Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Reza Rahadian dan Pedulinya pada Negara, Kritik lewat Tulisan-Turun Aksi
cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times)
  • Reza Rahadian mengaku awalnya fokus berkarier sejak remaja, sebelum pengalaman dan refleksi perlahan membentuk kepeduliannya terhadap isu sosial-politik Indonesia.
  • Keterlibatan Reza selama sekitar 11–12 tahun di YAPPIKA-ActionAid mempertemukannya dengan kondisi pendidikan dan infrastruktur sekolah di berbagai daerah.
  • Reza menyuarakan isu pendidikan melalui tulisan berbasis data anggaran, serta hadir dalam demonstrasi DPR pada Agustus 2024 karena kegelisahan terhadap perkembangan politik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Mungkin, tidak semua orang langsung menyadari bahwa persoalan di luar kehidupannya juga layak mendapatkan perhatian. Terkadang, kesadaran tersebut tumbuh secara perlahan, setelah berhadapan dengan realitas yang sebelumnya hanya ia dengar atau lihat dari kejauhan.

Hal tersebut ternyata terjadi dalam perjalanan Reza Rahadian. Di tengah kesibukannya sebagai aktor, ia perlahan menemukan alasan untuk melihat lebih jauh dari dunianya sendiri, hingga akhirnya mulai menaruh perhatian pada persoalan sosial dan politik di Indonesia. Bagi Reza sendiri, kepedulian itu tidak tumbuh dalam semalam, melainkan melalui proses panjang dan pengalaman yang ia temui secara langsung.

Melalui program Real Talk with Uni Lubis yang tayang di kanal YouTube IDN Times, Senin (5/10/2026), pemain film Laut Bercerita tersebut mengungkapkan bagaimana cara pandangnya terhadap persoalan bangsa mulai berkembang seiring waktu. Ia mengakui bahwa pada awal perjalanan kariernya, perhatian terhadap isu-isu di luar pekerjaan belum menjadi prioritas. Namun, keterlibatan dalam organisasi yang bergerak di bidang pendidikan selama 11 tahun terakhir perlahan membuka matanya terhadap berbagai persoalan di masyarakat dan mendorongnya untuk ikut bersuara, baik melalui tulisan maupun wawancara di berbagai kanal media.

1. Reza Rahadian akui dulu lebih fokus sama kerjaan

cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times)

Studio IDN Times terasa cukup dingin saat Reza Rahadian berbincang dengan Uni Lubis. Mengenakan jaket denim dengan gaya kasual, Reza bercerita dengan nada tenang. Namun, di balik tutur katanya yang santai, terselip banyak refleksi tentang perjalanan hidup, kepedulian, dan keberanian anak muda dalam memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini.

Sebelum memiliki perhatian yang besar pada persoalan sosial dan politik Indonesia, Reza mengaku sempat menjalani kehidupan yang hanya berfokus pada pekerjaan saja. Pasalnya, ia sudah memasuki dunia kerja sejak usia 16–17 tahun, sehingga terbiasa menjalani hari-hari dengan fokus pada hal-hal yang ada di hadapannya saja.

“Karena mungkin dari usia 16, kurang lebih 16–17 tahun, saya sudah mulai langsung sibuk kerja, masuk ke dunia kerja. Jadi mungkin fokusnya sudah langsung ke arah situ. Bekerja adalah bagian dari kehidupan masa-masa remaja. Dari usia 18 sampai 21, saya ingat banget itu sudah memasuki usia kerja, kurang lebih gitu,” ungkap Reza Rahadian mengenang kembali perjalanannya.

Di tengah obrolannya, Reza juga menyinggung tokoh-tokoh pergerakan Indonesia yang telah aktif menyuarakan gagasan dan memperjuangkan perubahan sejak usia muda.

“Tapi kalau flashback lagi, ternyata era-era ketika Bung Hatta, Bung Syahrir mulai bergerak dan mulai aktif itu usianya muda-muda semua. Bung Karno juga usianya relatif sangat muda. Mereka sudah mampu melahirkan sumbangsih pikiran dan pergerakan yang sangat konkret dan berani sekali di usia yang sangat muda,” lanjutnya.

