Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ngabuburit di Lokasi Syuting Para Pencari Tuhan Jilid 19, Kru Ramah Banget!

Ngabuburit di Lokasi Syuting Para Pencari Tuhan Jilid 19, Kru Ramah Banget!
potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Intinya Sih

  • Kunjungan ke lokasi syuting Para Pencari Tuhan Jilid 19 memperlihatkan semangat kru dan pemain yang tetap profesional.

  • Kru produksi menunjukkan keramahan luar biasa, sementara wawancara dengan Co-Director Rio Saputra mengungkap filosofi kerja tim yang menekankan kejujuran dan nilai syiar dibanding sekadar mengejar rating.

  • Wawancara eksklusif dengan Deddy Mizwar berlangsung hangat dan santai, menyoroti konsistensinya memproduksi sinetron Ramadan serta idealisme tim dalam mengangkat isu sosial secara relevan dan bermakna.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ini pengalaman saya berkunjung ke lokasi syuting sinetron legendaris Para Pencari Tuhan (PPT). Meski sempat diliputi rasa deg-degan, karena maklum, ini adalah pengalaman pertama saya datang langsung ke lokasi syuting, antusiasmenya tetap terasa lebih besar.

Biasanya hanya menonton dari layar kaca, kini akhirnya bisa menyaksikan secara langsung proses produksi sinetron yang selama bertahun-tahun setia menemani perjalanan Ramadan masyarakat Indonesia, termasuk saya.

Sebenarnya, tujuan awal saya adalah janjian untuk melakukan wawancara khusus dengan Pak Haji Deddy Mizwar di kantor production house-nya yang berlokasi di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Namun ternyata, pada hari tersebut sedang ada proses syuting Para Pencari Tuhan Jilid 19 di kantornya. Tanpa pikir panjang, saya pun memutuskan untuk datang lebih awal.

Liputan di sore hari pada bulan Ramadan, agenda ini pun terasa seperti ngabuburit spesial bagi saya.

1. Etos kerja kru dan pemain bikin salut

potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026)
potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Hari itu, Selasa (24/2/2026), saya tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB. Begitu menginjakkan kaki di depan kantor production house Pak Haji, perhatian saya langsung tertuju pada deretan ruko yang berdiri tepat di seberangnya. Ruko itulah yang disulap menjadi set pengambilan gambar.

Di sana, para kru tampak sibuk berlalu-lalang membawa peralatan. Ada yang mengangkat properti, ada yang fokus mengatur posisi kamera, dan ada juga yang sibuk memastikan detail set karena mereka akan memulai proses syuting. Hal ini pun membangkitkan semangat saya untuk melihat lebih dekat sambil merekam momen langka tersebut dengan kamera ponsel. Saat itu, saya gak sendiri. saya juga disambut oleh manajer Pak Haji yang super helpful mengenalkan saya pada kru produksi.

Di tengah persiapan syuting tersebut, gerimis sempat turun secara perlahan. Rintiknya memang tak deras, tapi cukup membuat saya berpikir, “Apakah syuting akan ditunda?” Ternyata tidak. Saat itu, gak ada wajah panik maupun keluhan yang terdengar. Baik kru maupun pemain tetap fokus untuk melanjutkan proses pengambilan gambar.

Di tengah situasi ini, saya pun menyadari bahwa apa yang selama ini terlihat sederhana di televisi, ternyata juga melalui proses panjang dan merupakan hasil kerja keras banyak orang. Salut banget sama etos kerja mereka!

2. Kru Para Pencari Tuhan Jilid 19 ramah bintang lima!

potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026)
potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Seperti yang sudah saya ceritakan, ini adalah pengalaman pertama saya datang langsung ke lokasi syuting. Ditambah lagi karena saya datang sendirian, jadi jujur saja, saya sempat merasa canggung di awal. Saya juga sempat bingung harus berdiri di mana, menyapa siapa, hingga takut mengganggu jalannya produksi.

Tapi perasaan-perasaan tersebut langsung hilang setelah saya bergabung lebih dekat. Meski semuanya tampak sibuk dan fokus dengan tugas masing-masing, namun mereka tetap menyapa dengan ramah. Bahkan, saya yang awalnya hanya dijadwalkan wawancara dengan Deddy Mizwar mendapat kesempatan tambahan untuk berbincang langsung dengan Co-Director, Rio Saputra.

Walau hanya berlangsung sekitar 20 menit, wawancara ini terasa sangat membekas. Kami mengobrol santai di balik layar pratinjau utama yang menampilkan adegan secara real time. Dari layar tersebut, saya melihat aktor Julian Kunto tengah menjalani adegan, dengan di atas monitor tertempel kertas bertuliskan, “Revisi,” menunjukkan bahwa dalam proses kreatif, perbaikan merupakan hal yang lumrah.

Di depan layar tersebut, Rio antuasias bercerita banyak hal. Mulai dari bagaimana eksekusi visual Para Pencari Tuhan diproduksi dengan pendekatan ala layar lebar, hingga prinsip kerja tim produksi yang lebih mengedepankan kejujuran dalam berkarya. Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan dengan hati dan sebagai syiar, jauh lebih penting daripada sekadar mengejar rating. Karena di sisi lain, Deddy Mizwar juga tidak pernah memberikan tekanan rating kepada tim.

