Aghniny Haque setelah pemutaran film "Khadam" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Karakter Melor merupakan seorang ibu tunawicara yang hidup pada era 1950-an. Kondisi tersebut membuat bahasa isyarat menjadi salah satu bagian penting dari penampilan Aghniny. Ia pun menjalani latihan intensif. Bukan hanya menghafalkan gerakan bahasa isyarat, Aghniny juga harus memahami emosi yang ingin disampaikan melalui setiap gerakan tersebut.
"Kurang lebih untuk bahasa isyarat ini sekitar dua bulan untuk bisa memahami sign-nya dan juga emosinya Melor, dan juga kedekatan saya dan anak-anak (di film: Puteh dan Hitam)," ungkap Aghniny.
Meski proses pendalaman karakter cukup intens, Aghniny menegaskan bahwa dirinya tidak menggunakan method acting secara ekstrem. Ia justru mencari referensi dari pengalaman personal, terutama dengan melihat kembali cara sang ibu membesarkannya.
"Pertama, aku bilang aku bukan method acting. Mungkin aku masuknya tuh lebih ke pendekatan sama anak-anak aku sih, karena ini bener-bener baru pertama kali aku menjadi ibu dan no clues banget, gitu. Dan aku banyak meninjau dan juga respect bagaimana ibu aku mengasihi aku, karena ibu aku punya beban banyak untuk mengasuh aku karena dia single mom," lanjutnya.