Di balik semua kelucuan itu, Sekawan Limo 2 sebenarnya mencoba membawa isu yang cukup berat. Film ini menyinggung tragedi sosial 1998 dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sebagai akar dari praktik pesugihan yang terjadi di Gunung Klawih. Ide tersebut sebenarnya menarik karena memberi lapisan emosional dan sosial yang lebih serius dibanding film pertama.
Sayangnya, naskah film ini belum sepenuhnya mampu menyeimbangkan antara drama, komedi, dan horor. Durasi film terasa cukup panjang, sementara konflik utamanya baru benar-benar berjalan setelah hampir satu jam pertama. Pendakiannya sendiri justru terasa datang terlambat, padahal elemen survival dan horor gunung itulah yang banyak ditunggu penonton sejak awal.
Beberapa subplot juga terasa terlalu melebar tanpa arah yang jelas. Ada momen ketika film seperti bingung ingin menjadi horor emosional, komedi absurd, atau drama persahabatan. Akibatnya, klimaks film terasa kurang menghantam secara emosional maupun menyeramkan.
Meski begitu, satu hal yang patut diapresiasi adalah bagaimana film ini tetap mencoba menghadirkan representasi budaya dan sejarah ke dalam cerita populernya. Bayu Skak tampak berusaha menyisipkan komentar sosial di balik semua kekacauan yang terjadi. Memang belum semuanya berhasil dieksekusi dengan mulus. Namun setidaknya, ada keberanian untuk membuat sekuelnya terasa punya sesuatu untuk dibicarakan, bukan sekadar jual nostalgia film pertama.