Pengalaman Nonton Konser Ye di SUGBK: Produksi Panggungnya Spektakuler

- Konser Ye di SUGBK pada 24 Oktober 2026 dipadati penggemar lokal dan mancanegara, dengan suasana festival luas, nyaman, serta interaksi lintas negara sebelum pertunjukan.
- Ye membuka penampilan pukul 21.00 WIB lewat “King” dan membawakan sejumlah hit, sementara penonton tetap bernyanyi serta berjoget meski interaksi verbalnya minim.
- Globe Stage, LED raksasa, laser, proyeksi, kabut, dan kembang api menjadi sorotan produksi visual; namun, kualitas vokal dan musik dari area festival dilaporkan kurang jelas.
Jakarta, IDN Times - Konser musisi internasional di Jakarta memang selalu memiliki daya tarik tersendiri. Namun, pengalaman menonton konser Ye alias Kanye West di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (24/10/2026) malam terasa sangat berbeda. Bukan hanya karena suasana konser yang terasa seperti pertunjukan di luar negeri dengan kehadiran para penggemar dari berbagai negara, tapi juga karena kemegahan panggungnya.
Ye sendiri dijadwalkan tampil pukul 21.00 WIB. Kendati demikian, sekitar pukul 18.30 WIB, kawasan SUGBK sudah mulai dipadati oleh penonton mancanegara yang tampil dengan outfit terbaik mereka. Nah, menariknya, sejumlah penggemar dari luar negeri tersebut juga tampak gak ragu untuk membaur dengan suasana lokal, lho.
Salah satu momen yang cukup mencuri perhatian saya adalah ketika mereka ikut bergabung dengan rombongan Saykoji yang asyik berkeliling SUGBK sambil memainkan instrumen musik. Pemandangan tersebut membuat suasana menjelang konser terasa semakin meriah, seolah mempertemukan penggemar dari berbagai negara dalam satu perayaan musik.
Sekitar pukul 20.20 WIB, saya pun mulai memasuki area venue. Gokil! Begitulah kesan pertama saya saat tiba di area festival. Bagaimana tidak? Globe Stage Ye sudah berdiri gagah tepat di tengah stadion.
Karena ini merupakan pengalaman pertama saya menyaksikan konser Ye secara langsung, jadi ada antusiasme tersendiri saat akhirnya bisa melihat panggung ikonik tersebut dari dekat. Di sisi lain, tepat di belakang saya, terdapat LED raksasa yang memungkinkan penonton untuk melihat ekspresi sang rapper dengan lebih jelas, sekaligus menambah kemegahan visual di tengah pertunjukan.
Karena digelar di stadion besar, area festival pun masih terasa cukup luas sehingga penonton bisa bersantai dengan duduk lesehan sambil menunggu pertunjukan dimulai. Menurut saya, suasana malam itu terasa cukup adem. Padahal, belakangan ini Jakarta terasa sangat panas, bahkan pada malam hari.
1. Tanpa basa-basi, Ye langsung buka penampilan di Jakarta lewat “King”, penonton auto histeris

suasana konser Ye di SUGBK, Jakarta, Sabtu (24/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Meski awalnya terasa cukup santai, suasana mulai berubah ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Teriakan dan tepuk tangan penonton menggema, menandakan Ye akan segera muncul. Saat lampu panggung padam, penonton yang sebelumnya duduk santai langsung berdiri dan merapat ke area panggung untuk mencari posisi terbaik. Di sisi lain, gak sedikit juga yang mengangkat ponsel, bersiap mengabadikan detik-detik kemunculan sang rapper.
Perhatian semua orang pun tertuju pada Globe Stage yang berdiri megah di tengah stadion. Instalasi berbentuk bola dunia raksasa itu perlahan menyala hingga akhirnya Ye muncul. Tanpa basa-basi, Ye langsung membuka penampilannya dengan membawakan lagu “King”. Kehadiran Ye ini pun langsung disambut teriakan histeris dari berbagai arah.
Sepanjang penampilannya, Ye tampil enerjik membawakan deretan lagu hit-nya. Saat “Heartless” dimainkan, penonton pun tampak menikmati lagu tersebut dan asyik bernyanyi bersama. Momen sing along juga terasa ketika Ye membawakan “Homecoming”. Gak cuma itu, ketika “Father” dimainkan, tangan-tangan penonton terlihat melambai mengikuti irama. Sementara itu, penampilan enerjik Ye membawakan lagu “Famous” dan “EVERYBODY” sukses memanaskan suasana di area festival.
Menariknya, di tengah riuhnya suasana konser, Ye konsisten tampil tanpa basa-basi. Sepanjang pertunjukan, ia nyaris gak menyapa penonton atau mengajak mereka berbincang di sela-sela lagu. Ye seolah membiarkan musik, tata panggung, dan visual spektakuler menjadi cara utama untuk berkomunikasi dengan para penggemarnya.
Meski begitu, minimnya interaksi tersebut gak lantas membuat suasana konser terasa hambar. Begitu lagu-lagu hit Ye dimainkan, penonton tetap larut dalam keseruan masing-masing. Malam itu, musik pun terasa menjadi seperti penghubung antara Ye dan penggemarnya, meski tanpa banyak kata yang terucap.
2. Produksi panggung spektakuler, Globe Stage dan permainan cahaya terasa surealis!

