Review Backrooms, Aneh, Membingungkan, tapi Sulit Dilupakan

Setelah bertahun-tahun menjadi fenomena internet dan melahirkan berbagai teori dari para penggemarnya, Backrooms (2026) akhirnya mendapatkan adaptasi layar lebar. Disutradarai oleh kreator serial YouTube viral, Kane Parsons, film ini menjadi salah satu proyek horor paling dinantikan tahun 2026 sekaligus debut penyutradaraan film panjang bagi Parsons yang baru berusia 20 tahun.
Menggandeng A24 sebagai distributor, Backrooms datang dengan ekspektasi yang tidak main-main. Apalagi serial web aslinya telah memiliki basis penggemar yang sangat besar dan dikenal karena atmosfer liminal yang membuat bulu kuduk berdiri. Alih-alih sekadar memperbesar skala serial YouTube-nya, Parsons memilih mengambil risiko kreatif yang membuat Backrooms terasa seperti karya horor yang lebih matang dan ambisius. Lalu, apa saja kelebihan dan kekurangannya? Simak di bawah ini!
Sinopsis Backrooms (2026)
Clark (Chiwetel Ejiofor) adalah seorang mantan arsitek yang hidupnya perlahan berantakan setelah bercerai dengan istrinya. Kini ia tinggal di toko furnitur bertema bajak laut miliknya sendiri, Cap'n Clark's Ottoman Empire, sembari mencoba bertahan melalui sesi terapi bersama psikiaternya, Dr. Mary Kline (Renate Reinsve).
Suatu hari, Clark menemukan portal misterius di ruang bawah tokonya yang mengarah ke dimensi aneh bernama Backrooms. Dunia tersebut berupa labirin tanpa akhir yang dipenuhi ruangan kuning kosong, koridor tak berujung, serta berbagai anomali yang sulit dijelaskan dengan logika.
Penemuan itu perlahan mengubah kepribadian Clark. Ia menjadi terobsesi untuk memahami misteri Backrooms dan segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Namun semakin jauh ia menyelam ke dalam dimensi tersebut, semakin banyak orang di sekitarnya yang ikut terseret ke dalam mimpi buruk yang tak masuk akal.
| Producer | James Wan, Shawn Levy, Osgood Perkins |
| Writer | Will Soodik |
| Age Rating | D17 |
| Genre | Sci-fi, thriller, horror |
| Duration | 111 Minutes |
| Release Date | 10 Juni |
| Theme | Psychological horror, creepy pasta, liminal horror, found footage |
| Production House | A24 |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Chiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita Maxwell |
Trailer Backrooms (2026)
Cuplikan film Backrooms (2026)
1. Atmosfer liminal yang membuat penonton tidak nyaman
Salah satu kekuatan terbesar Backrooms tentu terletak pada atmosfernya. Kane Parsons paham betul apa yang membuat serial YouTube-nya begitu populer: rasa cemas yang muncul dari ruang kosong yang seharusnya terasa familiar, tetapi justru terlihat salah.
Desain produksi garapan Danny Vermette tampil luar biasa dalam menghidupkan dunia Backrooms. Koridor-koridor kuning, lampu neon yang terus berdengung, ruang kantor kosong, hingga area komersial yang tampak tak berujung menciptakan pengalaman visual yang terasa seperti mimpi buruk di siang hari. Bersama sinematografer Jeremy Cox, kita ikut masuk ke ruang kuning yang suram dan menyesakkan.
Yang paling menarik, film ini tidak terburu-buru memperlihatkan ancaman secara langsung. Sebagian besar ketakutan justru muncul dari rasa tidak pasti. Penonton diajak menjelajahi ruang-ruang kosong yang aneh sambil terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya bersembunyi di balik sudutnya. Sensasi itu membuat Backrooms lebih mirip horor psikologis ketimbang film monster konvensional.
2. Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve menjadi jangkar emosional cerita
Di balik konsepnya yang sangat abstrak, Backrooms tetap membutuhkan karakter yang mampu membuat penonton berempati. Untungnya, film ini memiliki dua aktor luar biasa dalam diri Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve.
