Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tren Wisata 2027: Ini Aktivitas Liburan yang Bakal Digandrungi Wisatawan!

5 min read
Tren Wisata 2027: Ini Aktivitas Liburan yang Bakal Digandrungi Wisatawan!
Potret wisatawan berenang di Ha Long Bay, Vietnam (pexels.com/Rachel Claire)
  • Survei Agoda terhadap 3.395 responden di 11 pasar Asia memprediksi minat perjalanan internasional 2027 meningkat; 38% responden berencana lebih sering ke luar negeri, meski biaya tetap menentukan.

  • Penggunaan AI untuk merencanakan perjalanan naik menjadi 53%, untuk menyusun itinerary, mencari inspirasi, dan membandingkan opsi. Namun, 57% responden masih memilih memesan hotel sendiri.

  • Kuliner dan budaya masing-masing menjadi alasan perjalanan bagi 54% responden. Wisatawan juga cenderung memilih liburan lebih lama, destinasi tersembunyi, serta dipengaruhi media sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cara wisatawan merencanakan dan menikmati perjalanan terus berkembang mengikuti perubahan teknologi, gaya hidup, hingga preferensi dalam memilih destinasi. Pada 2027, perjalanan ke luar negeri diperkirakan semakin diminati, sedangkan pengalaman kuliner, eksplorasi budaya, dan kunjungan ke tempat yang belum terlalu ramai turut menjadi daya tarik tersendiri.

Perkembangan teknologi juga ikut memengaruhi kebiasaan wisatawan. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) misalnya, mulai dimanfaatkan untuk mencari inspirasi destinasi hingga menyusun rencana perjalanan. Berbagai perubahan tersebut tercatat dalam laporan 2027 Asia Travel Pulse yang dirilis Agoda berdasarkan survei terhadap 3.395 responden dari 11 pasar Asia, termasuk Indonesia. Survei ini berlangsung pada September hingga Oktober 2026.

Dilansir dari laporan 2027 Asia Travel Pulse yang diterbitkan Agoda, Kamis (5/11/2026), terdapat lima tren perjalanan yang diperkirakan mewarnai kebiasaan wisatawan Asia pada 2027. Berikut ulasannya.

  1. 1. Minat bepergian ke luar negeri meningkat

    Perjalanan ke luar negeri diperkirakan semakin diminati wisatawan Asia pada 2027. Sebanyak 38 persen responden menyatakan berencana lebih sering melakukan perjalanan internasional dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut meningkat dari 24 persen pada 2026.

    Minat tertinggi tercatat di Hong Kong dengan 82 persen responden, disusul Singapura sebesar 81 persen dan Korea Selatan sebesar 51 persen. Sebaliknya, wisatawan Jepang dan Thailand masih cenderung memilih perjalanan domestik, masing-masing sebesar 65 persen dan 54 persen.

    Meski keinginan bepergian meningkat, biaya tetap menjadi pertimbangan penting. Sebanyak 45 persen responden menyebut penurunan ongkos perjalanan dapat mendorong mereka untuk lebih sering berwisata. Hal ini menunjukkan bahwa harga tiket, akomodasi, dan biaya selama liburan masih berpengaruh terhadap keputusan wisatawan dalam menentukan tujuan perjalanan.

  2. 2. Penggunaan AI untuk merencanakan perjalanan meningkat

    Potret menggunakan AI
    Potret menggunakan AI (pexels.com/Sanket Mishra)

    Teknologi kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari kebiasaan wisatawan dalam menyusun rencana perjalanan. Proporsi responden yang menggunakan AI untuk keperluan tersebut meningkat dari 33 persen menjadi 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Pemanfaatannya cukup beragam, mulai dari menyusun rencana perjalanan, mencari inspirasi destinasi, hingga membandingkan pilihan hotel dan penerbangan. Sebanyak 64 persen responden tertarik menggunakan AI untuk membuat rencana perjalanan. Sementara itu, 45 persen ingin memanfaatkannya untuk mencari inspirasi dan 44 persen untuk membandingkan akomodasi atau penerbangan.

    Penggunaan teknologi ini belum sepenuhnya menggantikan peran manusia. Sebanyak 57 persen responden masih memilih memesan hotel sendiri daripada menyerahkan proses tersebut kepada AI. Kepercayaan terhadap teknologi juga dipengaruhi keberadaan ulasan nyata dari wisatawan lain (25 persen), kejelasan sumber data (24 persen), dan akses untuk menghubungi petugas manusia (18 persen).

