Review Film Dokumenter NAZA, Bongkar Tragedi Gaza dari Atap Tel Aviv

- Dokumenter NAZA karya Yuval Abraham dan Rachel Szor tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Oktober 2026, mengangkat operasi militer Israel di Gaza melalui 24 kesaksian anonim.
- Film berdurasi 77 menit ini membedah sistem penargetan, pengawasan, dan AI; istilah NAZA merujuk pada perkiraan korban sipil atau collateral damage dalam serangan.
- Dengan latar malam Tel Aviv dan arsip terbatas, NAZA memadukan jurnalisme investigasi serta sinema, meski narasinya hampir seluruhnya berasal dari perspektif personel Israel.
Banyak kota terlihat biasa saja saat malam tiba. Lampu menyala, orang-orang menonton televisi, berolahraga, menyiram tanaman, atau sekadar melihat langit malam. Namun, NAZA (2026) membuat pemandangan malam Tel Aviv terasa berbeda. Di balik gedung-gedung terang, 24 mantan personel militer (IDF) dan intelijen Israel menceritakan bagaimana operasi militer di Gaza dijalankan dari balik layar.
Mereka tidak menampilkan wajah. Suara mereka juga disamarkan. Hanya siluet di atas gedung-gedung Tel Aviv yang terlihat ketika satu demi satu kesaksian tentang sistem penargetan, teknologi pengawasan, dan perhitungan korban sipil mulai terungkap. Dari sinilah NAZA perlahan berubah dari sekadar dokumenter perang menjadi pengalaman sinematik yang sangat sulit ditonton tanpa merasa tergetar.
Film dokumenter karya Yuval Abraham dan Rachel Szor ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Oktober 2026. IDN Times mendapat kesempatan menonton terlebih dahulu lewat special screening setelah konferensi pers Sala de Arte di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Berikut ulasan lengkapnya!
Sinopsis NAZA (2026)
NAZA adalah film dokumenter Inggris tahun 2026 yang disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor. Bagi yang belum tahu, keduanya menjadi bagian dari tim No Other Land, dokumenter yang memenangkan Academy Award untuk Best Documentary Feature pada 2025 bersama Basel Adra dan Hamdan Ballal. Film dokumenter berdurasi sekitar 77 menit ini menginvestigasi sistem penargetan militer Israel dan penggunaan teknologi pengawasan serta AI dalam operasi di Jalur Gaza.
NAZA sendiri merujuk pada istilah militer Israel yang berasal dari Nezek Agavi (נזק אגבי), yang berarti collateral damage atau "kerusakan tambahan". Dalam film, istilah NAZA digunakan untuk menggambarkan perkiraan jumlah warga sipil yang dapat terbunuh dalam sebuah serangan terhadap target tertentu. Melalui wawancara dengan 24 personel militer dan intelijen Israel yang identitasnya disamarkan, film mengungkap bagaimana target ditentukan, bagaimana jumlah korban sipil dipertimbangkan, serta bagaimana teknologi digunakan untuk membantu proses tersebut.
NAZA20264.5/5Directed by Yuval Abraham, Rachel SzorProducer Harry Davies, Lindsay Poulton, James Wilson
Writer Yuval Abraham, Rachel Szor
Age Rating D17
Genre Documentary
Duration 77 Minutes
Release Date 16 Oktober
Theme War documentary, interview-heavy documentary, expository/testimonial documentary
Production House The Guardian, JW Films
Where to Watch Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
Cast Yuval Abraham
Trailer NAZA (2026)
Cuplikan film NAZA (2026)
1. NAZA membuat kita mendengar perang dari orang-orang yang menjalankannya
Ada sesuatu yang mengganggu dari cara NAZA memperkenalkan dirinya. Film ini tidak langsung melempar gambar kehancuran Gaza kepada penonton. Sebaliknya, kita berada di Tel Aviv pada malam hari. Kota terlihat hidup. Lampu apartemen menyala. Gedung-gedung berdiri tenang. Sesekali kita melihat orang menjalani rutinitas sehari-hari. Kemudian kamera membawa kita ke atas gedung, tempat sosok-sosok anonim mulai berbicara. Kontras tersebut menjadi salah satu kekuatan terbesar film.
