Pengalaman Nonton The Odyssey di Bioskop 4DX, Kayak Lagi Naik Wahana!

Jakarta, IDN Times - Sejak The Odyssey karya Christopher Nolan tayang, timeline media sosial saya dipenuhi video penonton yang mencoba format 4DX. Mulai dari kursi yang bergerak, efek angin, sampai reaksi penonton yang teriak sekaligus tertawa karena sensasinya disebut mirip naik wahana.
Karena penasaran, saya akhirnya memutuskan menjadikan The Odyssey sebagai film pertama yang saya tonton di studio 4DX. Saya termasuk tipe penonton yang lebih memprioritaskan kualitas cerita dibanding jenis layar, kursi, atau teknologi bioskop yang digunakan. Jadi, saya datang tanpa ekspektasi berlebihan. Tujuan saya sederhana, ingin membuktikan apakah pengalaman 4DX memang seheboh yang ramai dibicarakan atau sebenarnya cuma sekadar gimik.
Setelah hampir tiga jam berada di dalam studio, saya akhirnya paham kenapa format ini punya banyak penggemar. Pengalaman menontonnya memang terasa sangat berbeda dibanding bioskop biasa. Meski begitu, ada beberapa hal yang menurut saya sangat berkesan, sekaligus beberapa catatan yang mungkin perlu kamu pertimbangkan sebelum memutuskan membeli tiket 4DX.
1. Perdana merasakan studio 4DX dengan film Christopher Nolan

Ini benar-benar pengalaman pertama saya mencoba format 4DX. Selain karena memang penasaran dengan film terbaru Christopher Nolan, media sosial juga dipenuhi orang-orang yang menyebut film ini paling cocok ditonton di format tersebut. Saya pun sengaja memilih jadwal hari kerja atau weekday supaya suasananya tidak terlalu ramai. Namun, ternyata dugaan saya meleset.
Jadwal siang hingga malam banyak yang sudah penuh. Saya akhirnya mendapatkan kursi di jadwal terakhir hari Senin (20/7/2026) pukul 21.05 WIB yang ternyata masih dipenuhi cukup banyak penonton. Padahal itu sudah malam dan bukan akhir pekan. Gak sedikit penonton yang tampak menggunakan kemeja kantor, seperti batik dan membawa laptop, sama seperti saya yang pulang kerja langsung menuju mal Grand Indonesia.
Sebelum masuk studio, saya sempat berpikir efek 4DX mungkin hanya akan terasa sesekali. Saya bahkan sempat bertanya-tanya apakah kursinya akan bergerak terus selama film berlangsung atau hanya di adegan tertentu. Rasa penasaran itu justru membuat saya semakin antusias menunggu lampu studio dipadamkan.
Begitu logo studio muncul dan film dimulai, saya langsung sadar pengalaman ini memang berbeda. Bahkan sebelum adegan-adegan besar dimulai, kursinya sudah memberikan sedikit gerakan yang membuat saya langsung berpikir, “Oh…, ternyata memang bakal seperti ini sensasinya.”
2. Rasanya seperti menaiki wahana yang digarap Christopher Nolan

Bagian paling menyenangkan tentu datang saat film mulai memasuki adegan-adegan aksi. Ketika anak panah melesat ke arah kamera, saya bisa merasakan hembusan angin dari samping kepala. Dengan latar belakang lautan, efek cipratan air juga cukup intens. Dari atas kepala, dari depan, hingga dari bawah kaki. Buat kamu yang gak nyaman basah-basahan, ada pilihan untuk mematikan fasilitas ini, ya.
Saat kapal Odysseus diterjang ombak dan badai di tengah lautan, kursi ikut bergoyang mengikuti arah gelombang. Rasanya benar-benar seperti sedang berada di atas kapal. Yang membuat saya kaget, gerakan kursinya ternyata cukup kuat di beberapa adegan. Saya sempat refleks berpegangan ke sandaran tangan karena guncangannya cukup terasa. Kursi dibawa miring ke kanan-kiri, lalu beberapa adegan juga membawa kursi seperti menanjak dan diturunkan ke bawah. Gerakan kursinya benar-benar gak ketebak.
Lucunya, saya beberapa kali tertawa bersama penonton lain. Bukan karena adegan filmnya lucu, tetapi karena sensasi kursi yang bergerak tiba-tiba membuat seluruh studio bereaksi bersamaan. Ada momen ketika semua orang spontan tertawa atau berseru, karena benar-benar terasa seperti sedang naik wahana di taman hiburan. Padahal dalam layar, Odysseus lagi tampak kesusahan bertahan di atas kapal.
3. Seru, tapi bioskop 4DX sangat sedikit jumlahnya

Setelah selesai menonton, saya langsung kepikiran ingin mencoba film lain di format 4DX. Sayangnya, pilihan studionya memang belum sebanyak bioskop reguler. Tidak semua mal memiliki studio 4DX sehingga kita harus menyesuaikan lokasi sekaligus jadwal tayangnya. Di Jakarta sendiri, saat ini studio 4DX baru tersedia di CGV Central Park dan CGV Grand Indonesia. Pilihan jam tayangnya juga tidak terlalu banyak, apalagi untuk film yang sedang ramai.
Kalau ingin mencoba, saya benar-benar menyarankan membeli tiket beberapa hari sebelumnya, terutama kalau berencana datang saat akhir pekan atau malam hari. Dari pengalaman saya saja, weekday pukul 21.05 WIB masih cukup ramai. Jadi saya bisa membayangkan bagaimana cepat habisnya tiket saat Sabtu atau Minggu.
Meski seru, menurut saya format ini belum tentu cocok untuk semua orang. Kalau kamu termasuk penonton yang sangat memerhatikan komposisi gambar, sinematografi, atau ingin menikmati film Christopher Nolan dengan fokus penuh, mungkin pengalaman 4DX justru sedikit mengalihkan perhatian. Tapi kalau tujuanmu mencari pengalaman menonton yang seru dan berbeda, menurut saya sensasinya benar-benar worth it. Durasi 3 jam tidak terasa, begitu pula lelah pulang kerja menguap terbawa angin segar yang selalu muncul di adegan-adegan pantai.
Untuk pengalaman pertama bersama The Odyssey, saya sama sekali tidak menyesal. Justru sekarang saya paham kenapa banyak orang rela berburu tiket 4DX demi merasakan sensasi menonton yang benar-benar berbeda dari bioskop biasa.





















