Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Clayface, DCU Akhirnya Bikin Film Body Horror, Bikin Meringis!

6 min read
Review Clayface, DCU Akhirnya Bikin Film Body Horror, Bikin Meringis!
Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)
  • Clayface (2026) mengisahkan aktor Matt Hagen yang kehilangan wajah dan karier akibat insiden brutal, lalu berubah menjadi monster setelah eksperimen kulit manusia.
  • Sutradara James Watkins menghadirkan body horror brutal dan Gotham gelap, menjadikan kehancuran fisik serta mental Matt sebagai inti tragedi, bukan sekadar aksi superhero.
  • Tom Rhys Harries dipuji sebagai kekuatan utama melalui sosok Matt yang menyedihkan sekaligus mengerikan; film ini berani, meski visual Gotham dan struktur akhirnya dinilai belum konsisten.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bayangkan kamu sedang berada di titik terbaik hidupmu. Karier sebagai aktor sedang menanjak, namamu dikenal oleh banyak orang, bahkan nominasi Oscar sudah di depan mata. Lalu, dalam waktu sekejap, semuanya direnggut. Bukan cuma pekerjaan atau reputasi, tetapi wajah tampan yang selama ini menjadi modal utama dirimu sebagai seorang aktor. Itulah mimpi buruk yang dialami Matt Hagen dalam Clayface (2026).

Film garapan James Watkins ini tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan betapa brutalnya tragedi tersebut. Dari awal, penonton langsung dilempar ke dalam body horror yang membuat ngilu, tapi di sisi lain juga berempati kepada seseorang yang sedang bergulat dengan dirinya sendiri.

Setelah menontonnya dalam pemutaran perdana di XXI Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (20/10/2026), saya merasa Clayface punya keberanian yang cukup langka untuk sebuah film superhero: membiarkan ceritanya menjadi gelap, kejam, dan benar-benar tidak nyaman. Kalau kamu penasaran apakah eksperimen horor DCU ini berhasil atau tidak, berikut ulasan film Clayface selengkapnya!

  1. Sinopsis Clayface (2026)

    Clayface mengikuti kisah Matt Hagen (Tom Rhys Harries), aktor Hollywood yang sedang berada di puncak popularitas. Namun, sebuah insiden brutal menghancurkan wajahnya sekaligus karier yang selama ini ia bangun. Kehilangan "wajah" berarti kehilangan identitas bagi Matt. Putus asa, ia mencari bantuan Dr. Caitlyn Corr (Naomi Ackie), seorang ilmuwan yang melakukan eksperimen pada kulit manusia.

    Eksperimen tersebut awalnya berhasil mengembalikan penampilan Matt. Namun, keberhasilan itu ternyata memiliki konsekuensi mengerikan. Tubuh Matt perlahan berubah menjadi seperti tanah liat hidup. Dari sinilah sosok Clayface lahir. Rasa sakit, kehilangan identitas, cinta yang rusak, dan keinginan untuk membalas dendam perlahan mengubah Matt menjadi monster yang semakin sulit dikendalikan.

    Clayface
    2026
    4/5
    Directed by James Watkins
    Producer

    Matt Reeves, Lynn Harris, James Gunn, Peter Safran

    Writer

    Mike Flanagan, Hossein Amini

    Age Rating

    D17

    Genre

    Horror, action

    Duration

    108 Minutes

    Release Date

    21 Oktober

    Theme

    Body horror, psychological thriller, tragedy

    Production House

    Warner Bros. Pictures, DC Studios

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

    Cast

    Tom Rhys Harries, Naomi Ackie, David Dencik, Max Minghella, Eddie Marsan, Nancy Carroll, Joshua James

  2. Trailer Clayface (2026)

    Cuplikan film Clayface (2026)

  3. 1. Clayface langsung menunjukkan betapa brutalnya kisah Matt Hagen

    Ada film yang membutuhkan waktu lama untuk menemukan identitasnya. Clayface bukan salah satunya. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit sampai hidup Matt Hagen hancur, dan film menjadikan tragedi tersebut sebagai fondasi cerita. Tak ada banyak basa-basi atau latar belakang rumit yang mengharuskan penonton menjadi penggemar DC terlebih dahulu. Kamu cukup tahu bahwa Matt adalah aktor yang sedang berada di puncak, lalu melihat bagaimana semuanya runtuh. Keputusan tersebut membuat Clayface terasa sangat efektif.

