Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perbedaan Drama China dan Drama Taiwan, Gak Cuma Bahasa!
poster drama The World Between Us (dok. Da Mu Film & Television/The World Between Us)
  • Drama China umumnya memakai Mandarin standar dan aksara sederhana, sedangkan drama Taiwan kerap menyisipkan Hokkien serta menggunakan bahasa yang lebih kompleks.
  • Produksi drama China cenderung lebih besar dengan 24 hingga 60+ episode dan genre beragam, terutama kostum atau sejarah; drama Taiwan biasanya belasan episode dan identik dengan romansa idol.
  • Sensor ketat di China membatasi tema sehingga cerita cenderung aman dan ringan, sementara Taiwan lebih bebas mengangkat isu sosial serta topik sensitif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dari tahun ke tahun, pamor drama China dan drama Taiwan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Banyak penggemar baru bermunculan seiring banyaknya jenis cerita dan genre yang berada dalam naungan drama-drama tersebut.

Namun, masih banyak penonton yang menganggap dua tontonan ini sebagai drama yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan signifikan yang jarang disadari, baik secara teknis maupun isi konten. Lantas, apa saja perbedaan drama China dan drama Taiwan?

1. Bahasa dan aksara

poster drama Nirvana in Fire (dok. Shandong Film and Television Media Group/Nirvana in Fire)

Drama China (mainland) sering menggunakan aksara sederhana dan bahasa Mandarin standar. Misalnya, drama Nirvana in Fire (琅琊榜) (2015) menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh pembelajar bahasa Mandarin.

Sementara itu, drama Taiwan cenderung menggunakan bahasa yang sedikit lebih kompleks. Mereka sering menyelipkan Hokkien, terutama untuk karakter daerah atau generasi tua. Salah satu contohnya ada dalam drama Someday or One Day (想見你) (2019) yang dibuka dengan lagu Last Dance dari Wu Bai yang logat Taiwan-nya sangat kental.


2. Skala produksi dan jumlah episode yang jomplang

poster drama Someday or One Day (dok. Sanfeng Production/Someday or One Day)

Dari sisi produksi, drama China biasanya menghasilkan banyak episode untuk menceritakan satu drama secara utuh. Totalnya, bisa sampai lebih dari 70 jam dengan kisaran 24-60+ episode.

Berbeda dengan drama Taiwan yang rata-rata diproduksi dengan skala yang lebih kecil. Studio biasanya hanya membuat belasan episode untuk satu drama. Inilah yang membuat drama Taiwan bisa selesai lebih cepat jika dibandingkan dengan drama China.

Perbandingan nyata dari perbedaan tersebut bisa dilihat dari drama Story of Yanxi Palace (2018) yang memiliki 70 episode dan drama Someday or One Day (想見你) (2019) yang episodenya hanya berjumlah belasan saja. Terasa banget perbedaannya, kan?

3. Genre andalan yang berlawanan

poster drama Meteor Garden (dok. Comic Ritz International Production/Meteor Garden)

Drama Taiwan sangat identik dengan “idol drama” romansa, genre yang menitikberatkan seorang idola sebagai daya tarik utama untuk mencuri perhatian banyak penonton. Genre ini mulai berkembang sejak era Meteor Garden (2001). Di masa kini, drama Taiwan sudah berkembang ke tema sosial.

Di sisi lain, drama China berani mengeksplorasi berbagai macam genre. Salah satu variasi genre drama China yang paling populer adalah drama kostum/sejarah (xianxia, wuxia, istana). Salah satu drama yang mempopulerkan genre ini di kalangan penonton dunia adalah The Untamed (陈情令) (2019).

4. Tingkat sensor dan kebebasan konten

poster drama Empresses in the Palace (dok. Beijing Television Art Center/Empresses in the Palace)

Sineas China tidak bisa mengekspresikan kreativitasnya secara penuh dalam memproduksi drama China. Hal ini disebabkan oleh aturan ketat yang diterapkan oleh badan sensor negara (SARFT). Contoh nyata dari ketatnya aturan ini adalah drama Empresses in the Palace (2011) yang sempat tak lolos izin tayang karena nilai lama, seperti selir dan perebutan kekuasaan di harem, dianggap negatif oleh Partai Komunis.

Berlawanan dengan China, drama Taiwan justru lebih ekspresif dan berani dalam mengangkat topik sensitif, bahkan yang mengarah langsung ke China. Zero Day (2024), misalnya, menceritakan invasi China ke Taiwan yang merupakan topik tabu bagi sineas Taiwan karena takut kehilangan akses ke industri hiburan China.

5. Nuansa cerita, antara ringan vs. berani

poster drama Love O2O (dok. Shanghai Croton Culture Media Co. Ltd./Love O2O)

Ketatnya aturan perfilman di China membuat drama yang mereka produksi cenderung bernuansa ringan dan mudah diikuti. Drama-drama China terasa lebih “aman” karena tekanan sensor yang sangat keras. Salah satu contohnya adalah Love O2O (2016) yang vibes-nya sangat ringan dan manis seperti kembang gula.

Drama Taiwan bertolak belakang dengan China, karena keberanian mereka mengangkat isu sosial yang sensitif. Inilah alasan kenapa banyak drama Taiwan memiliki jalan cerita yang berat dan perlu keseriusan dalam menontonnya.

Contoh nyata dari keberanian tersebut adalah drama The World Between Us (我們與惡的距離) (2019) yang mengangkat isu pembunuhan acak, hukuman mati, dan etika media. Menariknya, konsep yang kelam tersebut justru membuat drama ini laris manis di pasaran.

Perbedaan yang mencolok antara drama China dan drama Taiwan ini mungkin hanya diketahui oleh sebagian orang yang memperhatikannya secara detail. Terlepas dari semuanya, setiap drama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang mungkin berbeda penerimaannya di mata penggemar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article