Perankan Ibu Tunawicara, Aghniny Haque spill Metode Akting di Khadam

- Aghniny Haque berperan sebagai Melor, ibu tunawicara yang melindungi anak-anaknya di hutan, dalam film horor Malaysia Khadam (2026).
- Untuk peran ibu pertamanya, Aghniny membangun karakter sejak di Indonesia, berprinsip tidak menghakimi Melor, serta belajar bahasa isyarat dan emosinya selama sekitar dua bulan.
- Aghniny tidak menerapkan method acting ekstrem; ia mendekatkan diri dengan anak-anak pemeran dan mengambil referensi dari cara ibunya, seorang single mom, membesarkannya.
Jakarta, IDN Times - Aghniny Haque kembali ke dunia akting lewat film horor Malaysia, Khadam (2026). Dalam film lintas negara ini, ia berperan sebagai Melor, seorang ibu tunawicara yang harus melindungi anak-anaknya dari berbagai ancaman di tengah hutan.
Peran Melor menjadi pengalaman perdana Aghniny sebagai seorang ibu sekaligus karakter yang tidak mengandalkan dialog verbal untuk menyampaikan emosi. Ia pun menjalani latihan intensif sejak masih berada di Indonesia sebelum berangkat ke Malaysia.
1. Pertama kali perankan sosok ibu, Aghniny Haque bangun karakter dari Indonesia

Aghniny Haque setelah pemutaran film "Khadam" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Aghniny Haque mengaku membutuhkan persiapan yang cukup panjang untuk membangun karakter Melor. Latihan tersebut bahkan sudah dilakukan sejak di Indonesia sebelum proses syuting Khadam dimulai di Malaysia. Baginya, memerankan Melor menjadi pengalaman baru karena untuk pertama kalinya ia harus memainkan karakter seorang ibu sekaligus perempuan tunawicara.
"Jujur aja, untuk memerankan tunawicara dan juga ibu ini baru pertama kali dan rasanya sangat bangga dan beryukur, ternyata seindah itu ya untuk menjadi ibu," ucapnya setelah pemutaran film Khadam di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Dalam membangun Melor, Aghniny memiliki satu prinsip penting, yakni tidak langsung menghakimi karakter yang diperankannya.
"Kuncinya adalah tidak menghakimi karakternya. Meskipun karakternya mungkin suka membuat keputusan tidak sesuai dengan kita, sebagai aktor kita harus mencintai karakternya dulu," ujar Aghniny.
2. Belajar bahasa isyarat selama dua bulan, dan terinspirasi dari ibunya sendiri

Aghniny Haque setelah pemutaran film "Khadam" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Karakter Melor merupakan seorang ibu tunawicara yang hidup pada era 1950-an. Kondisi tersebut membuat bahasa isyarat menjadi salah satu bagian penting dari penampilan Aghniny. Ia pun menjalani latihan intensif. Bukan hanya menghafalkan gerakan bahasa isyarat, Aghniny juga harus memahami emosi yang ingin disampaikan melalui setiap gerakan tersebut.
"Kurang lebih untuk bahasa isyarat ini sekitar dua bulan untuk bisa memahami sign-nya dan juga emosinya Melor, dan juga kedekatan saya dan anak-anak (di film: Puteh dan Hitam)," ungkap Aghniny.
Meski proses pendalaman karakter cukup intens, Aghniny menegaskan bahwa dirinya tidak menggunakan method acting secara ekstrem. Ia justru mencari referensi dari pengalaman personal, terutama dengan melihat kembali cara sang ibu membesarkannya.
"Pertama, aku bilang aku bukan method acting. Mungkin aku masuknya tuh lebih ke pendekatan sama anak-anak aku sih, karena ini bener-bener baru pertama kali aku menjadi ibu dan no clues banget, gitu. Dan aku banyak meninjau dan juga respect bagaimana ibu aku mengasihi aku, karena ibu aku punya beban banyak untuk mengasuh aku karena dia single mom," lanjutnya.
3. Aghniny Haque jatuh cinta dengan Melor saat pertama kali membaca naskah

Aghniny Haque setelah pemutaran film "Khadam" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Kesempatan memerankan Melor ternyata datang secara tidak terduga bagi Aghniny. Ia bahkan tidak menyangka akan mendapatkan karakter tersebut ketika tawaran Khadam datang. Namun, ketertarikannya terhadap Melor mulai terasa setelah membaca naskah secara utuh.
"Pertama kali baca sinopsisnya sih, belum ngerasain gimana-gimana ya. Tapi Ketika pertama kali baca skripnya, aku bener-bener engga bisa bergenti baca. Dari awal sampai akhir, lalu aku ulang lagi," ungkapnya.
Ia kemudian semakin tertarik dengan sosok Melor yang harus menghadapi berbagai keterbatasan tetapi tetap berusaha melindungi anak-anaknya.
"Aku bener-bener tertarik sama karakternya Melor ini. Seorang ibu yang tunawicara, tapi dia juga ingin melindungi anaknya dengan berbagai keterbatasannya. Dan ini juga sebagai salah satu tantangan terbaru yang sebenarnya bikin aku pusing tapi juga seneng menjalaninya," pungkasnya.






