    James Watkins, yang sebelumnya menyutradarai remake Speak No Evil (2024), tampaknya memahami bahwa kekuatan terbesar karakter ini bukan sekadar kemampuan berubah bentuk (shapeshifting). Ia paham kalau Clayface awalnya adalah manusia yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Karena itu, body horror menjadi salah satu senjata utama film.

    Sepanjang film, ada banyak adegan yang membuat ngilu, bahkan cukup mengganggu sampai beberapa penonton harus memalingkan muka dari layar bioskop. Menariknya, sebagian adegan body horror tersebut sudah sempat diperlihatkan lewat trailer. Namun, ketika ditempatkan dalam konteks cerita secara utuh, adegan-adegan tersebut tetap efektif dan sukses membuat kita tidak nyaman.

    Gotham dalam film ini pun terasa jauh lebih gelap. Kekerasan di dalamnya bukan sekadar tempelan agar Clayface mendapat rating D17 (17+). Darah, luka, perubahan tubuh, dan kehancuran fisik sekaligus mental Matt menjadi bagian dari perjalanan karakternya. Dan di sinilah film mulai menarik perhatian saya. Clayface bukan monster yang tiba-tiba muncul dari selokan Gotham; ia adalah manusia yang perlahan dibuat menjadi monster.

  4. 2. Tom Rhys Harries membuat Clayface seperti kisah tragedi, alih-alih origin villain

    Kalau ada satu alasan terbesar mengapa Clayface wajib ditonton, jawabannya satu: Tom Rhys Harries. Aktor asal Wales yang terkenal lewat serial White Lines (2020) ini tidak sekadar memainkan Matt Hagen sebagai aktor yang kehilangan wajah tampannya. Ia memainkan seseorang yang kehilangan identitas, harga diri, karier, cinta, sekaligus kendali atas tubuhnya sendiri.

    Perubahan tersebut terasa bertahap. Kita bisa memahami mengapa Matt mengambil keputusan-keputusan tertentu meskipun tidak semuanya bisa dibenarkan. Inilah yang menarik, ketika "bibit" villain itu mengubahnya menjadi monster-like figure alih-alih dalang kejahatan murni seperti Joker atau Penguin. Sebagai penonton, kita pun ditaruh di posisi yang sedikit tidak nyaman. Ya, kita tahu Matt salah, tetapi kita juga mengerti mengapa ia sampai ke titik tersebut.

    Naomi Ackie sebagai Caitlyn Corr menjadi penyeimbang emosional yang penting. Caitlyn sukses membawa empati dan elemen manusiawi ke dalam cerita, terutama ketika hubungannya dengan Matt mulai terasa seperti dinamika Frankenstein's Monster dan penciptanya. Max Minghella sebagai Detektif John Borrelli menjadi salah satu kejutan. Karakternya lebih fungsional dibanding Matt dan Caitlyn, tetapi Minghella memberikan penampilan solid yang membuat karakternya signifikan hingga akhir.

    Hampir tidak ada penampilan yang terasa sia-sia. Setiap karakter membawa kepentingan sendiri, dan hubungan antarkarakter itulah yang membuat tragedi Matt semakin terasa. Bahkan ketika Clayface mulai menjadi film tentang monster, kita tetap melihat manusia di balik monster tersebut.

