Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Film Munafik: Melawan Iblis, Remake Horor Malaysia dengan Plot Twist

Review Film Munafik: Melawan Iblis, Remake Horor Malaysia dengan Plot Twist
Munafik: Melawan Iblis (dok. Unlimited Production/Munafik: Melawan Iblis)
  • Munafik: Melawan Iblis mengadaptasi horor Malaysia ke konteks Indonesia melalui ruqyah, desa Pacitan, dan gangguan gaib, dengan Adam menghadapi duka sekaligus kasus kerasukan Fitri.
  • Arya Saloka dinilai meyakinkan sebagai ustaz Adam yang berduka, sementara Acha Septriasa menonjol lewat gestur kerasukan; Donny Damara dan Nova Eliza menarik tetapi kurang dieksplorasi.
  • Atmosfer gelap dan adegan horor cukup efektif, tetapi naskah melebar menjelang akhir karena karakter, konflik, serta twist berlebihan, sehingga drama personal dan tema munafik kurang tergarap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Satu dekade berlalu sejak Munafik (2016) menjadi salah satu film horor paling sukses di Malaysia, kisah tentang ustaz yang berhadapan dengan gangguan gaib kini dibawa ke Indonesia. Munafik: Melawan Iblis (2026) mencoba menerjemahkan formula film tersebut melalui latar pedesaan Indonesia, praktik ruqyah, serta kultur masyarakat yang akrab dengan kepercayaan terhadap gangguan supranatural.

Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat Ayat Cinta 2), film ini dibintangi Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, hingga Donny Damara. Pertanyaannya, apakah adaptasi Indonesia ini mampu memberikan identitas baru, atau justru terlalu bergantung pada bayang-bayang film aslinya? Berikut kelebihan dan kekurangannya!

  1. Sinopsis Munafik: Melawan Iblis (2026)

    Adam (Arya Saloka) merupakan seorang ustaz sekaligus praktisi ruqyah. Dalam perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir iblis dari tubuh seorang anak, Adam mengalami kecelakaan maut yang membuat istrinya, Aini, meninggal dunia. Kehilangan tersebut membuat Adam larut dalam kesedihan dan memutuskan berhenti melakukan ruqyah.

    Ia kemudian menjalani kehidupan yang jauh lebih tertutup hingga suatu hari Anwar (Dimas Aditya) meminta bantuannya untuk menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa). Fitri merupakan seorang perawat sekaligus putri Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Awalnya menolak, Adam akhirnya tergerak oleh pesan mendiang istrinya untuk kembali membantu orang lain.

    Namun, gangguan yang dialami Fitri ternyata bukan kerasukan biasa. Semakin jauh Adam menyelidiki, semakin banyak rahasia gelap yang terungkap. Ia pun harus menghadapi teror gaib sekaligus luka masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur.

    Munafik: Melawan Iblis
    2026
    2.5/5
    Directed by Guntur Soeharjanto
    Producer

    Oswin Bonifanz

    Writer

    M. Ali Ghifari

    Age Rating

    D17

    Genre

    Horror, thriller

    Duration

    103 Minutes

    Release Date

    3 September

    Theme

    Supernatural horror, exorcism, mystery

    Production House

    Unlimited Production

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

    Cast

    Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Faqih Alaydrus, Donny Damara, Nova Eliza

  2. Trailer Munafik: Melawan Iblis (2026)

    Cuplikan film Munafik: Melawan Iblis (2026)

  3. 1. Nuansa Indonesia kuat, tetapi plotnya kabur di akhir

    Munafik: Melawan Iblis coba membawa cerita aslinya ke dalam konteks Indonesia. Praktik ruqyah, kehidupan masyarakat pedesaan, serta kepercayaan terhadap gangguan gaib terasa dekat dengan kultur lokal. Adaptasi ini tidak perlu berusaha terlalu keras untuk menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia bisa percaya pada hal-hal semacam itu. Toh, konteksnya sudah ada di sekitar kita.

    Satu hal yang menarik adalah film tidak semata-mata mengandalkan jumpscare. Adegan ruqyah lebih menjadi ruang konfrontasi antara Adam dan Fitri. Ketika situasi mulai berada di luar kendali, ketegangan muncul bukan hanya karena apa yang terlihat, tetapi juga karena Adam sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang ia hadapi. Sayangnya, momentum tersebut goyah ketika memasuki babak akhir.

