Munafik: Melawan Iblis coba membawa cerita aslinya ke dalam konteks Indonesia. Praktik ruqyah, kehidupan masyarakat pedesaan, serta kepercayaan terhadap gangguan gaib terasa dekat dengan kultur lokal. Adaptasi ini tidak perlu berusaha terlalu keras untuk menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia bisa percaya pada hal-hal semacam itu. Toh, konteksnya sudah ada di sekitar kita.
Satu hal yang menarik adalah film tidak semata-mata mengandalkan jumpscare. Adegan ruqyah lebih menjadi ruang konfrontasi antara Adam dan Fitri. Ketika situasi mulai berada di luar kendali, ketegangan muncul bukan hanya karena apa yang terlihat, tetapi juga karena Adam sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang ia hadapi. Sayangnya, momentum tersebut goyah ketika memasuki babak akhir.
Semakin mendekati klimaks, semakin banyak karakter dan konflik baru yang dimasukkan. Cerita yang sebelumnya fokus pada Adam, Fitri, dan rangkaian gangguan gaib kemudian melebar ke berbagai arah. Di sinilah Munafik: Melawan Iblis terasa kehilangan fokus. Padahal, kekuatan film justru berada pada kesederhanaan konflik dan atmosfer yang intim.
Jika dibandingkan dengan versi aslinya, Munafik: Melawan Iblis juga kehilangan lapisan tematik yang membuat judulnya memiliki makna lebih dalam. Film aslinya tidak hanya menggunakan "munafik" sebagai judul. Ia menjadikannya fondasi karakter. Ustaz Adam mengajarkan pasrah kepada takdir Tuhan, tetapi duka, kemarahan, dan ketidakmampuannya untuk menerima kehilangan membuatnya krisis iman.
Remake Indonesia lebih sibuk membangun misteri whodunnit dan twist dibanding mengembangkan konflik batin Ustaz Adam. Akibatnya, aspek religiusnya terasa lebih sebagai bagian dari formula horor ketimbang menjadi inti drama karakter utamanya.