Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Para Pencari Tuhan Masih Jadi Primadona Tontonan Ramadan?

Kenapa Para Pencari Tuhan Masih Jadi Primadona Tontonan Ramadan?
poster Para Pencari Tuhan Jilid 19 (Instagram.com/sctv)
Intinya Sih
  • Sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 19 mencatat rekor TVR 4.0 dan share 24,6 persen, menempatkannya di posisi empat besar program televisi selama Ramadan.
  • Kisahnya tetap relevan karena mengangkat isu sosial seperti pengangguran dan anak terlantar, membuat penonton merasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
  • Produksi digarap serius dengan pendekatan sinematik ala film, menghadirkan visual hangat dan alur menarik tanpa kehilangan nilai religius yang ringan serta humanis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) masih menjadi primadona tontonan Ramadan. Meski hampir berusia dua dekade, episode perdana Para Pencari Tuhan Jilid 19 berhasil mencatat rekor TVR 4.0 dan share 24,6 persen. Angka tersebut menempatkannya di jajaran 4 besar program televisi. Gokil!

Tentu saja ini bukan pencapaian yang mudah, terutama bagi sinetron yang telah tayang begitu lama. Lantas, apa sih yang membuat sinetron karya Deddy Mizwar ini bisa terus bertahan dan tetap dicintai penonton? Mari kita bahas!

1. Ide ceritanya dinilai relevan

potret Amiruddin Olland, penulis naskah Para Pencari Tuhan Jilid 19
potret Amiruddin Olland, penulis naskah Para Pencari Tuhan Jilid 19 (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Salah satu elemen yang paling menonjol dari sinetron Para Pencari Tuhan adalah ide ceritanya yang berangkat dari isu dan fenomena sosial masyarakat. Contohnya, seperti jilid terbaru ini yang menyoroti tentang isu pengangguran dan anak-anak terlantar. Nah, karena ceritanya yang relevan dengan kondisi sosial, makanya penonton bisa merasa relate dan dekat.

Amiruddin Olland, penulis naskah Para Pencari Tuhan, menjelaskan bahwa sinetron tersebut sudah fokus mengangkat isu sosial ke dalam ide ceritanya sejak jilid ke-11 pada 2017 lalu.

“Setiap season-nya itu ada tema tertentu. Yang sebelumnya, dari jilid 1 sampai jilid 10, itu cerita bersambung, tapi dari PPT 11, kita udah pakai tema tertentu. Dan sampai sekarang, konsisten membawa isu-isu yang relevan,” kata Amiruddin Olland saat dijumpai di kantor production house milik Deddy Mizwar di kawasan Duret Sawit, Jakarta Timur, Selasa (24/2/2026).

2. Syiar agama yang disampaikan dengan cara menarik

potret Deddy Mizwar
potret Deddy Mizwar (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Sebagai sinetron Ramadan, tentu Para Pencari Tuhan mengandung nilai-nilai religius. Namun menariknya, pesan-pesan tersebut tidak disampaikan dengan cara menggurui. Nilai agama di sinetron ini dibungkus ke dalam alur cerita yang hangat, dialog yang ringan, serta selipan humor yang menghibur.

Di sisi lain, hal tersebut ternyata juga menjadi menjadi tantangan tersendiri bagi Deddy Mizwar sebagai kreator.

“Jadi bagaimana memasukkan unsur tontonan tersebut, bisa dari dialog, dan lain-lain. Agar menjadi tontonan yang menarik karena mau bagaimanapun ini adalah acara hiburan. Tapi, tetap harus relate dengan masyarakat,” kata Deddy Mizwar dengan nada antusias.

Menurutnya, dengan pendekatan tersebut, penonton bisa lebih mudah menangkap pelajaran dan refleksi kehidupan secara alami tanpa terkesan sedang dinasihati, dan alih-alih terkesan kaku, syiar agamanya pun jadi terasa lebih menarik dan humanis.

3. Digarap serius dengan pendekatan ala film

potret Rio Saputra, Co-Director Para Pencari Tuhan Jilid 19
potret Rio Saputra, Co-Director Para Pencari Tuhan Jilid 19 (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Kalian sadar gak kalau dalam beberapa musim terakhir, tampilan visual sinetron Para Pencari Tuhan terasa lebih sinematik? Mulai dari pengambilan gambar yang lebih dinamis, komposisi frame yang tertata rapi, hingga tone warna yang terasa lebih hangat dan konsisten, semuanya terasa sangat berbeda dari visual sinetron pada umumnya.

Rio Saputra, Co-Director Para Pencari Tuhan Jilid 19, menjelaskan bahwa visual sinetron tersebut memang digarap seserius itu dengan eksekusi ala produksi layar lebar.

“Kita serius, bikinnya seperti bikin film, atau bikin series, dan segala macem. Bukan seperti bikin sinetron. Makanya packaging kita beda dari sinetron-sinetron lainnya,” kata Rio saat dijumpai IDN Times di tengah suasana syuting sore itu.

Gak cuma dari segi visual dan sinematografi, Rio juga menjelaskan bahwa pendekatan produksi ala film ini juga diterapkan pada proses syuting. Mereka membatasi jumlah adegan yang diambil setiap hari agar pengambilan gambar bisa dikerjakan dengan maksimal.

“Di film kan kita dapet materi yang hanya di mana satu hari paling banyak delapan scene atau tujuh scene. Ya, karena menurut aku, lo bikin barang bagus, tapi lo harus dengan materi yang banyak, terus kita harus cepat-cepat? Gak ada yang cepat. Bagus itu butuh waktu” lanjutnya.

Itu dia beberapa alasan kenapa Para Pencari Tuhan tetap menjadi primadona tontonan Ramadan. Dari cerita yang dekat dengan kehidupan, syiar agama yang dikemas dengan cara yang menarik, hingga kualitas visual ala film, gak heran kalau sinetron ini tetap dicintai oleh penonton.

Kalau kamu sendiri sebagai penonton setia, hal apa yang membuat kamu tertarik untuk terus menyaksikan sinetron ini?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More