Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Suka Duka Tawa, Drama-Komedi yang Bikin Huhu Haha

Review Suka Duka Tawa, Drama-Komedi yang Sukses Bikin Baper.jpeg
Suka Duka Tawa (dok. BION Sinema/Suka Duka Tawa)
Intinya sih...
  • Komedi lahir dari luka, bukan punchline
  • Isu fatherless diolah dengan perspektif dewasa dan berimbang
  • Akting solid Teuku Rifnu Wikana sebagai pusat emosi film
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

"I think the saddest people always try their hardest to make people happy."

Kalimat mendiang Robin Williams barusan mungkin terasa pas menggambarkan Suka Duka Tawa (2026), film debut penyutradaraan solo Aco Tenri. Film ini hadir sebagai pembuka tahun yang tak cuma mengundang gelak tawa, tetapi juga mengajak penonton menengok luka-luka yang sudah mengendap lama.

Lewat drama-komedi yang sensitif dan penuh empati, Suka Duka Tawa menyoroti orang-orang yang hidupnya dihabiskan untuk membuat orang lain tertawa, meski hati sendiri retak. Hasilnya? Film yang dekat, personal, dan reflektif. Lalu, apa saja kelebihan dan kekurangannya? Yuk, simak di bawah!

Sinopsis Suka Duka Tawa (2025)

Film ini mengisahkan Tawa (Rachel Amanda), seorang komika muda yang tengah merintis karier. Panggung-panggung kecil di kafe belum memberinya terobosan berarti, sehingga ia harus menjalani berbagai pekerjaan serabutan demi bertahan hidup bersama ibunya, Indah alias Cantik (Marissa Anita).

Popularitas Tawa justru melonjak ketika ia menjadikan trauma dan aib ayahnya, Pak Hasan alias Keset (Teuku Rifnu Wikana), sebagai materi stand-up. Keset sendiri adalah pelawak senior yang menelantarkan keluarganya. Ketika karier Tawa menanjak, kehidupan Keset justru runtuh. Pertemuan kembali ayah-anak ini membuka luka lama sekaligus memberi ruang rekonsiliasi yang tak pernah sederhana.

Di sisi lain, Tawa dikelilingi sahabat-sahabat absurd dan setia, Iyas (Bintang Emon), Adin (Enzy Storia), Nasi (Arif Brata), dan Fachri (Gilang Bhaskara). Setiap hari, mereka menertawakan masalah hidup bersama-sama. Dari mereka lah, Tawa belajar untuk bertumbuh, menemukan keberanian, dan perlahan mengubah luka menjadi tawa.

Suka Duka Tawa
2025
3.5/5
Directed by Aco Tenriyagelli
Producer

Ajish Dibyo

Writer

Indriani Agustina, Aco Tenriyagelli

Age Rating

R13

Genre

Drama, comedy, family, stand-up

Duration

127 Minutes

Release Date

8 January

Theme

Drama Comedy

Production House

BION Sinema

Where to Watch

Bioskop

Cast

Rachel Amanda, Myesha Lin, Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, Enzy Storia, Bintang Emon, Gilang Bhaskara, Arif Brata, Abdel Achrian, Sasongko Widjanarko, Nazyra C. Noer

Trailer Suka Duka Tawa (2025)

Cuplikan film Suka Duka Tawa (2025)

Review Suka Duka Tawa

1. Komedi yang lahir dari luka, bukan sekadar punchline

Salah satu kekuatan utama Suka Duka Tawa terletak pada pemahaman Aco bahwa komedi tidak selalu lahir dari momen lucu, melainkan dari luka yang belum selesai. Film ini dengan sadar menjauh dari komedi stand-up yang sekadar mengejar tawa instan. Justru, banyak momen lucu muncul dari interaksi sehari-hari antar karakter, dari celetukan sarkas, reaksi spontan, hingga kekonyolan latar yang terasa sangat "Indonesia".