    Di Indonesia, penggunaan AI untuk perencanaan perjalanan mencapai 33 persen. Angka tersebut meningkat tujuh poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih menjadi yang terendah di antara 11 pasar Asia yang disurvei.

  3. 3. Kuliner dan budaya menjadi alasan utama bepergian

    Wisata tidak lagi sekadar mengunjungi tempat populer atau menikmati pemandangan. Pengalaman lokal, terutama mencicipi makanan khas dan mengenal budaya setempat, juga menjadi alasan penting bagi wisatawan dalam menentukan tujuan perjalanan.

    Dalam laporan Agoda, pengalaman kuliner dan eksplorasi budaya sama-sama dipilih oleh 54 persen responden sebagai alasan utama bepergian pada 2027. Keduanya diikuti kegiatan berbelanja sebesar 38 persen, aktivitas luar ruang 28 persen, serta menghadiri acara tertentu sebanyak 19 persen.

    Ketertarikan terhadap wisata kuliner paling tinggi terlihat di Taiwan dengan 75 persen responden, Hong Kong 74 persen, dan Korea Selatan 71 persen. Sedangkan, di Indonesia, sebanyak 48 persen responden menyebut pengalaman kuliner sebagai salah satu alasan melakukan perjalanan.

    Media sosial juga semakin memengaruhi keputusan wisatawan. Sebanyak 47 persen responden mengaku terpengaruh oleh platform tersebut ketika menentukan tujuan liburan, meningkat dari 18 persen pada tahun sebelumnya. Selain itu, 14 persen responden berencana mengunjungi lokasi yang berkaitan dengan film, serial televisi, atau budaya populer.

  4. 4. Wisatawan memilih perjalanan lebih sedikit dengan durasi lebih panjang

    Potret slow travel
    Potret slow travel (pexels.com/Ron Lach)

    Alih-alih sering bepergian dalam waktu singkat, sebagian wisatawan Asia mulai mempertimbangkan perjalanan dengan frekuensi lebih sedikit, tetapi durasi liburan yang lebih panjang. Tren ini terlihat dari 41 persen responden yang berencana melakukan satu hingga tiga perjalanan sepanjang 2027. Angka tersebut meningkat dari 29 persen pada 2026.

    Kecenderungan untuk tinggal lebih lama juga terlihat dari jumlah responden yang memperkirakan akan melakukan perjalanan selama delapan hari atau lebih. Proporsinya mencapai 21 persen, naik dibandingkan 16 persen pada tahun sebelumnya.

    Meski demikian, anggaran tetap menjadi bagian penting dalam perencanaan liburan. Sebanyak 73 persen responden mengalokasikan maksimal 100 Dolar AS atau sekitar Rp1,8 juta per malam untuk akomodasi. Di sisi lain, Thailand mencatat proporsi wisatawan yang berencana melakukan perjalanan paling sering. Sebanyak 24 persen responden dari negara tersebut memperkirakan akan bepergian sebanyak 11 kali atau lebih dalam setahun.

  5. 5. Destinasi tersembunyi mulai menarik perhatian

    Destinasi populer bukan lagi satu-satunya pilihan wisatawan untuk menghabiskan waktu liburan. Tempat yang belum banyak dikenal, kota kecil, hingga kawasan yang tidak terlalu ramai mulai dilirik sebagai alternatif perjalanan pada 2027.

    Sebanyak 36 persen responden menyatakan kemungkinan mengunjungi destinasi tersembunyi atau tempat yang belum terlalu ramai. India mencatat minat tertinggi dengan 55 persen responden yang tertarik menjelajahi lokasi semacam itu.

    Selain mencari suasana yang lebih tenang, biaya perjalanan juga menjadi pertimbangan. Sebanyak 33 persen responden memilih destinasi tersebut karena faktor harga yang lebih terjangkau. Sebanyak 23 persen lainnya mempertimbangkan keamanan dan keselamatan sebagai alasan untuk mengunjungi tempat yang belum terlalu ramai.

    Tren ini menunjukkan bahwa wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih beragam, tidak hanya terpaku pada destinasi populer. Kota kecil dan tempat yang belum banyak dikunjungi pun berpeluang menjadi pilihan menarik untuk menikmati suasana baru sekaligus mengenal kehidupan lokal. Poin mana yang kamu banget, nih?

Related Articles

See More