Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Memburu Pemangsa, Ketika Predator Anak Lebih Seram dari Iblis

4 min read
Review Memburu Pemangsa, Ketika Predator Anak Lebih Seram dari Iblis
Memburu Pemangsa (dok. Sinemaku Pictures/Memburu Pemangsa)
  • Memburu Pemangsa mengikuti empat jurnalis perempuan yang membantu polisi memburu penculik dan pembunuh anak, dengan Agnes memakai indra keenam untuk menelusuri petunjuk korban.
  • Elemen investigasi, ancaman terhadap jurnalis, serta pembagian peran karakter membangun tensi, tetapi proses jurnalistik dinilai kurang organik karena sering dipangkas oleh kemampuan supernatural Agnes.
  • Perpaduan crime thriller, horor demonik, aksi, dan drama keluarga membuat fokus cerita kabur; unsur iblis dinilai mengurangi teror utama dari predator anak sebagai ancaman manusia nyata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagaimana jika kasus predator anak yang marak di dunia nyata dibawa ke dalam film bergenre horor, kriminal, dan aksi sekaligus? Memburu Pemangsa mencoba menjawab pertanyaan tersebut lewat kisah empat jurnalis perempuan yang memburu pelaku penculikan dan pembunuhan anak. Premisnya terdengar berani, apalagi isu kekerasan seksual terhadap anak yang kembali mencuat setelah bocornya Epstein Files.

Disutradarai Umay Shahab, Memburu Pemangsa mencoba menggabungkan investigasi kriminal dengan horor supernatural dan aksi. Sayangnya, semakin jauh film berjalan, semakin terlihat bahwa perpaduan tersebut tidak mampu menjaga kekuatan premis awalnya. Berikut ulasan kelebihan dan kekurangan film Memburu Pemangsa!

  1. Sinopsis Memburu Pemangsa (2026)

    Memburu Pemangsa mengikuti empat jurnalis, Agnes (Laura Basuki), Cia (Prilly Latuconsina), Brina (Taskya Namya), dan Anya (Yasamin Jasem), yang sedang mencari kasus kriminal untuk menjadi bahan pemberitaan kantor mereka, Daily Wave News. Di saat yang sama, Petra (Andri Mashadi), kakak Brina yang merupakan seorang polisi, tengah menyelidiki kasus anak hilang yang pelakunya belum berhasil ditemukan. Brina kemudian mengajak ketiga rekannya untuk membantu Petra mengungkap kasus tersebut.

    Masalah menjadi semakin serius ketika satu per satu anak menghilang dan ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dengan bagian tubuh tertentu yang hilang. Agnes kemudian menggunakan kemampuan indra keenamnya untuk melihat kejadian masa lalu melalui benda-benda yang berkaitan dengan para korban.

    Petunjuk yang mereka kumpulkan akhirnya mengarahkan mereka kepada seorang penculik (Teuku Rifnu Wikana) yang ternyata bukan lawan mudah. Ia bahkan mampu melawan mereka dan melarikan diri sebelum identitas serta keberadaannya berhasil terungkap sepenuhnya. Pencarian kemudian membawa mereka pada fakta bahwa "sang pemangsa" memiliki perjanjian dengan iblis.

    Keempat jurnalis akhirnya harus memilih antara menghentikan penyelidikan atau terus mencari kebenaran meski bahaya semakin mengintai mereka. Lantas, mampukah mereka menangkap sang pemangsa?

    Memburu Pemangsa
    2026
    3/5
    Directed by Umay Shahab
    Producer

    Imam Salimy

    Writer

    Rezy Junio

    Age Rating

    D17

    Genre

    Horror, crime, action

    Duration

    115 menit Minutes

    Release Date

    24 September

    Theme

    Murder investigation, sexual assault, sexual predator, child abuse, supernatural horror

    Production House

    Sinemaku Pictures

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

    Cast

    Prilly Latuconsina, Laura Basuki, Taskya Namya, Yasamin Jasem, Teuku Rifnu Wikana, Andri Mashadi, Septian Dwi Cahyo, Norman Akyuwen, Jordan Omar, Shareefa Danish

  2. Trailer Memburu Pemangsa (2026)

    Cuplikan film Memburu Pemangsa (2026)

  3. 1. Elemen investigasinya seru, tapi elemen horornya mengganggu

    Secara premis, kasus predator anak sudah cukup mengerikan tanpa perlu banyak tambahan. Ketika film menempatkan empat jurnalis perempuan sebagai pihak yang mencoba mengungkap identitas sang pemangsa, muncul potensi crime thriller yang menarik. Bagian investigasinya menjadi salah satu kekuatan film. Misteri mengenai siapa pelaku sebenarnya, pencarian petunjuk, ancaman terhadap para jurnalis, hingga keterlibatan polisi mampu membangun tensi yang cukup baik.

