Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Horor Komedi yang Makin Chaos!
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (dok. Starvision/Sekawan Limo 2: Gunung Klawih)
  • Sekawan Limo 2: Gunung Klawih melanjutkan kisah geng pendaki dengan nuansa horor-komedi khas Jawa Timur yang lebih ramai, emosional, dan penuh mitos pesugihan serta dunia demit.
  • Film ini mencoba menggabungkan isu sosial seperti tragedi 1998 dan diskriminasi etnis Tionghoa, namun eksekusinya terasa berputar antara drama, komedi, dan horor tanpa fokus yang kuat.
  • Meskipun unsur horornya tidak dominan, film ini tetap menghibur lewat chemistry karakter, humor receh khas Bayu Skak, serta peningkatan sinematografi dan tata artistik dunia demit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah sukses besar lewat film pertamanya yang berhasil menembus 2,5 juta penonton, film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) akhirnya siap melanjutkan petualangan geng pendaki paling sial di Indonesia. Kali ini, Bayu Skak kembali membawa nuansa horor-komedi khas Jawa Timur yang lebih ramai, lebih heboh, dan tentunya lebih emosional dibanding film sebelumnya.

Diproduksi oleh Starvision dan Skak Studios, film ini mencoba memperluas semesta Sekawan Limo dengan menghadirkan konflik baru soal pesugihan, dunia demit, hingga trauma masa lalu yang berkaitan dengan tragedi 1998. Tapi, apakah sekuelnya berhasil melampaui film pertama? Berikut ulasannya!

Sinopsis Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026)

Tiga tahun setelah kejadian di film pertama, Bagas, Lenni, Juna, Andrew, dan Dicky akhirnya kembali berkumpul. Momen reuni itu awalnya terasa hangat dan menyenangkan, karena mereka berniat merayakan ulang tahun anak Andrew. Namun suasana berubah drastis ketika mereka mengetahui bahwa keluarga Andrew ternyata sedang berada dalam ancaman besar.

Sebuah kutukan pesugihan dari Gunung Klawih disebut mengincar nyawa keluarga Andrew sebagai tumbal. Demi menyelamatkan sahabat mereka, kelima sahabat itu memutuskan kembali melakukan perjalanan menuju gunung yang penuh misteri tersebut. Namun seperti yang sudah bisa ditebak, perjalanan mereka sama sekali tidak berjalan mulus.

Situasi makin kacau ketika Juna tiba-tiba menghilang secara misterius dan tersesat ke dunia demit. Di sisi lain, berbagai teror aneh mulai bermunculan sepanjang perjalanan mereka. Mulai dari sosok-sosok gaib, ritual pesugihan, sampai rahasia masa lalu yang perlahan terbongkar satu per satu.

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih
2026
3/5
Directed by Bayu Skak
ProducerChand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar
WriterNona Ica
Age RatingR13
GenreHorror, comedy
Duration122 Minutes
Release Date27 Mei
ThemeComedy horror, mountain adventure, supernatural, fantasy
Production HouseStarvision, Skak Studios
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastBayu Skak, Nadya Arina, Benidictus Siregar, Indra Pramujito, Firza Valaza, Jihane Almira, Elsa Japasal, Joshua Suherman, Cak Kartolo, Ning Tini, Audya Ananta, Ellea Candice,  Cak Ukil, Ferry Salim, Gisella Anastasia, Marwoto, Brandon Salim, Devina Aureel, Tutus Thomson, Andy Sugar, Irene Suwandi

Trailer Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026)

1. Sekuel yang tetap pecah dan cocok jadi tontonan rame-rame

Meski premisnya terdengar gelap, Sekawan Limo 2 tetap sadar betul bahwa kekuatan utamanya ada di interaksi absurd para karakternya. Humor khas Bayu Skak masih jadi senjata utama film ini. Candaan receh, dialog Jawa Timuran yang ngalor-ngidul, sampai pertengkaran random antarkarakter sukses bikin bioskop ramai ketawa sepanjang film.

