cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times)
Kepedulian Reza terhadap isu pendidikan tidak hanya ditunjukkan melalui keterlibatannya dalam organisasi. Ia juga berusaha membawa persoalan tersebut ke ruang publik melalui tulisan. Salah satunya ketika ia menulis di Kompas mengenai infrastruktur sekolah dan kebutuhan anggaran untuk memperbaiki bangunan yang rusak. Reza menjelaskan bahwa tulisan tersebut berangkat dari upayanya membaca data mengenai kondisi sekolah di Indonesia dan kemudian mencoba menghitung kebutuhan anggaran dengan mengacu pada pagu yang ditetapkan pemerintah.
“Intinya tuh sebenarnya adalah bagaimana berbicara mengenai kebijakan anggaran. Waktu itu salah satu fokusnya, kita punya sekian ratus ribu data tentang sekolah, baik rusak ringan, sedang, maupun berat. Lalu pada tulisan itu aku iseng-iseng mencoba membuat perhitungan dengan pagu pemerintah,” jelasnya.
Dari data tersebut, Reza kemudian mengaitkan hasil perhitungannya dengan prioritas anggaran pendidikan pemerintah. Menurutnya, perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat perlu menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan dalam menentukan alokasi anggaran. Ia pun mempertanyakan kenapa kebutuhan tersebut tidak didahulukan, mengingat pendidikan juga termasuk dalam agenda Asta Cita pemerintah.
“Pagu pemerintah itu ternyata sekitar Rp6 juta per meter persegi untuk membangun atau revitalisasi sekolah. Coba kalkulasi. Kalau misalnya kita hilangkan dulu yang rusak ringan, fokus pada yang sedang dan berat, alokasi dana yang dibutuhkan itu sekitar Rp120-an triliun. Tapi tiba-tiba yang muncul di kepala karena anggaran program prioritas pemerintah juga mengambil porsi anggaran pendidikan. Kenapa gak kita beresin yang ini dulu? Sementara ini juga menjadi program, kan ada juga di Asta Cita,” lanjutnya.
Bagi Reza, perhitungan tersebut menjadi cara untuk membicarakan kebijakan anggaran dengan landasan yang lebih konkret. Ia ingin menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak cukup hanya dibicarakan sebagai masalah, tetapi juga perlu disertai pertimbangan mengenai kebutuhan, prioritas, serta penggunaan anggaran.
Ia menegaskan bahwa data yang digunakan dalam tulisannya bukan hasil perkiraan pribadi semata, melainkan merujuk pada data yang tersedia dari pemerintah.
“Aku memasukkan beberapa data yang sebagian besar didapat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Jadi bukan data yang kita bikin pakai polling sendiri, tapi datanya tersedia.”
Melalui tulisannya, Reza berusaha mengambil bagian dalam percakapan mengenai kebijakan publik. Ia tidak memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi anggaran, tetapi ia bisa menggunakan ruang yang dimilikinya untuk menyampaikan pertanyaan dan menawarkan sudut pandang kepada pihak yang mengambil keputusan. Cara itu pun menjadi salah satu bentuk keterlibatannya dalam isu sosial-politik. Menurut Reza, tidak selalu harus berada di tengah kerumunan untuk menyuarakan kegelisahan, menulis dan berbicara melalui media juga memberinya kesempatan untuk menyampaikan pandangan berdasarkan hal-hal yang ia pelajari dan temui selama bertahun-tahun.
Kendati demikian, aksi demonstrasi yang terjadi pada 22 Agustus 2024 di depan gedung DPR menjadi momen yang membuatnya ingin hadir secara langsung. Reza bercerita bahwa saat itu ia mengikuti perkembangan politik seperti biasanya, termasuk berita dan debat yang membahas berbagai kebijakan. Namun, situasi yang berkembang terkait putusan Mahkamah Konstitusi dan perubahan aturan membuatnya merasa perlu mengambil sikap. Ia mengaku tidak mendapat ajakan dari siapa pun untuk datang ke lokasi demonstrasi. Keputusan tersebut muncul dari kegelisahannya sendiri setelah mengikuti perkembangan situasi saat itu.
Meski pada akhirnya ikut menyampaikan orasi, Reza menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah tujuan awal kedatangannya. Ia hanya ingin berada di lokasi dan menyaksikan langsung serta membersamai aksi yang diikuti oleh mahasiswa dan masyarakat lainnya.
“Gak ada planning buat orasi. Gak ada sama sekali itu. Gak ada dalam agenda. Mau bersama aja, turut bisa menyaksikan langsung dan berada di lapangan bersama teman-teman mahasiswa yang lain.”
Dari menulis tentang kebutuhan sekolah hingga hadir dalam demonstrasi, Reza Rahadian menunjukkan kepeduliannya pada negara begitu besar.