Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nadin Amizah Lewati Proses Berat di Balik Album Ketiga: Kayak Zombie

4 min read
Nadin Amizah Lewati Proses Berat di Balik Album Ketiga: Kayak Zombie
potret Nadin Amizah (dok. Sorai)
  • Nadin Amizah menjadikan Laika sebagai simbol album ketiganya, menggambarkan rasa ditinggalkan, kesepian, dan dimanfaatkan yang menurutnya sangat manusiawi.
  • Album Laika, Yang Ditinggalkan berisi 11 lagu dan digarap secara emosional hingga Nadin serta tim merasa kehabisan energi; beberapa kolaborator masih dalam pemulihan setelah rilis.
  • Setelah sembilan tahun berkarier, Nadin merasa lebih bebas dan berani mengeksplorasi produksi suara album ini, dengan melibatkan 10 produser.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di balik album Laika, Yang Ditinggalkan, Nadin Amizah ternyata tidak hanya menuangkan cerita tentang kehilangan, kerinduan, dan kesepian. Proses melahirkan album penuh ketiganya yang berisi 11 lagu tersebut juga cukup menguras energi sang penyanyi hingga membuatnya merasa seperti zombie.

Pengalaman ini dibagikan langsung oleh Nadin dalam wawancara bersama IDN Times melalui Zoom pada Selasa (15/9/2026). Saking beratnya pengerjaan album tersebut, Nadin mengungkapkan bahwa setelah proses penggarapannya selesai, beberapa orang yang terlibat masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Lantas, seperti apa perjalanan kreatif di balik album Laika, Yang Ditinggalkan?

  1. 1. Kenapa Nadin Amizah jadikan Laika sebagai simbol album penuh ketiganya?

    Sampul album ketiga Nadin Amizah dengan desain visual artistik sebagai materi promosi karya musik, didokumentasikan oleh Sorai.
    cover art album ketiga Nadin Amizah (dok. Sorai)

    Dalam wawancara bersama IDN Times yang berlangsung sekitar 17 menit, Nadin Amizah menceritakan alasan personal di balik pemilihan Laika sebagai simbol album penuh ketiganya. Nama Laika sendiri merujuk pada seekor anjing betina yang ditemukan di jalanan Moskow dan kemudian dikirim Uni Soviet ke luar angkasa melalui misi Sputnik 2 pada 1957. Namun, misi tersebut tidak dirancang untuk membawa Laika kembali ke Bumi hingga akhirnya ia meninggal beberapa jam setelah mencapai orbit akibat panas berlebih di kapsul.

    Bagi Nadin, kisah Laika tersebut tidak hanya menggambarkan pengalaman seekor anjing, tetapi juga menyimpan perasaan yang sangat manusiawi. Ia melihat bahwa rasa ditinggalkan dan kesepian dalam kisah Laika merupakan pengalaman yang juga dapat dirasakan manusia, meski Laika sendiri bukanlah manusia.

    Kedekatan emosional dengan kisah Laika inilah yang kemudian membuat Nadin memilihnya sebagai simbol untuk album Laika, Yang Ditinggalkan.

    “Walaupun Laika bukan seorang manusia. Tapi perasaan ditinggalkannya, perasaan kesepiannya, perasaan hanya diambil untuk sebuah keuntungan, itu adalah sesuatu yang manusiawi banget. Makanya aku terenyuh sekali untuk menjadikan Laika sebagai simbol di album ini,” kata Nadin Amizah dengan mata berkaca-kaca.

    Benang merah tersebut kemudian dituangkan Nadin ke dalam 11 lagu di album Laika, Yang Ditinggalkan, yang dirilis pada 28 Agustus 2026. Berikut daftar tracklist-nya.