3. Jadi aktor ternyata gak segampang itu

potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026)
potret suasana di lokasi syuting PPT Jilid 19, Selasa (24/2/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Kerja sambil ngabuburit di lokasi syuting ini rasanya seperti memberikan banyak pembelajaran. Salah satunya bahwa apa yang terlihat simple, belum tentu sesederhana itu. Hal ini saya rasakan saat melihat Julian Kunto (Pemeran Jereng) dan Samuel Imanuel (Pemeran Malak) yang harus mengulang adegan mereka beberapa kali.

Bukan karena dialog yang salah, tetapi karena ada begitu banyak detail lain yang diperhatikan, seperti gestur tangan, arah pandangan, hingga posisi tubuh. Semua detail tersebut bahkan dipantau oleh banyak kru dari berbagai sudut, lho.

Dan yang membuat saya semakin kagum, baik Julian maupun Samuel, keduanya tetap bisa menjaga mood mereka untuk kembali ke posisi awal dengan ekspresi siap berakting lagi, meski harus beberapa kali diulang.

Selain itu, saya juga cukup salfok ketika melihat mereka tidak berdialog langsung dengan lawan main, melainkan berbicara ke arah kamera. Sebagai “penonton biasa”, membayangkannya saja sudah terasa awkward. Tapi bagi mereka, tentu hal tersebut bagian dari profesionalitas. Gokil, sih!

4. Terharu karena juga disajikan berbagai menu buka puasa

potret suasana kantor PH Deddy Mizwar, Selasa (24/2/2026)
potret suasana kantor PH Deddy Mizwar, Selasa (24/2/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Setelah cukup puas menyaksikan kesibukan di set produksi, menjelang Magrib, sekitar pukul 17.52 WIB, saya bergeser ke tujuan utama saya, yaitu ke kantor production house Deddy Mizwar.

Saat itu, saya disajikan dengan berbagai menu berbuka puasa, seperti teh hangat, pudding, bubur sumsum, hingga nasi kotak yang tampak lezat. Sederhana, memang. Namun, justru membuat saya merasa terharu dan tersentuh.

5. Wawancara sama Pak Haji ternyata gak semenegangkan itu!

potret Deddy Mizwar
potret Deddy Mizwar (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Setelah berbuka puasa, saya kemudian diantar menuju ruang kerja Deddy Mizwar. Ruangannya cukup sederhana, tapi terasa sangat mewah, karena di setiap sudutnya terpajang piagam dan penghargaan Pak Haji selama perjalanan kariernya.

Deretan piagam penghargaan Piala Citra yang bergengsi pun berjejer rapi, menjadi saksi perjalanan panjang karier sang aktor legendaris di dunia perfilman dan pertelevisian. Saat itu, saya juga gagal fokus melihat pajangan sertifikat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang mencatat Para Pencari Tuhan sebagai Serial Religi Ramadan Berkelanjutan Terlama. Wah, rasanya gak cuma takjub, tapi juga ikutan bangga.

Sambil menunggu Pak Haji, saya terlebih dahulu berbincang dengan penulis naskah Para Pencari Tuhan, Amiruddin Olland. Ia tampak begitu antusias saat menceritakan tentang konsistensi mereka dalam mengangkat isu sosial sebagai ide cerita sinetron tersebut. Sebagaimana diketahui, Para Pencari Tuhan memang tak jarang menyentil isu sosial, termasuk isu politik yang cukup sensitif. Bahkan salah satu episode terbarunya sempat viral karena menyinggung janji 19 juta lapangan pekerjaan.

Nah, dalam kesempatan tersebut, Amiruddin menegaskan bahwa mereka tidak pernah melihat seberapa berisiko sebuah isu, tetapi seberapa penting isu tersebut untuk diangkat.

“Kalau memang isu itu penting untuk diangkat, kita gak berpikir tentang resiko,” katanya dengan nada yang tenang sambil tersenyum.

Bagi tim Para Pencari Tuhan, sinetron ini bukan sekadar tontonan yang menghibur, melainkan juga menjadi media syiar sekaligus pengingat. Bukan hanya untuk penonton, tetapi juga bagi para pengampu kebijakan.

Sekitar 15 menit kemudian, Pak Haji akhirnya bergabung. Ia datang dengan santai. Sementara saya? Deg-degan, tentu saja. Ini pertama kalinya saya bertemu dan mewawancarai sang legenda secara langsung.

Jadi, wawancara kami dimulai sekitar pukul 19.15 WIB. Seiring dengan berjalannya obrolan kami, perasaan deg-degan saya langsung menghilang. Sama seperti kru yang saya temui sebelumnya, Pak Haji juga menyapa dengan hangat.

Saat itu, ia duduk di hadapan saya dan penulis naskah. Sambil menaruh kacamatanya di atas meja, ia pun memulai obrolan dengan suasana yang santai dan gak terasa 40 menit berlalu begitu saja. Jauh dari kesan kaku atau formal, wawancara bersama Pak Haji ini justru terasa seru, karena ia banyak melempar candaan yang mencairkan suasana. Saat itu, kami membahas tentang konsistensinya memproduksi sinetron Ramadan, proses kreatif di balik Para Pencari Tuhan, hingga proyek lain seperti Lorong Waktu 2.

Malam itu, saya pun pulang dengan perasaan penuh kesan. Bukan hanya karena wawancara eksklusif bersama Pak Haji berjalan lancar, tetapi juga karena menyaksikan langsung dedikasi dan idealisme hingga menerima sambutan yang hangat dari orang-orang di balik layar Para Pencari Tuhan.

Kamu bisa baca wawancara selengkapnya di artikel-artikel IDN Times, ya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More