    Empat karakter utama juga memiliki pembagian peran yang cukup jelas. Brina lebih mengandalkan kemampuan fisik dan bela diri, Anya punya ketertarikan terhadap riset dan demonologi, Cia lebih impulsif serta berani mengambil risiko, sedangkan Agnes menjadi sosok yang memiliki keterikatan emosional lebih kuat terhadap kasus tersebut. Konsep ini sebenarnya menarik karena masing-masing karakter bisa memberikan pendekatan berbeda dalam investigasi.

    Sayangnya, skill set mereka terasa muncul ketika cerita membutuhkannya. Cia tiba-tiba punya cara tertentu untuk menghadapi situasi, Anya menjadi sumber informasi, sementara kemampuan sixth sense Agnes menjadi jalan pintas untuk menemukan petunjuk. Di sinilah proses jurnalistiknya terasa kurang organik. Investigasi kriminal biasanya membutuhkan wawancara, pencarian fakta, penelusuran sumber, dan kemungkinan menemui jalan buntu. Beberapa kali film ini justru memotong proses tersebut dengan indra keenam Agnes.

    Padahal, seandainya kemampuan Agnes lebih banyak dikaitkan dengan trauma atau konflik psikologis seperti di film The Dead Zone (1983) atau Unbreakable (2000), proses investigasinya berpotensi menjadi jauh lebih menarik. Penonton bisa melihat bagaimana para jurnalis benar-benar bekerja untuk membongkar kasus, bukan cuma menunggu petunjuk datang melalui kemampuan supernatural.

  4. 2. Terlalu banyak genre hingga mengaburkan teror utamanya

    Masalah terbesar Memburu Pemangsa muncul ketika cerita mulai bergerak semakin jauh dari crime thriller dan masuk ke demonologi serta horor supernatural. Di satu sisi, formula ini memang membuat film lebih mudah dicerna oleh masyarakat Indonesia. Ada sosok mengerikan, ancaman gaib, kemampuan indera keenam, hingga adegan yang dirancang untuk memberikan teror kepada penonton.

    Bisa dibilang kalau keputusan tersebut melemahkan sumber ketakutan paling kuat yang sudah dimiliki film sejak awal. Predator anak adalah ancaman yang mengerikan justru karena ia berasal dari realitas. Ketika film kemudian menjelaskan kejahatan tersebut melalui keterlibatan iblis, sebagian rasa takut itu berpindah dari manusia ke sesuatu yang "tidak tersentuh." Padahal, manusia sebagai predator seharusnya sudah cukup mengerikan.

    Akibatnya, Memburu Pemangsa terasa seperti kurang percaya diri dengan kekuatan crime thriller-nya sendiri. Seolah-olah film merasa membutuhkan unsur horor agar premis tersebut lebih mudah diterima sebagai tontonan komersial. Sayang seribu sayang, karena film ini sebenarnya bisa kuat berdiri sendiri dengan investigasi kasus, ancaman terhadap jurnalis, dan upaya memburu predator anak.

    Perpaduan genre bukan sesuatu yang salah. Masalahnya adalah setiap elemen membutuhkan ruang untuk berkembang. Ketika crime thriller, horor, demonologi, drama keluarga, dan aksi muncul bersamaan, fokus cerita akhirnya menjadi semakin kabur. Ditambah, durasinya kurang dari dua jam, tidak cukup lama untuk menampung semua genre sekaligus.

  5. 3. Apakah Memburu Pemangsa recommended untuk ditonton?

    Memburu Pemangsa memiliki premis yang berani dan relevan. Film ini berangkat dari isu kekerasan seksual terhadap anak, lalu menggabungkannya dengan perspektif jurnalis perempuan yang mencoba mengungkap kasus tersebut. Sayangnya, investigasi terhadap kasus tersebut tidak sepenuhnya dimaksimalkan seperti di film Spotlight (2015). Begitu unsur demonologi, sixth sense, dan horor supernatural semakin dominan, film justru kehilangan unsur crime thriller yang sebelumnya sudah dibangun dengan apik.

    Secara visual, atmosfer gelap, ruang sempit, lorong, dan pencahayaan redup memang berhasil menciptakan rasa tidak nyaman. Namun, bahasa visualnya tidak banyak berubah ketika film berpindah dari investigasi kriminal menuju horor demonik. Visual yang seharusnya membantu membedakan dua pendekatan tersebut pun kurang menggigit. Bagi yang ingin menonton, disarankan tidak membawa ekspektasi bahwa film ini akan menjadi investigasi kriminal yang sepenuhnya realistis.

    Pada akhirnya, hal paling menarik dari Memburu Pemangsa justru ada pada pertanyaan sederhana yang dibangun sejak awal: seberapa mengerikannya manusia ketika menjadi "pemangsa"? Sayangnya, film terlalu sering mencari jawabannya melalui iblis. Padahal tanpa makhluk gaib sekalipun, manusia yang menjadi predator sudah cukup untuk menebar teror.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More