Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Penjelasan Ending The Drama Menurut Sutradara Kristoffer Borgli

Penjelasan Ending The Drama Menurut Sutradara Kristoffer Borgli
The Drama (dok. A24/The Drama)
Intinya Sih
  • Emma mengungkap masa lalunya yang kelam saat SMA, pernah merencanakan penembakan massal namun tidak jadi melakukannya, membuka konflik batin dan ujian kejujuran dalam hubungannya dengan Charlie.
  • Sutradara Kristoffer Borgli menegaskan akhir film dibiarkan terbuka tanpa jawaban moral pasti, menyoroti batas pribadi dan sejauh mana seseorang bisa menerima kekurangan pasangannya.
  • The Drama menggambarkan cinta yang retak namun jujur, menghadirkan refleksi tentang kejujuran, pengampunan, dan batas toleransi dalam hubungan tanpa memberikan kesimpulan hitam-putih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sudah nonton The Drama tapi masih bingung dengan pesan yang ingin disampaikan di akhir cerita? Tenang, kamu tidak sendirian. Sepanjang 106 menit, kita bergulat dengan satu pertanyaan besar, "Sejauh mana kalian menoleransi kebohongan dalam hubungan?" Pertanyaan itu menggantung lama setelah kredit film selesai bergulir.

Film garapan Kristoffer Borgli ini memang sengaja bermain di wilayah abu-abu. Berangkat dari satu pengakuan besar di tengah cerita, hubungan Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) perlahan berubah dari kisah cinta menjadi semacam drama psikologis. Bukan soal siapa yang benar, tapi seberapa jauh seseorang bisa menerima masa lalu pasangannya. Tanpa menunggu lebih lama, berikut penjelasannya!

Awas, artikel ini mengandung spoiler!

1. Apa rahasia yang disembunyikan oleh Emma?

Seorang perempuan berambut keriting duduk di ruangan redup sambil menatap ke atas dengan ekspresi serius dan penuh emosi.
The Drama (dok. A24/The Drama)

Rasa-rasanya sulit untuk menemukan twist paling gong di tahun 2026 daripada pengakuan Emma di film ini. Dalam momen permainan "we listen we don't judge," Emma justru membuka sisi tergelap dari masa lalunya. Emma mengungkap bahwa ia pernah merencanakan mass shooting saat SMA. Bukan sekadar pikiran impulsif, tapi rencana yang cukup matang, lengkap dengan riset dan persiapan.

Kilas balik kemudian memperlihatkan bagaimana rasa terasing, perundungan, dan kemarahan yang dipendam membentuk pola pikirnya saat itu. Bahkan, detail seperti gangguan pendengaran yang ia alami menjadi jejak nyata dari masa kelam tersebut. Yang membuatnya semakin kompleks, Emma tidak pernah benar-benar mengeksekusi rencananya. Bukan karena pencerahan moral, melainkan karena alasan sepele.

Namun The Drama tidak berhenti di sana. Film ini menunjukkan proses transformasi Emma. Bagaimana ia perlahan belajar terhubung dengan orang lain dan menghadapi rasa bersalahnya. Bagi Charlie, pengakuan Emma seperti dosa yang memaksa dirinya melihat ulang semua yang ia tahu tentang pasangannya sebelum mereka menikah. Jika pasangan kalian sudah berani jujur dan berubah, apakah kalian akan memaafkannya?

2. Penjelasan akhir The Drama dari sang sutradara

Seorang pria memeluk wanita dengan lembut di kamar tidur yang diterangi lampu meja, dengan rak buku besar di latar belakang.
The Drama (dok. A24/The Drama)

Rupanya sang sutradara, Kristoffer Borgli, juga tidak berniat memberikan jawaban pasti di akhir cerita. Ia menyebut film ini sebagai eksplorasi batas personal, bukan pernyataan moral. Artinya, penonton tidak "diarahkan" untuk menilai apakah Emma pantas dimaafkan atau tidak.

"Ini adalah kisah yang sangat personal. Film ini tidak membahas batasan-batasan di tingkat sosial, di mana batasan untuk cinta tanpa syarat eksis," katanya kepada Popcorn Podcast (3/4/2026).

Menariknya lagi, film ini menempatkan pengakuan Emma berdampingan dengan kesalahan Charlie (selingkuh). Borgli seolah bertanya kepada penonton sembari berbisik, apakah kesalahan dalam hubungan bisa saling menyeimbangkan? Atau justru memperparah luka?

"Film ini lebih mengeksplorasi batasan pribadi kalian serta batasan seberapa jujur ​​dan seberapa banyak kekurangan yang dapat kalian tunjukkan dalam kehidupan pribadi yang paling rahasia. Di depan umum, itu adalah diskusi yang sangat berbeda. Itu adalah diskusi yang terlalu besar bagi saya," lanjutnya

Hubungan Emma dan Charlie di akhir film pun dibiarkan terbuka. Tidak ada konfirmasi apakah mereka kembali bersama atau memilih berpisah. Borgli menekankan bahwa The Drama bukan tentang mana yang besar dan mana yang salah, melainkan tentang batas toleransi masing-masing.

3. Pada akhirnya, The Drama adalah kisah cinta yang tidak sempurna

Seorang pria mengenakan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu dan bunga di dada berdiri di dalam ruangan dengan jendela besar di belakangnya.
The Drama (dok. A24/The Drama)

Jika kamu mencari jawaban hitam-putih, film ini tidak akan memberikannya. The Drama justru hidup di antara ruang abu-abu yang sering kita hindari dalam kehidupan nyata, tapi sayangnya eksis. Film ini seolah menyinggung konsekuensi dari sebuah kejujuran. Tentang bagaimana cinta diuji bukan saat semuanya indah, tapi ketika sisi yang paling gelap muncul ke permukaan.

Meski begitu, ada secercah optimisme yang tersisa. Borgli sendiri mengakui bahwa ia melihat kisah Emma dan Charlie sebagai bentuk cinta, meski tidak sempurna. Cinta yang retak, jujur, dan mungkin masih punya peluang untuk diperbaiki.

"Jauh di lubuk hati, saya adalah orang yang romantis. Saya penuh harapan. Saya merasa optimis tentang masa depan mereka. Tapi siapa yang tahu," tutupnya.

Jadi, apakah The Drama benar-benar tentang kisah dua insan yang benar-benar mencintai? Atau justru tentang batasan cinta itu sendiri? Jawabannya ada di tanganmu sebagai penonton. Jangan lupa ikuti terus IDN Times untuk pembahasan film menarik lainnya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria
Follow Us

Related Articles

See More