Dari kisah-kisah tersebut, Reza pun melihat bahwa usia muda tidak lantas menjadi penghalang untuk memikirkan nasib orang lain atau mengambil bagian dalam perubahan. Pengalaman membaca novel Laut Bercerita juga membawanya pada refleksi yang lebih personal tentang kepedulian terhadap persoalan bangsa bisa tumbuh pada waktu yang berbeda bagi setiap orang, termasuk melalui pengalaman yang perlahan mengubah cara seseorang memandang dunia di sekitarnya.

2. Terlibat dalam organisasi pendidikan menjadi awal kepedulian Reza Rahadian pada isu sosial politik tumbuh

cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times)

Pada Agustus 2024 lalu, Reza Rahadian sendiri sempat mencuri perhatian karena aksi tak terduganya berdiri di tengah demonstrasi di depan gedung DPR dan ikut menyampaikan orasi yang berisi kegelisahannya terhadap situasi politik Indonesia. Momen tersebut viral kala itu, mengingat Reza lebih dikenal lewat kiprahnya sebagai seorang aktor.

Fun fact-nya, ternyata jauh sebelum aksi tersebut, Reza telah melewati proses panjang yang membentuk kepekaannya terhadap persoalan masyarakat. Salah satu titik awalnya adalah keterlibatan dalam organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Pengalaman tersebut mempertemukannya secara langsung dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di sejumlah daerah.

Dalam perbincangan santainya dengan Uni Lubis, Reza mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam YAPPIKA-ActionAid selama sekitar 11–12 tahun terakhir menjadi salah satu titik awal tumbuhnya kepedulian terhadap persoalan sosial. Melalui organisasi nirlaba independen yang berfokus pada advokasi kebijakan dan penguatan masyarakat sipil, khususnya di sektor pendidikan dasar yang aman dan inklusif, ia mendapatkan kesempatan untuk turun langsung ke lapangan. Dari sanalah, ia mulai mengenal lebih dekat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.

“Starting point-nya, mungkin 11–12 tahun yang lalu. Sudah lama sebetulnya. Selama 11 tahun terakhir, aku terlibat dalam sebuah organisasi, namanya YAPPIKA,” ungkap Reza.

Reza melanjutkan, “Jadi ini bergerak pada bidang pendidikan, membicarakan infrastruktur pendidikan, termasuk sanitasi dan lain-lain. Tapi fokusnya tentang pendidikan. Di situ pertama kali jatuh cinta pada sebuah organisasi yang membawa pengalaman langsung ke lapangan.”

Melalui YAPPIKA, Reza tidak hanya terlibat dalam advokasi kebijakan publik, termasuk keputusan pejabat daerah, ia juga mengunjungi sejumlah wilayah, mulai dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga berbagai daerah di Indonesia Timur dan Pulau Jawa, untuk melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat serta kondisi sekolah yang membutuhkan perhatian.

Pengalaman tersebut pun membuat persoalan pendidikan bukan lagi sekadar isu yang dibaca atau didengar oleh Reza. Setelah melihat sendiri kondisi sekolah yang rusak dan keterbatasan infrastruktur yang dihadapi masyarakat, kepeduliannya pun tumbuh melalui perjumpaan langsung dengan realitas di lapangan. Secara perlahan, ia akhirnya menemukan cara sendiri untuk menyampaikan kegelisahan tersebut.

“Dari situlah lahir kepedulian-kepedulian dan akhirnya bersuara pelan-pelan lewat tulisan, kemudian lewat interview karena gak ada media sosial pribadi. Jadi aku paling senang kalau bisa ngobrol kayak gini, lewat platform berita atau kanal-kanal berita lainnya,” ujarnya sambil tersenyum.

3. Concern Reza Rahadian pada isu pendidikan

cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times)

Kepedulian Reza terhadap isu pendidikan tidak hanya ditunjukkan melalui keterlibatannya dalam organisasi. Ia juga berusaha membawa persoalan tersebut ke ruang publik melalui tulisan. Salah satunya ketika ia menulis di Kompas mengenai infrastruktur sekolah dan kebutuhan anggaran untuk memperbaiki bangunan yang rusak. Reza menjelaskan bahwa tulisan tersebut berangkat dari upayanya membaca data mengenai kondisi sekolah di Indonesia dan kemudian mencoba menghitung kebutuhan anggaran dengan mengacu pada pagu yang ditetapkan pemerintah.