    • “Pesan Digital Seekor Anjing dari Luar Angkasa
    • “Moonlight”
    • “Kematian, Jika Aku Jadi Kekasihnya”
    • “Reservasi untuk Dua”
    • “Tamu Berwajah Itu”
    • “Amarah”
    • “Putih Merana”
    • “Take Him to the Moon For Me”
    • “Ditemukan Sebuah Bangkai”
    • “Langit Melepas Hujan”
    • “Laika, Kau Mudah Dicinta”

  2. 2. Lewati proses berat di balik Laika, Yang Ditinggalkan, Nadin Amizah berasa kayak zombie?

    Potret Nadin Amizah dalam dokumentasi Sorai yang digunakan sebagai ilustrasi untuk artikel terkait dirinya.
    potret Nadin Amizah (dok. Sorai)

    Di balik album Laika, Yang Ditinggalkan, Nadin Amizah mengaku melewati proses penggarapan yang cukup berat. Tidak hanya dirinya, orang-orang yang terlibat dalam pengerjaan album ini juga sempat kehabisan energi hingga merasa seperti zombie. Menurut Nadin, hal tersebut terjadi karena album ini mengangkat cerita yang sangat personal bagi mereka, terutama tentang fatherlessnes.

    “Saat ini dikerjakan, rasanya drain out of energy dan itu bukan cuma aku. Jadi kita ngerjainnya sempat ada di fase di mana kita ngerasa udah kayak zombie,” lanjutnya.

    Nadin tak menampik setelah akhirnya album ini akhirnya resmi dirilis pada 28 Agustus 2026, ia langsung merasa lega. Namun di sisi lain, beberapa orang lainnya masih harus berjuang pulih.

    “Habis rilis rasanya aku udah jauh lebih lega. Tapi temen-temenku yang lain masih belum recover,” lanjutnya.

    Bukan cuma soal fatherlessness, Nadin Amizah juga membagikan cerita di balik salah satu lagu dalam album Laika, Yang Ditinggalkan yang juga menguras emosinya karena terinspirasi dari banjir besar yang melanda Jakarta pada 2020 lalu. Menurut cerita Nadin, saat itu, rumahnya yang berada di sekitar Banjir Kanal Timur (BKT) turut terdampak. Di tengah situasi itu, ia mendengar kabar tentang jenazah tanpa identitas yang ditemukan di sekitar BKT dan tidak ada orang yang datang mencarinya.

    Kisah tersebut membuat Nadin membayangkan betapa menyedihkannya jika seseorang meninggal dunia tanpa ada yang mengetahui identitasnya, bahkan tidak ada satu pun orang yang datang untuk mencari keberadaannya.

    “Tidak ada yang tahu itu siapa, tidak ada yang mencari juga, tidak ada yang tahu namanya. Jadi kayak aku merasa, ‘Ya Allah, sesepi apa hidup kamu,” lanjut Nadin Amizah dengan nada emosional.

    Perasaan sepi dan pilu yang muncul setelah mengetahui kabar itulah yang kemudian dituangkan Nadin ke dalam lagu “Ditemukan Sebuah Bangkai”.

  3. 3. Akui jauh lebih bebas dan berani eksplorasi suara

    Potret Nadin Amizah dalam dokumentasi Sorai, dengan fokus pada wajah serta penampilannya secara dekat.
    potret Nadin Amizah (dok. Sorai)

    Meski album ini melewati proses penggarapan yang cukup berat, Nadin juga merasa dirinya justru menjadi lebih bebas dan berani dalam mengeksplorasi suara. Pengalamannya selama sembilan tahun berkarier sebagai penyanyi membuat Nadin semakin detail dalam menentukan sound dan proses produksi album.

    “Aku merasa di album ini aku jauh lebih bebas dan jauh lebih berani dalam segi technical sound-nya, technical production-nya. Dan mungkin pengalaman dari sudah 9 tahun bernyanyi juga. Jadi saat aku mem-produce album ini, aku lebih detail perihal suara, perihal sound, dan juga lain-lainnya di album ini.”

    Gak tanggung-tanggung, di balik pengerjaan album ini, Nadin Amizah bahkan sampai melibatkan 10 produser, termasuk Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, Otta Tarega, hingga Feby Putri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More