Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Siti Si Vampir, Satine Zaneta jadi Vampir Bekasi, Ngakak Pol!

5 min read
Review Siti Si Vampir, Satine Zaneta jadi Vampir Bekasi, Ngakak Pol!
Siti Si Vampir (dok. Viddsee/Siti Si Vampir)
  • Siti, tulang punggung keluarga di rusun, berubah menjadi vampir low-spec setelah digigit Nakkula, vampir elite, lalu melihat peluang keluar dari kesulitan ekonomi.
  • Komedi berlogat Bekasi dan kehidupan rusun menjadi pintu masuk satire kesenjangan sosial, saat Siti berhadapan dengan dunia vampir elite yang serba mewah.
  • Ketika rusunnya terancam proyek kelompok vampir elite, Siti dan Nakkula membangkang demi orang-orang terdekat, di tengah pilihan antara kenyamanan, keluarga, dan solidaritas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah membayangkan apa jadinya kalau vampir tinggal di rusun dan harus angkat galon setiap hari? Alih-alih hidup di kastil mewah dengan pakaian serba elegan, karakter Siti di film Siti Si Vampir (2026) justru punya logat Betawi yang kental, harus berurusan dengan masalah ekonomi, dan masih memikirkan apakah keluarganya sudah makan atau belum.

Premisnya terdengar kocak, tetapi justru dari situlah daya tarik film ini. Siti Si Vampir tidak cuma mengajak penonton menikmati cerita fantasi-komedi, tetapi juga menyelipkan satire tentang kesenjangan sosial, pilihan hidup, dan arti keluarga. Penasaran bagaimana vampir Bekasi ini menghadapi kehidupan barunya? Simak review Siti Si Vampir berikut ini!

  1. Sinopsis Siti Si Vampir (2026)

    Cerita Siti Si Vampir berpusat pada Siti (Satine Zaneta), seorang gadis rusun yang menjadi tulang punggung keluarganya. Ia bekerja sebagai tukang galon dan menjalani kehidupan sederhana di tengah berbagai keterbatasan ekonomi. Suatu hari, Siti bertemu Nakkula (Ciccio Manassero), vampir tampan dari kalangan elite. Pertemuan tersebut mengubah hidupnya setelah Siti tidak sengaja digigit Nakkula.

    Namun, Siti bukan vampir sempurna. Ia justru menjadi vampir low-spec dengan taring terbalik dan kemampuan yang serba tanggung. Alih-alih menganggap perubahan tersebut sebagai kutukan, Siti melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya. Ia berkesempatan masuk ke dunia vampir elite yang penuh kemewahan dan meninggalkan kehidupan sulit di rusun.

    Akan tetapi, kehidupan baru tersebut ternyata memiliki aturan dan konsekuensinya sendiri. Ketika rusun tempat tinggal Siti menjadi target kelompok vampir elite, ia harus menentukan pilihan: mengikuti sistem yang menjanjikan kehidupan mewah atau melawannya demi keluarga dan orang-orang yang selama ini ada di sisinya.

    Siti Si Vampir
    2026
    3/5
    Directed by Rahabi Mandra
    Producer

    Celerina Judisari, Kenny Png

    Writer

    Rahabi Mandra

    Age Rating

    R13

    Genre

    Drama, comedy

    Duration

    104 Minutes

    Release Date

    22 Oktober

    Theme

    Vampire, satire, female protagonist, quirky jokes

    Production House

    Viddsee, Bahagia Tanpa Drama, AZ Films, Spectrum Films, PK Films

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

    Cast

    Satine Zaneta, Ciccio Manassero, Ajil Ditto, Nugie, Kimberly Ryder

  2. Trailer Siti Si Vampir (2026)

    Cuplikan film Siti Si Vampir (2026)

  3. 1. Vampirnya melokal banget, komedinya jadi senjata utama

    Ada satu hal yang membuat Siti Si Vampir terasa berbeda sejak awal. Film ini tidak berusaha menjadikan Siti sebagai vampir Indonesia versi Hollywood. Siti tetap Siti. Ia masih berbicara dengan gaya khas warga Bekasi, harus memikirkan keluarga, menghadapi masalah ekonomi, dan mengeluh soal kehidupan meskipun sekarang memiliki taring. Dan di situlah komedinya bekerja.

    Berbagai candaan lahir dari kehidupan Siti di rusun yang serba terbatas. Dialognya terasa ringan dan cukup natural, terutama ketika Siti berinteraksi dengan Dudi yang diperankan Ajil Ditto. Keduanya punya dinamika yang membuat percakapan sederhana terasa menghibur. Logat dan gaya bicara ala Bekasi juga menjadi salah satu identitas film. Candaan tidak terasa seperti tempelan yang sengaja dimasukkan hanya agar penonton tertawa. Sebagian besar humor muncul dari karakter dan situasi yang mereka hadapi.

