Perubahan Siti menjadi vampir sebenarnya adalah sebuah godaan. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat kehidupan yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan. Mansion mewah, lingkungan elite, dan kehidupan tanpa harus terus-menerus memikirkan uang membuat Siti sempat goyah. Dan menurut saya, bagian ini justru menjadi sisi paling menarik dari film.
Siti bukan karakter yang langsung tahu apa yang harus dilakukan. Ia manusia biasa yang tiba-tiba diberi kesempatan untuk keluar dari jurang kemiskinan. Namun, harga yang harus dibayar adalah meninggalkan kehidupan sebelumnya. Ia harus menjauh dari bapaknya, Dudi, dan para tetangga rusun yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.
Film kemudian memperluas konflik tersebut melalui Ratu Vampir dan proyek besar yang mengancam kehidupan masyarakat rusun. Siti diminta mengikuti aturan kelompok elite. Namun semakin ia mengenal dunia vampir, makin jelas bahwa kemewahan tersebut berdiri di atas sistem yang tidak berpihak kepada orang-orang seperti dirinya. Di sinilah satire Siti Si Vampir terasa.
Vampir bukan cuma makhluk supernatural. Mereka adalah representasi kelompok yang memiliki kekuasaan dan sumber daya, sementara manusia di rusun menjadi kelompok yang harus menerima dampak dari keputusan mereka. Menariknya, Nakkula juga menghadapi konflik serupa. Ia harus menentukan apakah akan berpihak kepada Ratu Vampir yang merupakan ibunya sendiri atau Siti yang mulai ia kagumi.
Keduanya akhirnya menemukan titik temu karena sama-sama memiliki alasan untuk membangkang demi orang yang mereka sayangi. Pesannya memang cukup sederhana, tetapi efektif. Ketika kekuasaan memaksa seseorang memilih antara kenyamanan dan orang-orang yang dicintai, pilihan paling manusiawi belum tentu pilihan yang paling mudah.