Para narasumber tidak ditampilkan sebagai monster berwajah seram. Mereka terdengar seperti manusia biasa. Mereka berbicara tentang pekerjaan sehari-hari, sistem, prosedur, teknologi, bahkan kehidupan setelah jam kerja. Tetapi pekerjaan yang mereka ceritakan berkaitan dengan keputusan yang berdampak langsung terhadap kehidupan warga sipil di Gaza.
Wajah dan suara mereka sengaja disamarkan. Pilihan tersebut bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari bahasa visual film. Kita melihat manusia yang sengaja dibuat tanpa wajah ketika mereka membicarakan orang-orang yang dalam sistem tersebut juga berisiko kehilangan identitasnya dan direduksi menjadi angka.
Di sinilah konsep NAZA terasa. Film tidak sekadar bertanya siapa yang dibunuh, tetapi bagaimana sebuah sistem dapat membuat kematian manusia terdengar seperti angka yang masuk akal dalam sebuah perhitungan. Istilah "NAZA" sendiri menjadi simbol dehumanisasi tersebut. Ketika seseorang disebut sebagai angka korban yang diperkirakan, jarak emosional antara pengambil keputusan dan orang yang akan menerima dampaknya menjadi semakin jauh.
Film kemudian membawa penonton semakin dalam ke mekanisme tersebut. Para narasumber menggambarkan bagaimana pengawasan terhadap warga Palestina, termasuk melalui perangkat komunikasi, yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi yang kemudian menjadi bagian dari proses penargetan. Teknologi AI juga menjadi salah satu elemen penting dalam pembahasan film.
Tak berhenti sampai situ. Satu hal penting yang membuat semuanya terasa mengerikan bukan dari teknologinya semata, melainkan pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika teknologi tersebut ditempatkan di dalam sistem yang sudah menentukan nilai sebuah nyawa berdasarkan kalkulasi. Mengapa ada orang yang menjalankan sistem tersebut dan masih bisa tidur dengan tenang di malam hari?
2. Jurnalisme dan sinema berjalan beriringan, membuat NAZA terasa seperti dokumen sejarah
Jika kita melihat dari sisi konteks, NAZA membawa bobot yang sangat besar. Film ini tidak datang untuk sekadar menunjukkan penderitaan warga Gaza, tetapi berusaha membedah mekanisme di baliknya. Abraham dan Szor menggunakan wawancara sebagai tulang punggung dokumenter. Pertanyaan-pertanyaannya cenderung lugas dan praktis. Mereka membiarkan narasumber menjelaskan sistem yang mereka kenal, kemudian secara perlahan membangun gambaran yang lebih besar dalam kertas kosong.
Informasi tidak ditumpahkan sekaligus. Film membiarkan penonton memahami istilah, struktur, dan prosesnya sedikit demi sedikit. Efeknya justru lebih menghantam karena semakin lama, kita semakin memahami bagaimana keputusan yang tampak abstrak dari jauh dapat berujung pada kehancuran rumah dan keluarga.
Cara penyutradaraan ini membuat NAZA terasa seperti pertemuan antara film dokumenter dan jurnalisme investigasi. Beberapa informasi yang diungkap memang sebelumnya telah diberitakan oleh media, sehingga kekuatan film tidak selalu terletak pada "menemukan" fakta baru. Nilai tambahnya ada pada kesaksian langsung dari orang-orang yang mengaku pernah berada di dalam sistem tersebut. Di sinilah unsur teknis dan "rasa" bekerja bersamaan.
Wawancara di atas atap Tel Aviv pada malam hari membuat kota tersebut terasa seperti latar yang sedang mengawasi dirinya sendiri. Dari ketinggian, kamera sesekali memperlihatkan kehidupan warga biasa di dalam apartemen. Ada orang yang bersantai, menonton televisi, atau menjalani rutinitas harian. Ironisnya, gambar-gambar tersebut tidak terasa menenangkan. Justru sebaliknya. Ketika para narasumber membicarakan serangan udara dan kehancuran di Gaza, penonton semakin sadar bahwa kehidupan normal di satu tempat dapat berjalan berdampingan dengan kehancuran di tempat lain.