Duo penulis naskah, Indriani Agustina dan Aco tampak memahami bahwa humor bisa bekerja paling efektif ketika dibiarkan tumbuh alami. Comic timing diarahkan dengan presisi. Reaksi kecil, jeda sunyi, atau ekspresi canggung sering kali lebih menggelitik dibanding verbal jokes yang dipaksakan. Pendekatan ini membuat film terasa lentur, mampu bergerak di antara tawa dan kesedihan tanpa terasa patah.

2. Isu fatherless yang diolah dengan perspektif dewasa dan berimbang

Isu fatherless atau ketidakhadiran ayah, yang belakangan akrab di kalangan Gen Z dengan berbagai istilah seperti yatim pasif, yatim struktural, atau yatim fungsional, diangkat dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Film ini tidak menjadikan satu pihak sebagai penjahat mutlak. Tawa, Keset, dan Cantik digambarkan sama-sama terluka sekaligus sama-sama pernah melukai.

Pendekatan ini membuat konflik keluarga dalam Suka Duka Tawa terasa lebih manusiawi. Luka masa lalu tidak disederhanakan, tetapi juga tidak dijadikan pembenaran mutlak atas sikap toksik karakternya. Film ini menunjukkan bagaimana siklus saling menyakiti bisa terbentuk, sekaligus membuka kemungkinan untuk berhenti, meski tidak selalu lewat jalan yang sempurna atau ideal.

3. Akting solid dari Teuku Rifnu Wikana sebagai pusat emosi film

Tak berlebihan jika mengatakan kalau Teuku Rifnu Wikana mencuri hampir seluruh adegan yang melibatkannya. Ia masuk ke persona pelawak senior dengan begitu natural, seolah karakter Keset telah hidup bersamanya bertahun-tahun. Senyum yang tampak ringan sering kali beriringan dengan mata yang menyimpan penyesalan mendalam karena meninggalkan keluarganya.

Kehebatan Teuku Rifnu terletak pada kemampuannya menahan emosi. Ada momen ketika Keset nyaris tak berkata apa-apa. Namun, diamnya justru berbicara paling keras. Adegan-adegannya bersama Marissa Anita menjadi demonstrasi akting kelas atas, mempertemukan dua karakter dewasa yang sama-sama terluka, lelah, tapi ingin memperbaiki sesuatu yang mungkin sudah terlambat.

4. Tawa sebagai protagonis yang sengaja tidak disempurnakan

Karakter Tawa ditulis sebagai protagonis yang jauh dari ideal. Ia egois, sering menyakiti orang-orang terdekatnya, dan menjadikan lukanya sebagai senjata. Bagi sebagian penonton, hal ini bisa terasa menjengkelkan. Namun, justru di situlah keberanian film ini. Suka Duka Tawa tidak meminta kita selalu menyukai Tawa, melainkan memahami dari mana kemarahannya berasal.

Meski demikian, kritik bahwa karakternya terasa "childish" juga valid. Resolusi emosionalnya memang tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran Tawa sendiri, melainkan banyak diberikan oleh lingkungannya, termasuk sahabat-sahabatnya. Ini membuat akhir film terasa aman, meski masih bisa diterima karena karakter-karakternya memang telah melalui perjalanan emosional yang panjang.

5. Apakah Suka Duka Tawa recommended untuk ditonton?

Suka Duka Tawa adalah film yang jujur pada judulnya. Ia menawarkan tawa yang lahir dari kepedihan dan duka lewat penyampaian yang hangat. Tidak sempurna, terkadang berantakan, dan terlalu bergantung pada resonansi personal penonton. Konklusi yang diambil juga bisa dianggap terlalu "main aman". Namun dalam konteks film ini, resolusi tersebut terasa layak.

Film ini cocok bagimu yang sedang mencari komedi-drama keluarga, sekaligus mau duduk sejenak bersama luka, memeriksanya, lalu perlahan belajar memaafkan. Jika kamu ingin tontonan yang bisa membuat tertawa sekaligus diam lama setelah lampu bioskop menyala, Suka Duka Tawa layak diberi kesempatan. Film ini tayang di bioskop mulai 8 Januari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria
Follow Us

Latest in Hype

See More

7⁠ ⁠Potret Keakraban Yasmin Napper dan Baskara Mahendra, Kompak!

10 Jan 2026, 11:03 WIBHype