5 Pasang Film Double Feature Seni Bela Diri Asia

- Judo: Throw Down (2004) dan Tatami (2023)
- Tinju: 100 Yen Love (2014) dan Shark: The Beginning (2021)
Ada banyak film seni bela diri yang dibuat sineas Asia. Apalagi kalau kamu menilik era 1970—1990-an. Fist of Fury (1972) dan Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) adalah beberapa contohnya. Namun, kalau mau coba menelusuri film bela diri yang beda, masih kurang apresiasi, dan mungkin terlewat dari radar, boleh coba 5 pasang film double feature berikut.
Dikurasi berdasar kategori seni bela diri paling populer, siap-siap terkesima dengan aksi dan plotnya yang menawan. Saatnya supremasi film Asia kembali, nih.
1. Judo: Throw Down (2004) dan Tatami (2023)

Kalau mengaku penggemar olahraga judo, coba tonton dua film Asia yang rilis dengan selisih 2 dekade, Throw Down dan Tatami. Film pertama berlatarkan Hong Kong dan mengulik kisah 3 orang tak saling kenal yang takdirnya bersilangan pada satu malam, mereka adalah Sze-to (Louis Koo), mantan atlet judo profesional yang kini jadi pengelola karaoke, seorang perempuan yang bekerja di karaoke itu dan berada dalam bahaya, serta sesosok atlet judo muda yang merupakan penggemar berat Sze To. Film kedua, Tatami menyoal dilema atlet judo Iran (Arienne Mandi)yang diancam keselamatannya saat negaranya tahu ia bakal bertanding melawan atlet asal Israel di kejuaraan internasional.
2. Tinju: 100 Yen Love (2014) dan Shark: The Beginning (2021)

Ada banyak film Asia yang memakai tinju sebagai tema utamanya. Namun, kalau harus pilih 2 film yang masih minim apresiasi, 100 Yen Love dari Jepang dan Shark: The Beginning asal Korsel bisa jadi prioritas. Mereka unik dari banyak sisi. Film pertama memakai POV perempuan muda yang dicap pemalas oleh keluarganya, mengalami beberapa kemalangan, dan akhirnya menemukan dirinya setelah gak sengaja bergabung dengan klub tinju lokal. Shark: The Beginning juga punya plot yang memuaskan, yakni keputusan seorang remaja korban bully meminta mantan petinju profesional jadi mentornya untuk membela diri.
3. Karate: Lady Snowblood (1973) dan The Empty Hands (2017)

Kamu harus coba film-film karate berlakon perempuan ini, deh. Lady Snowblood adalah film yang bakal bikin film revans populer terasa biasa saja. Ia mengikuti petualangan seorang perempuan muda membalas dendam kepada kelompok kriminal yang sudah menghancurkan keluarganya. The Empty Hands bakal membawamu melakoni transformasi spiritual serta fisik seorang perempuan yang diwarisi dojo oleh ayahnya dan mau tak mau harus berdamai dengan masa lalunya.
4. Kung Fu: House of Flying Daggers (2004) dan Chocolate (2008)

Seni bela diri asal China, Kung Fu sebenarnya sudah sering diadaptasi dalam film. Namun, kalau mau yang beda dan dramanya dapat, coba House of Flying Daggers yang visual dan koreografinya memanjakan mata. Ia sebenarnya cukup berat di elemen drama cinta segitiga, tetapi cukup unik dan susah ditebak. Lanjut dengan menonton Chocolate, sebuah film revans berlatar Thailand yang koreografinya pun layak diacungi jempol. Kamu bakal mengikuti perjalanan perempuan dengan kondisi autis yang melakukan balas dendam untuk ibunya. Gaya berkelahi si lakon adalah perpaduan Muay Thai dengan Kung Fu.
5. Gulat: Dangal (2016) dan Rikidozan: A Hero Extraordinaire (2004)

Kalau bicara film gulat, susah memang buat tidak menghiraukan film India berjudul Dangal. Ia adalah film yang begitu menggugah dan progresif mengingat ia mendobrak stigma soal perempuan dan keterlibatannya dalam olahraga bela diri ini. Apalagi konteksnya pedesaan India yang cenderung konservatif. Tema serupa tapi tak sama diusung Rikidozan, yakni biopik atlet sumo Jepang keturunan Korea (dikenal dengan istilah zainichi) yang baru dapat apresiasi layak setelah ia berkarier di luar negeri.
Seni bela diri memang punya daya pikat sendiri saat diusung dalam film. Keberadaannya menambah keseruan dan estetika, apalagi kalau plotnya pun mendukung alias kompleks dan unik. Sudah nonton yang mana saja, nih? Boleh juga bagikan kalau kamu punya rekomendasi lainnya.


