    Yang menarik, komedi tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk membahas kesenjangan sosial. Di satu sisi ada rusun tempat Siti dan masyarakat akar rumput berjuang menjalani kehidupan. Di sisi lain ada klan vampir elite yang hidup di mansion dengan segala kemewahannya.

    Jadi ketika Siti berubah menjadi vampir, pertanyaan yang muncul bukan cuma, "Apakah dia akan minum darah manusia?" Pertanyaannya justru menjadi jauh lebih relatable: Kalau akhirnya punya kesempatan hidup enak, apakah kamu masih mau kembali ke kehidupan lama?In this economy, pertanyaan tersebut terasa cukup berbahaya untuk dijawab.

    Secara visual, Siti Si Vampir juga mencoba memberikan identitas tersendiri dengan memadukan elemen estetika anime ke dalam format live-action. Pendekatan ini membuat dunia vampir terasa lebih ringan dan sesuai dengan karakter fantasi-komedi yang ingin dibangun.

  4. 2. Di balik kisah vampir, Siti sebenarnya sedang memilih antara uang dan keluarga

    Perubahan Siti menjadi vampir sebenarnya adalah sebuah godaan. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat kehidupan yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan. Mansion mewah, lingkungan elite, dan kehidupan tanpa harus terus-menerus memikirkan uang membuat Siti sempat goyah. Dan menurut saya, bagian ini justru menjadi sisi paling menarik dari film.

    Siti bukan karakter yang langsung tahu apa yang harus dilakukan. Ia manusia biasa yang tiba-tiba diberi kesempatan untuk keluar dari jurang kemiskinan. Namun, harga yang harus dibayar adalah meninggalkan kehidupan sebelumnya. Ia harus menjauh dari bapaknya, Dudi, dan para tetangga rusun yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.

    Film kemudian memperluas konflik tersebut melalui Ratu Vampir dan proyek besar yang mengancam kehidupan masyarakat rusun. Siti diminta mengikuti aturan kelompok elite. Namun semakin ia mengenal dunia vampir, makin jelas bahwa kemewahan tersebut berdiri di atas sistem yang tidak berpihak kepada orang-orang seperti dirinya. Di sinilah satire Siti Si Vampir terasa.

    Vampir bukan cuma makhluk supernatural. Mereka adalah representasi kelompok yang memiliki kekuasaan dan sumber daya, sementara manusia di rusun menjadi kelompok yang harus menerima dampak dari keputusan mereka. Menariknya, Nakkula juga menghadapi konflik serupa. Ia harus menentukan apakah akan berpihak kepada Ratu Vampir yang merupakan ibunya sendiri atau Siti yang mulai ia kagumi.

    Keduanya akhirnya menemukan titik temu karena sama-sama memiliki alasan untuk membangkang demi orang yang mereka sayangi. Pesannya memang cukup sederhana, tetapi efektif. Ketika kekuasaan memaksa seseorang memilih antara kenyamanan dan orang-orang yang dicintai, pilihan paling manusiawi belum tentu pilihan yang paling mudah.

  5. 3. Apakah Siti Si Vampir recommended untuk ditonton?

    Siti Si Vampir direkomendasikan untuk ditonton, terutama kalau kamu sedang mencari tontonan drama-komedi yang ringan, menghibur, dan tidak terlalu serius. Film ini punya formula yang cukup menyenangkan. Ada vampir, romansa, humor, keluarga, aksi, dan kritik sosial yang dikemas dalam cerita yang relatif mudah diikuti.

    Kekuatan terbesarnya ada pada karakter Siti dan Dudi yang mampu membawa komedi tetap hidup. Satine Zaneta berhasil membuat Siti terasa seperti karakter yang dekat dengan penonton. Ciccio Manassero pun menjadi daya tarik tersendiri, terlebih ia kembali memainkan karakter vampir setelah sebelumnya dikenal sebagai vampir lewat Ganteng-Ganteng Serigala.

    Namun, Siti Si Vampir memang bukan film yang ingin menggali mitologi vampir secara mendalam. Proyek besar yang menjadi alasan Siti harus berhadapan dengan kaum vampir elite sebenarnya punya potensi untuk dibuat jauh lebih kompleks. Sayangnya, film tidak mengeksplorasinya terlalu jauh. Klimaksnya pun tidak sekuat yang mungkin diharapkan dari film yang sudah membangun konflik antara vampir elite dan masyarakat akar rumput. Kalau kamu datang dengan ekspektasi mendapatkan horor atau thriller penuh aksi, film ini mungkin terasa kurang menggigit.

    Pada akhirnya, film ini tidak benar-benar menjawab kemampuan Siti sebagai vampir. Film justru berkutat pada pertanyaan yang jauh lebih sederhana: Kalau hidup tiba-tiba memberi kamu kesempatan untuk meninggalkan kemiskinan, tetapi harus meninggalkan orang-orang yang kamu cintai, kamu bakal memilih yang mana? Dan mungkin, untuk seorang vampir Bekasi, jawabannya tidak sesederhana menggigit leher orang.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More