlahan kehilangan kendali emosinya di akhir-akhir cerita, membuat persona sang "pengacara iblis" perlahan luntur.
4. Tumpang tindih plot yang melelahkan

Sebagai serial dengan durasi 8 episode, ambisi naskahnya terlampau besar. Plot utama tentang Mek yang harus berpacu dengan waktu untuk membersihkan namanya terpaksa berbagi panggung dengan banyak isu berat. Mulai dari kasus pekerja migran, konspirasi partai politik, hingga drama keluarga para petinggi.
Penumpukan sub-plot ini menciptakan tumpang tindih penceritaan yang melelahkan. Akibatnya, urgensi nasib Mek sering kali tenggelam. Bukannya berhasil menjaga intensitas thriller yang rapat, laju ceritanya justru mengendur dan bertele-tele karena ketegangan penonton terus dipecah oleh berbagai konflik sampingan.
5. Eksekusi akhir yang terasa antiklimaks

Sayangnya, penyelesaian akhir dari rentetan konflik juga gagal menyelamatkan naskah. Sebagai sebuah thriller hukum, penonton tentu mengharapkan pertarungan adu argumen yang pecah dan memuaskan di meja hijau.
Namun, strategi di persidangan akhir justru terasa janggal karena karakter tiba-tiba mengambil langkah perubahan narasi. Ditambah lagi, kejutan mendadak di menit-menit akhir lebih terasa seperti cliffhanger yang dipaksakan daripada penutup kisah yang memuaskan.
The Evil Lawyer sebenarnya punya fondasi yang sangat menjanjikan, apalagi didukung oleh akting Rhatha Phongam dan Nat Kitcharit. Sangat disayangkan, alur yang tumpang tindih membuat potensi duet maut Mek dan Jittri di ruang sidang tidak tergali maksimal.
Jadi, apakah serial ini worth to watch? Jelas. Apalagi kalau kamu penikmat thriller hukum yang gemar melihat taktik licik antihero dan tidak terlalu ambil pusing dengan plot yang sedikit bertele-tele. Nah, gimana menurutmu sendiri? Apakah pesona Jittri sukses menutupi kelemahan plot ceritanya? Yuk, diskusi di bawah!


















