WANSUS Deddy Mizwar, Konsisten Bikin Sinetron Ramadan Demi Syiar yang Menghibur

Deddy Mizwar konsisten memproduksi sinetron Ramadan karena ingin menanamkan nilai religius melalui karya seperti Para Pencari Tuhan Jilid 19 dan Lorong Waktu 2 dengan konsep menarik namun tetap bermakna.
Ia menegaskan setiap sinetronnya harus merefleksikan fenomena sosial agar penonton merasa dekat, melalui riset dan diskusi mendalam tanpa menyinggung pihak mana pun.
Meski sarat pesan agama dan isu sosial, Deddy memastikan karyanya tetap menghibur dengan karakter kuat, sentuhan komedi, serta tanpa tekanan rating dalam proses kreatifnya.
Jakarta, IDN Times - Senang sekali rasanya bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif bersama Deddy Mizwar di kantor production house-nya di bilangan Jakarta Timur, Selasa (24/2/2026). Ruangan tempat kami berbincang tidak terlalu besar, tapi buat saya yang pertama kali berkunjung, rasanya bikin hati penuh.
Sudut-sudut tembok dipenuhi pajangan penghargaan yang menjadi saksi perjalanan panjang karier seorang Deddy Mizwar di industri hiburan. Menapaki ruangan ini serasa sedang menyusuri jejak pencapaian sang legenda selama bertahun-tahun.
Wawancara kami dimulai sekitar pukul 19.15 WIB selepas buka puasa. Perbincangan mengalir santai, karena aktor kawakan yang akrab disapa Pak Haji ini banyak melempar candaan yang mencairkan suasana. Dalam kesempatan ini, kami banyak mengobrol soal konsistensi Pak Haji dalam memproduksi sinetron-sinetron Ramadan dari tahun ke tahun. Deddy Mizwar menegaskan, fokus utamanya adalah menghadirkan konten syiar agama dengan cara yang menarik dan menghibur.
1. Nilai religius jadi alasan utama Deddy Mizwar konsisten memproduksi sinetron Ramadan

Deddy Mizwar begitu konsisten dalam memproduksi sinetron Ramadan, karena identik dengan nilai-nilai religius. Menurutnya, Ramadan merupakan momen yang tepat untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut lewat sinetron.
“Sinetron Ramadan kan identik dengan nilai-nilai religius. Jadi ada nilai itu,” kata Deddy Mizwar saat ditemui di kantor production house miliknya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Tahun ini, Deddy memproduksi dua sinetron Ramadan, yaitu Para Pencari Tuhan Jilid 19 dan Lorong Waktu 2. Sesuai dengan visi yang ia jaga sejak awal, kedua sinetron tersebut tetap digarap dengan nilai-nilai religius, meski konsep dan format ceritanya berbeda.
“Kalau PPT, diangkat dari fenomena sosial yang ada di masyarakat, sementara Lorong Waktu waktu, ya fiksi. Yang kali ini PPT kan bukan cerita anak-anak, tapi ceritanya tentang masalah anak-anak. Nah, kalau Lorong Waktu, memang itu dunia anak-anak,” lanjutnya.
2. Tegaskan isu sosial yang diangkat ke dalam sinetronnya harus merefleksikan kondisi masyarakat

Berbicara mengenai karya-karya Deddy Mizwar memang nyaris tak pernah lepas dari isu sosial. Sejak awal kariernya hingga kini, ia konsisten menjadikan realitas masyarakat sebagai napas utama dalam setiap karyanya, terutama lewat sinetron Para Pencari Tuhan. Bagi Deddy Mizwar, setiap peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat perlu direfleksikan ke dalam karya agar penonton merasa dekat dan terwakili.
“Dari fenomena sosial yang ada pada saat itu. Itu yang harus kita refleksikan, supaya penonton merasa relate dengan keadaannya dan terwakilkan.”
Aktor, sutradara, dan produser berusia 70 tahun tersebut menjelaskan bahwa proses merefleksikan fenomena sosial sebagai ide cerita sinetron Para Pencari Tuhan pun gak sesederhana yang dibayangkan. Ia dan timnya harus melakukan riset hingga diskusi yang panjang agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang merasa tersakiti.
“Contohnya, masalah Indonesia gelap dan lain-lain. Dari situ kita kemas dengan cerita dan tokoh-tokohnya yang berbeda. Sederhana sebenarnya, cuma untuk meramu dalam sebuah ceritanya yang tidak sederhana. Ini dibutuhkan diskusi yang panjang. Kerap ada revisi seperti, ‘Ini terlalu kencang nih, revisi deh.’ Tapi intinya tetap sama,” kata Deddy Mizwar sambil tertawa.
“Ini kan bukan karya-karya pamflet. Bukan sekadar ngomong buat orang sakit hati. Tapi untuk menghibur dan mewakili suara masyarakat yang tidak pernah tersampaikan," tambahnya.
Nah, sejalan dengan penjelasan Deddy Mizwar, penulis naskah Amiruddin Olland yang ikut duduk bersama dalam wawancara ini menambahkan, isu sosial yang diangkat ke sinetron Para Pencari Tuhan bukan bermaksud untuk merundung pemerintah, melainkan untuk mengingatkan para pengampu kebijakan akan tanggung jawab mereka. Ia kemudian mencontohkan isu anak-anak jalanan, seperti yang tertuang dalam Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 dan kemudian diangkat ke Para Pencari Tuhan Jilid 19.
“Khusus untuk PPT jilid ke-19 ini tentang bagaimana anak jalanan itu sudah diperlakukan oleh pemerintah? Sejauh mana pemerintah itu concern terhadap mereka?” tambahnya.
3. Pastikan tetap dikemas dengan cara yang menarik dan menghibur

Walaupun mengandung nilai-nilai religius dan mengangkat isu sosial, Deddy Mizwar tetap memastikan bahwa karyanya disampaikan dengan cara yang menarik sehingga penonton tidak hanya memeroleh pesan yang bermakna, tetapi juga merasa terhibur.
“Kalau mau nonton yang semuanya unsur agama, ya nonton aja ceramahan. Tapi kan ini bukan ceramahan. Ini tontonan, mesti ada usur cerita yang kuat, karakter yang kuat. Tapi unsur agama tetap harus ada, karena setiap langkah kita memang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama,” lanjutnya.
Deddy Mizwar kemudian menjelaskan bahwa setiap karyanya memiliki porsi komedi yang berbeda. Ada yang lebih menonjolkan unsur kelucuan serta ada juga yang lebih menekankan pada cara menyampaikan pesan agama secara menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Ada yang punya nilai kelucuannya tinggi, tapi ada juga yang bagaimana mengemas agama disampaikan dengan cara yang menarik.”
Nah, dalam wawancara yang berlangsung selama kurang lebh 40 menit tersebut, saya juga bertanya soal rating. Menurutnya, tidak ada tekanan rating yang memengaruhi idealismenya dalam berkarya.
“Masalah rating itu bukan urusan kita. Itu kan urusan pabrik survei. Jadi gak ada tekanan.”
Ia menegaskan bahwa fokus utamanya hanya menciptakan sinetron Ramadan yang memuat nilai-nilai religius dan isu sosial, tapi tetap dikemas secara menarik agar penonton merasa terhibur sekaligus mendapatkan pesan yang bermakna. Tunggu cerita lain dari wawancara dengan Deddy Mizwar, ya.

















