- Cinépolis Senayan Park (Jakarta)
- Cinépolis Depok Town Square (Depok)
- Cinépolis Lippo Plaza Jogja (Yogyakarta)
- Cinépolis Malang Town Square (Malang)
- Cinépolis Java Supermal (Semarang)
- Cinépolis Lippo Plaza Medan (Medan)
Cinépolis Sala de Arte Diluncurkan, Dibuka dengan Film Dokumenter Naza

- Cinépolis Indonesia dan KlikFilm meluncurkan Sala de Arte x KlikFilm Showcase di Jakarta, menghadirkan film festival, independen, klasik, dokumenter, serta karya peraih penghargaan ke bioskop Indonesia.
- Program ini menayangkan satu film kurasi setiap minggu pada pukul 19.00, dengan KlikFilm menyediakan judul dari akuisisi lebih dari 200 film per tahun.
- Film dokumenter NAZA menjadi pembuka; marathon screening berlangsung 15 Oktober 2026 di enam kota, sebelum penayangan reguler dimulai 16 Oktober 2026.
Jakarta, IDN Times - Cinépolis Cinemas Indonesia bersama KlikFilm menghadirkan kabar baru bagi penikmat film lewat program Cinépolis Sala de Arte x KlikFilm Showcase. Program ini diumumkan dalam konferensi pers di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Peluncuran tersebut dilanjutkan dengan pemutaran khusus film dokumenter NAZA (2026) karya Yuval Abraham dan Rachel Szor yang meraih Special Jury Prize di Venice Film Festival 2026. Nantinya, program ini membawa film-film pilihan dari berbagai festival bergengsi dunia, termasuk karya peraih penghargaan, film independen, karya sutradara terkemuka, film klasik, hingga dokumenter ke layar lebar di sejumlah kota Indonesia.
1. Cinépolis Sala de Arte x KlikFilm bakal hadirkan film-film pilihan hasil kurasi

Konferensi pers "Cinépolis Sala de Arte x KlikFilm Showcase" di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (8/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Alejandro Aguilera Garibay, CEO Cinépolis Cinemas Indonesia, melihat Sala de Arte sebagai sebuah "laboratorium" eksperimen bagi para penikmat film. Konsep tersebut memberikan kesempatan kepada penonton untuk menemukan pengalaman sinematik yang mungkin belum pernah dirasakan sebelumnya. Karena itu, Sala de Arte tidak hanya berorientasi pada jumlah penonton.
"Kami (Cinépolis Indonesia) ingin memberikan kesempatan, kami ingin orang mengalami, dan kami benar-benar bersyukur karena memiliki pasangan yang luar biasa (KlikFilm) yang akan memberi kami konten kurasi yang luar biasa dari seluruh dunia," ujar Alejandro.
Sala de Arte sendiri pertama kali hadir di Meksiko pada Juni 2012 sebagai ruang untuk menayangkan film alternatif, film klasik, film festival, hingga dokumenter. Konsep tersebut kemudian berkembang dan kini hadir secara permanen di lebih dari 25 layar Cinépolis di Meksiko. Di Indonesia, konsep tersebut hadir melalui kolaborasi dengan KlikFilm Showcase, dengan KlikFilm berperan sebagai kurator sekaligus partner penyedia film.
"Jadi sebenarnya KlikFilm mengakuisisi ataupun mengimpor film itu curated pastinya. Bukan hanya sekedar film bagus, tapi memang film yang punya warna, memang film yang bisa menyentuh hati kita," ucap Direktur KlikFilm, Frederica.
2. Bakal sajikan satu film setiap minggunya di waktu prime time

Konferensi pers "Cinépolis Sala de Arte x KlikFilm Showcase" di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (8/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Konsistensi menjadi salah satu hal yang ingin dibangun melalui program Sala de Arte. Frederica menyebut KlikFilm memiliki kapasitas untuk menyediakan film secara rutin karena telah mengakuisisi ratusan film setiap tahunnya.
"Dengan kemampuan yang kami miliki, kami mengakuisisi lebih dari 200 film setahun. Dan keperluan Sala de Arte, let's say misalnya satu judul per minggu, artinya perlu 52 judul itu. Dan kami rasa bahwa kami mampu untuk menerima tantangan ini dari Cinépolis secara eksklusif," ujar Frederica.
Artinya, penonton nantinya dapat memiliki agenda rutin untuk menemukan film-film pilihan yang mungkin sulit ditemui di jaringan bioskop melalui program reguler. Frederica juga mengapresiasi keputusan Cinépolis untuk menempatkan program tersebut pada jam prime time. Sala de Arte dijadwalkan hadir secara konsisten setiap pekan pada pukul 19.00.
"Jadi pastinya kami senang dengan konsistensi ini, dengan kedisiplinan ini yang dibawa oleh Cinépolis di jam prime time setiap jam 7 malam," lanjutnya.
Penempatan pada waktu tersebut menjadi bagian penting dari program Sala de Arte. Film-film hasil kurasi tidak hanya hadir sebagai tayangan alternatif pada jam-jam tertentu, tetapi mendapatkan ruang yang cukup strategis untuk dijangkau penonton, termasuk mereka yang ingin menikmatinya bersama keluarga.
3. Dibuka dengan NAZA, film dokumenter tentang pembantaian di Gaza, Palestina

NAZA (dok. JW Films/NAZA) NAZA dipilih sebagai film pembuka untuk memberikan pengalaman sinematik yang berbeda kepada penonton. Hal ini selaras dengan tujuan Sala de Arte, yang ingin memberikan kesempatan kepada penonton Indonesia untuk menyaksikan film dari berbagai latar sinema sekaligus membuka ruang empati melalui cerita yang diangkat.
"Kita bisa nonton film-film yang berbeda dari sinema Hollywood, artinya ini adalah film yang bisa menyentuh hati kita. Seperti yang nanti malam kita akan nonton, film NAZA, di mana kita bisa memberikan empati kita untuk Palestina," tutur Frederica.
Peluncuran Sala de Arte akan dilanjutkan dengan Marathon Screening pada 15 Oktober 2026, atau sehari sebelum jadwal tayang reguler. Marathon Screening akan berlangsung di enam lokasi, yaitu:
Dalam maraton tersebut, tiga film akan diputar secara berturut-turut, yakni Sheep in the Box, Aftersun, dan NAZA. Harga tiket Marathon Screening dibanderol Rp60.000. Tiket mulai dijual pada 9 Oktober 2026 melalui situs Cinépolis. Mulai 16 Oktober 2026, program Sala de Arte akan tayang secara reguler di enam lokasi yang sudah disebutkan.
Jika kamu tertarik dengan film festival, film independen, dokumenter, hingga karya-karya yang menawarkan perspektif berbeda dari sinema arus utama, program Cinépolis Sala de Arte x KlikFilm Showcase bisa jadi opsi. Langsung cek ketersediaan tiketnya di situs Cinépolis, ya!






