NAZA juga menggunakan materi arsip secara terbatas. Pendekatan tersebut membuat dokumenter tidak terasa seperti tayangan berita yang hanya menumpuk gambar kekerasan. Abraham dan Szor justru memberikan ruang bagi gambar dan kata-kata untuk bekerja. Hasilnya adalah film yang tenang secara bentuk, tetapi sangat keras secara substansi.
3. Apakah NAZA recommended buat ditonton?
NAZA sangat direkomendasikan, terutama bagimu yang masih memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan dan ingin memahami bagaimana sebuah perang dapat dilihat dari balik sistem yang menjalankannya. Namun, bukan berarti film ini harus diterima tanpa sikap kritis. Justru dokumenter seperti NAZA perlu ditonton dengan perhatian penuh terhadap sumber kesaksian, konteks politik, dan klaim yang disampaikan.
Salah satu batasan film ini juga jelas. NAZA hampir sepenuhnya berbicara melalui perspektif personel Israel yang diwawancarai. Suara warga Palestina tidak menjadi pusat narasi film, meskipun merekalah yang menjadi objek utama dari kesaksian tersebut. Sejumlah kritik terhadap film juga menyoroti keterbatasan perspektif ini. Tetapi keterbatasan tersebut tidak otomatis menghapus nilai dokumenternya. Justru film ini memberikan jenis kesaksian dari orang-orang yang mengaku berada di dalam sistem tersebut dengan perspektif mereka sendiri.
Secara konsep, NAZA sangat kuat karena memilih pendekatan yang tidak lazim untuk film anti-perang. Secara konteks, film ini membawa isu yang berat dan relevan mengenai kekuasaan, teknologi, pengawasan, tanggung jawab, serta nilai sebuah kehidupan. Secara teknis, penyutradaraan, editing, desain suara, dan visual malam Tel Aviv sukses menciptakan atmosfer yang konsisten. Namun, kekuatan terbesarnya berada pada aftertaste-nya.
NAZA tidak perlu berteriak kepada penonton agar kita merasa marah. Ia justru berbicara dengan nada yang tenang. Semakin tenang percakapan berlangsung, semakin terasa "mengganggu" informasi yang kita dengar. Pada satu titik, sebuah roket terlihat melintas di langit malam Tel Aviv. Kamera menangkapnya dalam waktu singkat. Namun, setelah mendengar begitu banyak kesaksian tentang kehancuran di Gaza, pemandangan tersebut tidak lagi terlihat seperti sekadar cahaya di langit. Kita tahu ada sesuatu yang terjadi di baliknya. Dan, mungkin itulah keberhasilan terbesar NAZA.
NAZA membuat perang yang selama ini terasa jauh di layar berita menjadi sesuatu yang terasa dekat. Ingat, film ini tidak menawarkan rasa nyaman. Tidak ada penyelesaian emosional yang rapi. Tidak ada karakter yang bisa kita ikuti sejak awal hingga akhir. Yang tersisa hanyalah suara, kesaksian, angka, sistem, dan pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa menciptakan jarak sedemikian jauh antara keputusan dan akibatnya. NAZA adalah film yang berat, menyakitkan, dan tidak nyaman untuk ditonton. Tetapi justru karena itulah ia penting.
Bagimu yang ingin memahami konflik Gaza bukan hanya dari angka korban semata, tetapi juga dari mekanisme yang berada di balik sebagian operasi militernya, film dokumenter ini menawarkan bahan renungan yang kuat. Dan bagimu yang masih percaya bahwa kehidupan manusia tidak seharusnya direduksi menjadi angka dalam sebuah sistem, NAZA adalah film yang sulit untuk diabaikan.




![[QUIZ] Kalau Jadi Kakak, Kamu Mirip Kak Ros atau Abang Iz?](https://image.idntimes.com/post/20261015/collage_68f68c07-e3eb-41d2-8ae6-b15dadebde1d.jpg)












![[REVIEW] Other Mommy, Niat Bikin Takut Malah Bikin Haru](https://image.idntimes.com/post/20261008/17471_789d020f-59da-4e61-b69b-be3e35b1753d.jpg)