    Semakin mendekati klimaks, semakin banyak karakter dan konflik baru yang dimasukkan. Cerita yang sebelumnya fokus pada Adam, Fitri, dan rangkaian gangguan gaib kemudian melebar ke berbagai arah. Di sinilah Munafik: Melawan Iblis terasa kehilangan fokus. Padahal, kekuatan film justru berada pada kesederhanaan konflik dan atmosfer yang intim.

    Jika dibandingkan dengan versi aslinya, Munafik: Melawan Iblis juga kehilangan lapisan tematik yang membuat judulnya memiliki makna lebih dalam. Film aslinya tidak hanya menggunakan "munafik" sebagai judul. Ia menjadikannya fondasi karakter. Ustaz Adam mengajarkan pasrah kepada takdir Tuhan, tetapi duka, kemarahan, dan ketidakmampuannya untuk menerima kehilangan membuatnya krisis iman.

    Remake Indonesia lebih sibuk membangun misteri whodunnit dan twist dibanding mengembangkan konflik batin Ustaz Adam. Akibatnya, aspek religiusnya terasa lebih sebagai bagian dari formula horor ketimbang menjadi inti drama karakter utamanya.

  4. 2. Akting solid, tetapi pengembangan karakter terasa kurang maksimal

    Arya Saloka tampil cukup natural sebagai Adam. Karakter ustaz memang terasa cocok dengan persona yang selama ini melekat pada Arya. Namun, ia tidak sekadar bermain sebagai sosok religius yang tenang. Ia juga sedang berduka dan berusaha berdamai dengan kehilangan. Meski bukan penampilan paling spektakuler dalam kariernya, Arya mampu membuat pergulatan Adam terasa cukup meyakinkan.

    Sementara itu, Acha Septriasa menjadi salah satu kekuatan utama film. Ia tidak terlalu mengandalkan ekspresi berlebihan ketika memainkan Fitri. Kontrol tubuh dan perubahan gesturnya justru menjadi senjata penting dalam adegan-adegan kerasukan. Acha tahu kapan harus menahan diri dan kapan harus melepaskan intensitas karakter. Visual dan tata suara kemudian membantu memperbesar efek dari penampilannya.

    Donny Damara sebagai Mansur dan Nova Eliza sebagai Zulfa juga menarik perhatian karena menghadirkan karakter ambigu dan yang sulit ditebak, membuat penonton terus bertanya-tanya hingga akhir. Sayang, keduanya tidak mendapatkan ruang yang cukup. Padahal, dengan sedikit tambahan eksplorasi terhadap latar belakang dan motivasi mereka, konflik film berpotensi menjadi jauh lebih menarik.

  5. 3. Apakah Munafik: Melawan Iblis recommended untuk ditonton?

    Masih cukup direkomendasikan, terutama bagimu yang mencari film horor religi dengan konteks Indonesia. Munafik: Melawan Iblis membuktikan bahwa formula horor Malaysia berpotensi untuk diterjemahkan ke kultur Indonesia. Praktik ruqyah terasa relevan, lokasi Pacitan memberikan atmosfer yang kuat, sementara akting Acha Septriasa dan Arya Saloka cukup solid.

    Namun, film ini belum sepenuhnya berhasil menjadi remake yang mandiri. Masalah terbesarnya adalah naskah yang melebar ketika mendekati akhir. Terlalu banyak karakter, konflik, dan plot twist membuat cerita kehilangan kesederhanaannya. Ironisnya, film seperti lupa bahwa kekuatan Munafik justru terletak pada drama personal dan pertanyaan tentang natur manusia itu sendiri.

    Munafik: Melawan Iblis juga terasa lebih tertarik pada pertanyaan "Siapa iblisnya?" ketimbang "Mengapa manusia bisa menjadi munafik?" Padahal, pertanyaan kedua jauh lebih menarik. Twist di akhir berusaha memberikan pukulan emosional lewat Fight Club (1999) treatment, tetapi penggunaan lagu "Kemarin" dari Seventeen justru membuat momen tersebut terasa seperti melodrama ala FTV.

    Pada akhirnya, Munafik: Melawan Iblis adalah adaptasi yang berhasil membuat horornya terasa Indonesia. Ia punya atmosfer yang gelap, punya beberapa adegan horor yang cukup seram, dan punya deretan pemain yang mampu menghidupkan karakternya. Sayang, ketika tiba waktunya untuk menyatukan seluruh kepingan cerita, film justru tersandung oleh ambisinya sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More