  5. 3. Perpaduan horor dan humor gelap yang tidak sempurna, tetapi berani

    Saya cukup terkejut dengan betapa lucunya Clayface di beberapa bagian. Humornya tidak terasa seperti "jeda" untuk mencairkan suasana. Beberapa kelucuan justru muncul secara natural dari situasi yang tak diduga-duga. Satu menit penonton bisa dibuat tidak nyaman dengan tubuh Matt yang berubah, lalu beberapa menit kemudian justru tertawa.

    Perpaduan tersebut membuat film tidak terus-menerus berada dalam mode suram. Bahkan ada satu adegan yang mengingatkan saya pada Jacob's Ladder (1990) dan menurut saya hal itu menjadi salah satu eksperimen visual yang menarik. Namun jika bicara visual secara keseluruhan, Clayface terasa masih belum menemukan identitasnya.

    Sinematografinya mampu menangkap momen-momen grotesque dengan cukup efektif. Adegan transformasi tubuh Matt terasa menegangkan dan beberapa set piece, terutama di klub malam, benar-benar kacau dengan cara yang "fun." Tetapi ketika berbicara mengenai Kota Gotham secara keseluruhan, saya merasa film ini masih bisa tampil lebih baik. Sebagai perbandingan, silakan tonton The Penguin (2024-).

    Hal serupa terjadi pada struktur ceritanya. Clayface jelas memiliki pengaruh dari The Fly (1986), kisah "Feat of Clay" dalam Batman: The Animated Series (1992-1995), hingga cerita komik One Bad Day yang ditulis oleh Tom King dkk. Semua inspirasi tersebut diracik menjadi kisah tragedi villain yang cukup kuat. Masalahnya, struktur akhirnya terasa terlalu lurus dan familiar. Untungnya, film tidak pernah kehilangan keberanian untuk menyajikan porsi body horror yang brutal.

    Untuk sebuah proyek DCU yang masih mengkal, langkah ini terasa penting. Clayface tidak mencoba menjadi film superhero pasaran dengan kostum ketat, aksi penuh ledakan, dan lelucon yang disebar setiap beberapa menit sekali. Film ini justru bertanya: seberapa jauh seseorang bersedia menghancurkan dirinya sendiri demi mendapatkan kembali bagian dirinya yang sudah hilang? Jawabannya ternyata cukup mengerikan.

  6. 4. Apakah Clayface recommended untuk ditonton?

    Jawaban jujur saya? Ya, Clayface sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama bagimu yang suka dengan film superhero dan ingin melihat bagaimana DCU mencoba sesuatu yang berbeda. Film ini bukan sekadar origin story yang menjelaskan perjalanan satu karakter mendapatkan kekuatannya. Clayface lebih menarik ketika dilihat sebagai tragedi Dionysian tentang krisis identitas, obsesi, dan akhirnya hilangnya jati diri.

    Tom Rhys Harries menjadi kekuatan terbesar film lewat penampilan apiknya yang membuat Matt Hagen terasa menyedihkan sekaligus mengerikan. Naomi Ackie memberikan fondasi emosional yang kuat, sementara James Watkins berhasil membawa pendekatan body horror yang cukup berani ke dalam DCU.

    Memang, tidak semua elemen bekerja sempurna. Identitas visual Gotham terkadang masih terasa tidak konsisten dan struktur ceritanya memiliki pola yang familiar. Namun, kelemahan tersebut tidak menghapus keberanian film untuk mengambil risiko. Justru keberanian itulah yang membuat Clayface terasa menarik.

    Pada akhirnya, kita harus membayangkan Matt Hagen sebagai manusia yang pernah bahagia. Kita bisa memahami kenapa ia ingin mendapatkan kembali wajah tampan, karier, cinta, dan hidupnya. Tetapi setelah semuanya berubah, kita tidak perlu membayangkan Clayface bahagia juga. Jangan lupa, kalau Clayface adalah kisah awal mula dari salah satu villain ikonik Kota Gotham.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More