“Intinya tuh sebenarnya adalah bagaimana berbicara mengenai kebijakan anggaran. Waktu itu salah satu fokusnya, kita punya sekian ratus ribu data tentang sekolah, baik rusak ringan, sedang, maupun berat. Lalu pada tulisan itu aku iseng-iseng mencoba membuat perhitungan dengan pagu pemerintah,” jelasnya.

Dari data tersebut, Reza kemudian mengaitkan hasil perhitungannya dengan prioritas anggaran pendidikan pemerintah. Menurutnya, perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat perlu menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan dalam menentukan alokasi anggaran. Ia pun mempertanyakan kenapa kebutuhan tersebut tidak didahulukan, mengingat pendidikan juga termasuk dalam agenda Asta Cita pemerintah.

“Pagu pemerintah itu ternyata sekitar Rp6 juta per meter persegi untuk membangun atau revitalisasi sekolah. Coba kalkulasi. Kalau misalnya kita hilangkan dulu yang rusak ringan, fokus pada yang sedang dan berat, alokasi dana yang dibutuhkan itu sekitar Rp120-an triliun. Tapi tiba-tiba yang muncul di kepala karena anggaran program prioritas pemerintah juga mengambil porsi anggaran pendidikan. Kenapa gak kita beresin yang ini dulu? Sementara ini juga menjadi program, kan ada juga di Asta Cita,” lanjutnya.

Bagi Reza, perhitungan tersebut menjadi cara untuk membicarakan kebijakan anggaran dengan landasan yang lebih konkret. Ia ingin menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak cukup hanya dibicarakan sebagai masalah, tetapi juga perlu disertai pertimbangan mengenai kebutuhan, prioritas, serta penggunaan anggaran.

Ia menegaskan bahwa data yang digunakan dalam tulisannya bukan hasil perkiraan pribadi semata, melainkan merujuk pada data yang tersedia dari pemerintah.

“Aku memasukkan beberapa data yang sebagian besar didapat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Jadi bukan data yang kita bikin pakai polling sendiri, tapi datanya tersedia.”

Melalui tulisannya, Reza berusaha mengambil bagian dalam percakapan mengenai kebijakan publik. Ia tidak memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi anggaran, tetapi ia bisa menggunakan ruang yang dimilikinya untuk menyampaikan pertanyaan dan menawarkan sudut pandang kepada pihak yang mengambil keputusan. Cara itu pun menjadi salah satu bentuk keterlibatannya dalam isu sosial-politik. Menurut Reza, tidak selalu harus berada di tengah kerumunan untuk menyuarakan kegelisahan, menulis dan berbicara melalui media juga memberinya kesempatan untuk menyampaikan pandangan berdasarkan hal-hal yang ia pelajari dan temui selama bertahun-tahun.

Kendati demikian, aksi demonstrasi yang terjadi pada 22 Agustus 2024 di depan gedung DPR menjadi momen yang membuatnya ingin hadir secara langsung. Reza bercerita bahwa saat itu ia mengikuti perkembangan politik seperti biasanya, termasuk berita dan debat yang membahas berbagai kebijakan. Namun, situasi yang berkembang terkait putusan Mahkamah Konstitusi dan perubahan aturan membuatnya merasa perlu mengambil sikap. Ia mengaku tidak mendapat ajakan dari siapa pun untuk datang ke lokasi demonstrasi. Keputusan tersebut muncul dari kegelisahannya sendiri setelah mengikuti perkembangan situasi saat itu.

Meski pada akhirnya ikut menyampaikan orasi, Reza menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah tujuan awal kedatangannya. Ia hanya ingin berada di lokasi dan menyaksikan langsung serta membersamai aksi yang diikuti oleh mahasiswa dan masyarakat lainnya.

“Gak ada planning buat orasi. Gak ada sama sekali itu. Gak ada dalam agenda. Mau bersama aja, turut bisa menyaksikan langsung dan berada di lapangan bersama teman-teman mahasiswa yang lain.”

Dari menulis tentang kebutuhan sekolah hingga hadir dalam demonstrasi, Reza Rahadian menunjukkan kepeduliannya pada negara begitu besar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article