suasana konser Ye di SUGBK, Jakarta, Sabtu (24/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Jika diminta memilih satu hal yang paling berkesan dari konser “Ye Live in Jakarta”, jawaban saya tentu produksi panggungnya. Sejak Globe Stage berbentuk bola dunia raksasa itu mulai menyala, perhatian penonton seolah langsung tersedot ke tengah stadion.
Sepanjang konser, suasana terasa hidup berkat perpaduan musik, permainan tata cahaya, laser, dan tembakan kembang api. Saat “CARNIVAL” dimainkan, misalnya, dentuman musik berpadu dengan kembang api yang meledak bertubi-tubi. Kilatan cahaya menyelimuti area panggung, sementara asap yang mengepul membuat cahaya keemasan terlihat semakin dramatis. Rasanya sulit untuk sekadar berdiri diam dan menikmati musik tanpa sesekali mengalihkan pandangan ke pertunjukan visual yang tersaji di depan mata.
Menariknya, bukan hanya kembang api yang membuat saya terpukau. Permainan laser di sepanjang pertunjukan juga terasa gokil. Dari area festival, saya bisa melihat puluhan garis cahaya saling bersilangan di udara, membentuk pola yang seolah tak berujung. Sorotan laser berwarna putih dan keunguan menembus kabut, menciptakan dimensi visual yang membuat stadion terasa seperti ruang antariksa. Apalagi, ketika proyeksi permukaan Bumi muncul di Globe Stage, Ye tampak seperti sedang berdiri di atas planet yang melayang di tengah kegelapan.
Pemandangan ini terasa semakin surealis saat permainan visual berubah mengikuti lagu. Globe Stage yang awalnya menampilkan permukaan Bumi seolah membawa penonton menjelajahi luar angkasa melalui proyeksi yang terus berubah. Perpaduan visual planet, kabut, laser, dan pencahayaan dramatis pun membuat saya sesekali merasa seperti sedang berada di galaksi, bukan di tengah SUGBK.
Momen lain yang gak kalah membekas terjadi ketika “Stronger” dimainkan. Saat itu, saya sempat merasa pusing karena Globe Stage terlihat seperti berputar begitu cepat, sementara Ye tetap berdiri di atasnya dan melanjutkan penampilan. Sensasinya cukup intens sampai saya merasa seolah-olah seluruh panggung sedang bergerak tepat di hadapan saya. Padahal, efek yang terlihat begitu dramatis itu juga dipengaruhi oleh ilusi visual dari rotasi panggung, perubahan proyeksi, dan permainan cahaya yang mengelilinginya.
Alhasil, panggung konser Ye ini terasa bukan sekadar tempat untuk bernyanyi saja, melainkan bagian dari pertunjukan yang membangun pengalaman visual imersif, yang mana penonton tidak hanya melihat Ye tampil dari kejauhan, tetapi juga diajak masuk ke dalam atmosfer yang terus berubah sepanjang konser.
Menariknya, semua kemegahan visual itu tetap berjalan beriringan dengan antusiasme penonton. Meski Ye minim interaksi, penonton tetap bernyanyi, berjoget, hingga melompat mengikuti irama. Bahkan, ketika Ye akhirnya meninggalkan panggung tanpa sepatah atau dua patah kata, suasana di SUGBK gak langsung berakhir. Musik masih menggema, penonton masih menikmati momen mereka, dan Globe Stage tetap menyala terang. Bagi saya, pemandangan tersebut menjadi penutup yang unik karena meski sang rapper sudah gak terlihat, energi konsernya justru masih terasa di tengah stadion.
3. Serba-serbi penonton, beberapa terlihat membawa bendera negara asal hingga Palestina

suasana konser Ye di SUGBK, Jakarta, Sabtu (24/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Kehadiran penggemar Ye dari berbagai negara membuat saya merasa seperti sedang menonton konser di luar negeri. Bagaimana tidak? Di berbagai sudut SUGBK, saya melihat banyak penonton mancanegara yang datang untuk menyaksikan penampilan Ye secara langsung. Beberapa di antaranya bahkan sampai membawa bendera negara asal mereka, termasuk Singapura. Gak cuma itu, bendera Palestina pun juga terlihat di antara kerumunan dan menjadi salah satu pemandangan yang cukup mencuri perhatian.
Suasana internasional konser tersebut juga terasa semakin kuat dengan beragam bahasa asing yang terdengar di area festival. Para penonton mancanegara juga tampak antusias memenuhi area depan panggung untuk melihat penampilan Ye lebih dekat, bernyanyi hingga moshing mengikuti irama musik. Oh ya, sebelum masuk ke venue, saya sempat mewawancarai beberapa penonton asing secara acak. Menariknya, kebanyakan dari mereka yang saya temui ternyata berasal dari Australia, lho.
Di sisi lain, meski dipadati penonton dari berbagai negara, suasana di area festival tetap terasa cukup santai. Area yang luas memungkinkan pengunjung menikmati konser dengan cara masing-masing. Ada yang memilih duduk sambil tetap menikmati konser, sementara yang lain terus bernyanyi dan melompat bersama. Ditambah cuaca malam yang terasa adem, suasana konser pun terasa nyaman untuk dinikmati.
Kendati demikian, dari area festival tempat saya menyaksikan konser, suara vokal Ye dan musik yang mengiringi penampilannya terasa kurang begitu jelas. Hal serupa juga sempat dirasakan oleh beberapa rekan media lainnya. Namun, terlepas dari hal tersebut, kemeriahan konser tetap terasa sepanjang pertunjukan. Ye memang tidak banyak berinteraksi dengan penonton, tapi hal itu tidak mengurangi antusiasme mereka untuk bernyanyi, berjoget, dan menikmati setiap lagu yang dibawakan.



















![[QUIZ] Kamu Cocoknya Jadi Hantu Apa di Halloween Kali ini?](https://image.idntimes.com/post/20261024/l756oaka9n6qnjiffe9mabtm2cc_d61a1abc-0e9d-4570-863a-7762d39bed17.jpg)



