Kesalahan pertama saat menonton The End of Oak Street adalah menganggap film ini sebagai Jurassic Park di lingkungan perumahan. Memang, premisnya memiliki dinosaurus yang berkeliaran di sekitar manusia biasa. Namun, David Robert Mitchell justru menggunakan dinosaurus sebagai bagian dari dunia yang jauh lebih luas.
Gagasan awal film ini bahkan terdengar sederhana: bagaimana jika seekor dinosaurus tiba-tiba muncul di sebuah lingkungan suburban Amerika? Dari pertanyaan tersebut, Mitchell kemudian mengembangkan cerita yang mencampurkan kehidupan keluarga, misteri, survival, humor, hingga teror. Pengaruh film petualangan klasik juga terasa cukup kuat. The End of Oak Street memiliki nuansa blockbuster era 1970-an dan 1980-an, terutama dari caranya mempertemukan keluarga biasa dengan situasi luar biasa. Namun, ada sisi yang lebih gelap di dalamnya.
Film ini juga tidak selalu memandang dinosaurus sebagai makhluk spektakuler yang mengundang rasa kagum. Dalam beberapa momen, mereka menjadi predator yang benar-benar mengancam nyawa. Ketegangan survival tersebut membuat film terasa lebih keras daripada tampilan awalnya. Menariknya lagi, Mitchell tidak langsung memberikan seluruh jawaban mengenai apa yang terjadi pada Oak Street. Mengapa lingkungan tersebut berpindah? Ke mana mereka sebenarnya pergi? Apakah ini masa lalu, dunia alternatif, atau sesuatu yang berada di luar pemahaman manusia?
Misteri tersebut menjadi mesin utama yang membuat cerita terus bergerak. Dinosaurus memang menjadi daya tarik di poster, tetapi pertanyaan mengenai dunia tempat keluarga Platt terjebak justru merupakan jantung film. Ada pula aroma Cloverfield (2008) yang mungkin terasa familier bagi sebagian penonton. Peristiwa kosmik, serta gagasan mengenai sebuah lingkungan yang tiba-tiba terlempar ke realitas lain memang memancing spekulasi mengenai kemungkinan koneksi dengan franchise tersebut. Anggap saja itu sebagai teori fans, bukan fakta.