Marak AI di Dunia Musik, Chia Reality Club: Harus Ada Regulasinya

- Chia Reality Club menolak penggunaan AI generatif untuk menciptakan karya musik karena dianggap menggeser peran kreativitas manusia.
- Ia menyoroti risiko penyalahgunaan teknologi AI dalam meniru atau mereplikasi suara musisi tanpa izin yang bisa merugikan pencipta aslinya.
- Chia berharap pemerintah segera membuat regulasi jelas agar penggunaan AI di industri kreatif tetap adil dan tidak merugikan seniman.
Jakarta, IDN Times – Di tengah maraknya penggunaan AI dalam industri kreatif, Fathia Izzati atau yang akrab disapa Chia punya pandangan yang cukup tegas. Ia mantap tidak setuju jika teknologi AI digunakan untuk menciptakan karya. Apalagi, membiarkan teknologi mengambil kreativitas manusia.
Selain itu, vokalis Reality Club ini juga menyinggung butuhnya peran pemerintah untuk mengatur implementasi AI dalam berbagai aspek, terutama yang berkaitan dengan karya. Ini pendapat Chia terkait AI dalam wawancaranya dengan IDN Times.
1. Chia tidak setuju AI dibuat untuk menciptakan karya

Membahas soal kecerdasan buatan, Chia mengakui penggunaannya sudah tak bisa dielakkan lagi di era saat ini. Ia sendiri tidak masalah jika banyak orang menggunakannya hanya sebagai tool atau alat bantu.
Namun, secara pribadi Chia kurang setuju dengan AI generatif yang digunakan untuk menggantikan kerja otak manusia dalam menciptakan karya, dalam hal ini musik. Lebih mengkhawatirkan lagi jika ada yang memakainya untuk menciptakan lirik dengan meniru gaya musisi tertentu.
“Tapi kalau misalnya AI-nya yang generative AI yang kayak gimana caranya bikin lirik mirip Reality Club atau apa, nah menurut aku aku bermasalah secara pribadi," ujarnya di kantor IDN pada Kamis (23/4/2026).
2. Khawatir suara musisi juga disalahgunakan

Selain soal lirik, Chia juga menyoroti potensi penyalahgunaan AI dalam mereplikasi suara musisi. Ia menganggap hal ini bisa menjadi masalah serius jika tidak diatur dengan baik.
“Maksudnya kan ini bisa jadi berbahaya kalau misalnya ada yang kayak gunain suaranya Faiz (Reality Club) gitu untuk bikin lagu baru. Gimana caranya, intinya semuanya bisa dapat kuenya masing-masing sesuai dengan porsinya masing-masing, kalau emang kita mau ke arah sana (era AI)," tambahnya.
3. Berharap ada regulasi AI dari pemerintah

Meski punya kekhawatiran, Fathia Izzati tidak sepenuhnya menolak AI. Ia menyadari teknologi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan sulit untuk dihindari. Maka dari itu, musisi kelahiran 1994 ini mengharapkan campur tangan pemerintah.
“I think there should be rules implemented mungkin ke depannya gak tahu gimana. Soalnya gini, AI tuh gak salah. I mean of course we use AI on a daily basis," ujarnya.
"Jadi menurut aku ada beberapa step yang mungkin harus di-take over sama pemerintah," tambahnya.
Nah, apakah kamu setuju dengan pandangan Chia Reality Club ini?






![[QUIZ] Apakah Rony Parulian Mau Bikin Kicau Mania Challenge Bareng Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260421/upload_0b8af7937875ee9def28b57b2baa8af9_ed0e4b2c-e5ab-4e93-b142-e990c1639217.jpeg)











![[QUIZ] Kalau Diteror Hantu di Ghost in the Cell, Apa yang Kamu Lakukan?](https://image.idntimes.com/post/20260425/upload_2ad3ec0b6afa96102ba384421697de29_1796a8a7-1c52-4f27-8ecf-989cd423e45e.jpg)