NAZA sangat direkomendasikan, terutama bagimu yang masih memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan dan ingin memahami bagaimana sebuah perang dapat dilihat dari balik sistem yang menjalankannya. Namun, bukan berarti film ini harus diterima tanpa sikap kritis. Justru dokumenter seperti NAZA perlu ditonton dengan perhatian penuh terhadap sumber kesaksian, konteks politik, dan klaim yang disampaikan.
Salah satu batasan film ini juga jelas. NAZA hampir sepenuhnya berbicara melalui perspektif personel Israel yang diwawancarai. Suara warga Palestina tidak menjadi pusat narasi film, meskipun merekalah yang menjadi objek utama dari kesaksian tersebut. Sejumlah kritik terhadap film juga menyoroti keterbatasan perspektif ini. Tetapi keterbatasan tersebut tidak otomatis menghapus nilai dokumenternya. Justru film ini memberikan jenis kesaksian dari orang-orang yang mengaku berada di dalam sistem tersebut dengan perspektif mereka sendiri.
Secara konsep, NAZA sangat kuat karena memilih pendekatan yang tidak lazim untuk film anti-perang. Secara konteks, film ini membawa isu yang berat dan relevan mengenai kekuasaan, teknologi, pengawasan, tanggung jawab, serta nilai sebuah kehidupan. Secara teknis, penyutradaraan, editing, desain suara, dan visual malam Tel Aviv sukses menciptakan atmosfer yang konsisten. Namun, kekuatan terbesarnya berada pada aftertaste-nya.
NAZA tidak perlu berteriak kepada penonton agar kita merasa marah. Ia justru berbicara dengan nada yang tenang. Semakin tenang percakapan berlangsung, semakin terasa "mengganggu" informasi yang kita dengar. Pada satu titik, sebuah roket terlihat melintas di langit malam Tel Aviv. Kamera menangkapnya dalam waktu singkat. Namun, setelah mendengar begitu banyak kesaksian tentang kehancuran di Gaza, pemandangan tersebut tidak lagi terlihat seperti sekadar cahaya di langit. Kita tahu ada sesuatu yang terjadi di baliknya. Dan, mungkin itulah keberhasilan terbesar NAZA.
NAZA membuat perang yang selama ini terasa jauh di layar berita menjadi sesuatu yang terasa dekat. Ingat, film ini tidak menawarkan rasa nyaman. Tidak ada penyelesaian emosional yang rapi. Tidak ada karakter yang bisa kita ikuti sejak awal hingga akhir. Yang tersisa hanyalah suara, kesaksian, angka, sistem, dan pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa menciptakan jarak sedemikian jauh antara keputusan dan akibatnya. NAZA adalah film yang berat, menyakitkan, dan tidak nyaman untuk ditonton. Tetapi justru karena itulah ia penting.
Bagimu yang ingin memahami konflik Gaza bukan hanya dari angka korban semata, tetapi juga dari mekanisme yang berada di balik sebagian operasi militernya, film dokumenter ini menawarkan bahan renungan yang kuat. Dan bagimu yang masih percaya bahwa kehidupan manusia tidak seharusnya direduksi menjadi angka dalam sebuah sistem, NAZA adalah film yang sulit untuk diabaikan.