Yang paling mencuri perhatian jelas duo Cak Kartolo dan Ning Tini. Chemistry mereka benar-benar kacau tapi natural. Kehadiran mereka membuat film ini terasa hidup, apalagi ketika komedinya mulai terlalu ramai dan nyaris lepas kendali.

Menariknya, dunia demit di film ini juga terasa lebih luas dibanding film pertama. Ada usaha memperbesar lore semesta Sekawan Limo, termasuk memperkenalkan mitos Gunung Klawih yang menjadi plesetan dari Gunung Kawi. Nuansa mistis Jawa yang dibalut komedi receh inilah yang membuat filmnya tetap terasa unik di tengah banjir horor lokal yang cenderung punya formula serupa.

2. Ambisi ceritanya besar, tapi eksekusinya terasa berputar-putar

Di balik semua kelucuan itu, Sekawan Limo 2 sebenarnya mencoba membawa isu yang cukup berat. Film ini menyinggung tragedi sosial 1998 dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sebagai akar dari praktik pesugihan yang terjadi di Gunung Klawih. Ide tersebut sebenarnya menarik karena memberi lapisan emosional dan sosial yang lebih serius dibanding film pertama.

Sayangnya, naskah film ini belum sepenuhnya mampu menyeimbangkan antara drama, komedi, dan horor. Durasi film terasa cukup panjang, sementara konflik utamanya baru benar-benar berjalan setelah hampir satu jam pertama. Pendakiannya sendiri justru terasa datang terlambat, padahal elemen survival dan horor gunung itulah yang banyak ditunggu penonton sejak awal.

Beberapa subplot juga terasa terlalu melebar tanpa arah yang jelas. Ada momen ketika film seperti bingung ingin menjadi horor emosional, komedi absurd, atau drama persahabatan. Akibatnya, klimaks film terasa kurang menghantam secara emosional maupun menyeramkan.

Meski begitu, satu hal yang patut diapresiasi adalah bagaimana film ini tetap mencoba menghadirkan representasi budaya dan sejarah ke dalam cerita populernya. Bayu Skak tampak berusaha menyisipkan komentar sosial di balik semua kekacauan yang terjadi. Memang belum semuanya berhasil dieksekusi dengan mulus. Namun setidaknya, ada keberanian untuk membuat sekuelnya terasa punya sesuatu untuk dibicarakan, bukan sekadar jual nostalgia film pertama.

3. Apakah Sekawan Limo 2: Gunung Klawih recommended untuk ditonton?

Kalau mencari horor yang benar-benar seram dan penuh misteri, mungkin Sekawan Limo 2 bukan jawabannya. Unsur horornya memang ada, beberapa jumpscare juga lumayan efektif, tapi fokus utama film ini tetap ada pada komedi dan chemistry antar karakternya. Bahkan ada beberapa penonton yang mungkin merasa film ini terlalu ramai bercanda sampai atmosfer horornya jadi kurang menggigit.

Namun kalau tujuanmu adalah mencari tontonan pelepas penat yang seru ditonton rame-rame, film ini tetap sangat menghibur. Brotherhood antar karakter masih terasa hangat, humornya sering kali kena, dan sinematografinya meningkat cukup drastis dibanding film pertama. Beberapa adegan dunia demit juga tampil lebih imersif dengan tata artistik dan makeup yang lebih matang.

Memang, secara struktur cerita film pertamanya masih terasa lebih rapi dan solid. Tapi Sekawan Limo 2: Gunung Klawih tetap punya pesona sendiri sebagai sekuel yang lebih besar, lebih heboh, dan lebih ambisius.

Jadi, apakah Sekawan Limo 2: Gunung Klawih recommended untuk ditonton? Jawabannya iya, terutama kalau kamu datang dengan ekspektasi ingin tertawa sambil menikmati horor ringan bareng teman atau keluarga. Film ini mungkin tidak selalu berhasil dalam semua aspek, tapi cukup sukses jadi tontonan chaos yang menghibur dari awal sampai akhir.

Editorial Team

Related Article