Ejiofor tampil meyakinkan sebagai Clark, sosok pria yang hidupnya sudah hancur bahkan sebelum ia menemukan Backrooms. Karakter ini bukan pahlawan klasik yang mudah disukai penonton. Ia rapuh, keras kepala, dan sering kali membuat keputusan yang buruk. Namun justru karena itulah perjalanan psikologisnya terasa menarik untuk diikuti. Sementara itu, Renate Reinsve menghadirkan performa yang tenang tetapi penuh lapisan sebagai Dr. Mary Kline.
Naskah karya Will Soodik cukup cerdas karena tidak selalu menjelaskan emosi para karakternya secara gamblang. Banyak konflik dibiarkan hidup melalui ekspresi, tatapan, dan bahasa tubuh para pemain. Hasilnya, hubungan antara Clark dan Mary terasa jauh lebih manusiawi dibandingkan kebanyakan film horor modern yang terlalu sibuk menjejalkan segala sesuatunya (spoon-fed) kepada penonton.
3. Horornya efektif, tetapi tidak seseram serial YouTube-nya
Bagi penggemar berat serial Backrooms, bagian ini mungkin menjadi aspek yang paling memicu pro-kontra. Lewat film berdurasi 111 menit ini, Kane Parsons memilih menciptakan ancaman baru yang berbeda dari entitas ikonik yang muncul dalam versi YouTube. Secara tematis keputusan tersebut masuk akal karena lebih relevan dengan perjalanan karakter Clark.
Namun di sisi lain, sebagian ancaman baru ini terasa lebih menarik sebagai konsep ketimbang sebagai sesuatu yang benar-benar menakutkan. Ironisnya, beberapa momen paling menyeramkan dalam film justru berasal dari hal-hal sederhana yang sudah menjadi ciri khas serial web aslinya: koridor kosong, suara dengung lampu neon, dan ketakutan akan ruang yang tak berakhir.
Meski begitu, film ini tetap memiliki beberapa adegan yang benar-benar menghantam. Ada satu sekuens di awal film yang berpotensi menjadi salah satu adegan horor paling mengerikan tahun 2026. Tanpa perlu mengandalkan gore berlebihan atau jumpscare bertubi-tubi, adegan tersebut berhasil menciptakan tingkat stres dan kecemasan yang nyaris membuat penonton sesak napas.
Parsons juga memanfaatkan estetika VHS dan found footage secara efektif. Menariknya, efek analog yang terlihat begitu autentik ternyata seluruhnya dibuat secara digital menggunakan Blender, perangkat lunak serupa yang ia gunakan saat membuat serial YouTube-nya. Hasilnya sangat meyakinkan, bahkan ketika ditampilkan di layar lebar.
4. Apakah Backrooms recommended untuk ditonton?
Sangat direkomendasikan, terutama jika kamu adalah tipe orang yang menyukai horor atmosferik dan misteri psikologis. Backrooms bukan tipe film yang akan memanjakan penonton dengan jumpscare setiap lima menit atau penjelasan lengkap tentang semua misterinya. Film ini lebih tertarik membangun rasa cemas, kesepian, dan ketidakpastian melalui ruang-ruang kosong yang terasa tidak masuk akal.
Memang ada beberapa kelemahan, terutama pada babak ketiga yang terlalu mengikuti formula khas A24 sehingga mengurangi aura misterius yang dibangun sejak awal. Beberapa subplot juga terasa kurang berkembang, sementara ancaman utama film tidak seseram yang dijanjikan oleh materi promosinya.
Namun sebagai debut film panjang, pencapaian Kane Parsons tetap sangat mengesankan. Ia berhasil mengubah creepypasta internet menjadi pengalaman sinematik yang ambisius, atmosferik, dan penuh identitas. Backrooms mungkin tidak akan memuaskan semua penggemar serial YouTube-nya, tetapi film ini membuktikan bahwa Kane Parsons adalah salah satu nama baru paling menjanjikan di genre horor saat ini.


















