potret Deddy Mizwar (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Setelah berbuka puasa, saya kemudian diantar menuju ruang kerja Deddy Mizwar. Ruangannya cukup sederhana, tapi terasa sangat mewah, karena di setiap sudutnya terpajang piagam dan penghargaan Pak Haji selama perjalanan kariernya.
Deretan piagam penghargaan Piala Citra yang bergengsi pun berjejer rapi, menjadi saksi perjalanan panjang karier sang aktor legendaris di dunia perfilman dan pertelevisian. Saat itu, saya juga gagal fokus melihat pajangan sertifikat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang mencatat Para Pencari Tuhan sebagai Serial Religi Ramadan Berkelanjutan Terlama. Wah, rasanya gak cuma takjub, tapi juga ikutan bangga.
Sambil menunggu Pak Haji, saya terlebih dahulu berbincang dengan penulis naskah Para Pencari Tuhan, Amiruddin Olland. Ia tampak begitu antusias saat menceritakan tentang konsistensi mereka dalam mengangkat isu sosial sebagai ide cerita sinetron tersebut. Sebagaimana diketahui, Para Pencari Tuhan memang tak jarang menyentil isu sosial, termasuk isu politik yang cukup sensitif. Bahkan salah satu episode terbarunya sempat viral karena menyinggung janji 19 juta lapangan pekerjaan.
Nah, dalam kesempatan tersebut, Amiruddin menegaskan bahwa mereka tidak pernah melihat seberapa berisiko sebuah isu, tetapi seberapa penting isu tersebut untuk diangkat.
“Kalau memang isu itu penting untuk diangkat, kita gak berpikir tentang resiko,” katanya dengan nada yang tenang sambil tersenyum.
Bagi tim Para Pencari Tuhan, sinetron ini bukan sekadar tontonan yang menghibur, melainkan juga menjadi media syiar sekaligus pengingat. Bukan hanya untuk penonton, tetapi juga bagi para pengampu kebijakan.
Sekitar 15 menit kemudian, Pak Haji akhirnya bergabung. Ia datang dengan santai. Sementara saya? Deg-degan, tentu saja. Ini pertama kalinya saya bertemu dan mewawancarai sang legenda secara langsung.
Jadi, wawancara kami dimulai sekitar pukul 19.15 WIB. Seiring dengan berjalannya obrolan kami, perasaan deg-degan saya langsung menghilang. Sama seperti kru yang saya temui sebelumnya, Pak Haji juga menyapa dengan hangat.
Saat itu, ia duduk di hadapan saya dan penulis naskah. Sambil menaruh kacamatanya di atas meja, ia pun memulai obrolan dengan suasana yang santai dan gak terasa 40 menit berlalu begitu saja. Jauh dari kesan kaku atau formal, wawancara bersama Pak Haji ini justru terasa seru, karena ia banyak melempar candaan yang mencairkan suasana. Saat itu, kami membahas tentang konsistensinya memproduksi sinetron Ramadan, proses kreatif di balik Para Pencari Tuhan, hingga proyek lain seperti Lorong Waktu 2.
Malam itu, saya pun pulang dengan perasaan penuh kesan. Bukan hanya karena wawancara eksklusif bersama Pak Haji berjalan lancar, tetapi juga karena menyaksikan langsung dedikasi dan idealisme hingga menerima sambutan yang hangat dari orang-orang di balik layar Para Pencari Tuhan.
Kamu bisa baca wawancara selengkapnya di artikel-artikel IDN Times, ya.