Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Seberapa Penting Nominasi Oscar untuk Seorang Aktor?

Matt Damon dalam Good Will Hunting
Matt Damon dalam Good Will Hunting (dok. Miramax/Good Will Hunting)
Intinya sih...
  • Nominasi Oscar meningkatkan popularitas dan kesempatan bagi aktor kulit putih
  • Aktor non-kulit putih seringkali tidak mendapatkan keuntungan yang sama setelah nominasi atau kemenangan Oscar
  • Struktur industri film Amerika Serikat masih didominasi oleh orang kulit putih, mempengaruhi peluang bagi aktor-aktor non-kulit putih
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Academy Awards atau Oscar masih diklaim sebagai ajang penghargaan film paling bergengsi di dunia sampai saat ini. Walaupun, sebenarnya secara harfiah, skala mereka tidaklah global. Mereka dibuat dan memang didesain untuk film-film yang diproduksi dan tayang di Amerika Serikat. Namun, magnitutnya memang menggema ke seantero Bumi.

Pihak-pihak yang berhasil menyabet nominasi dan pialanya bakal jadi perbincangan hangat. Karier dan hidup mereka bakal berubah. Setidaknya itu klaim yang selama ini kita dengar dan percaya. Namun, seberapa besar, sih, sebenarnya pengaruh nominasi Oscar untuk seorang aktor? Mari lihat fakta-faktanya berikut.

1. Nominasi Oscar memang bikin nama aktor terdongkrak

Daniel-Day Lewis dalam film My Left Foot
Daniel-Day Lewis dalam film My Left Foot (dok. Miramax/My Left Foot)

Tidak bisa dimungkiri, nominasi Oscar memang jadi dekorasi yang susah diabaikan dalam karier seorang aktor atau aktris. Sekali dapat, hidup mereka dipercaya akan berubah. Rate gaji mereka otomatis naik dan tawaran audisi pun bakal membanjiri.

Hal tersebut memang benar. Silakan tengok bagaimana kemenangan Dustin Hoffman, Anthony Hopkins, Daniel Day-Lewis, dan Tom Hanks medio 1980—1990-an mengubah trajektori karier mereka. Bahkan, nominasi saja sudah cukup bikin nama mereka melambung dan jadi incaran banyak sutradara serta casting director. Terbukti lewat Matt Damon (Good Will Hunting), Jeremy Renner (The Hurt Locker), Bradley Cooper (Silver Linings Playbook), dan Paul Mescal (Aftersun).

Hal serupa juga terjadi pada banyak aktris, seperti Carey Muligan (An Education), Natalie Portman (Closer, Black Swan), Margot Robbie ( I, Tonya) , Emma Stone (Birdman, La La Land), Jennifer Lawrence (Winter’s Bone, Silver Linings Playbook), dan Meryl Streep (Kramer vs. Kramer). Kemenangan atau setidaknya nominasi sudah cukup bikin mereka masuk jajaran elite. Dalam waktu singkat, proyek-proyek baru yang gak kalah berkualitas mereka lakoni dan koleksi, menambah gengsi portofolio mereka.

2. Beda cerita dengan aktor non-kulit putih

Lupita Nyong'o dan Alfre Woodard dalam film 12 Years a Slave
Lupita Nyong'o dan Alfre Woodard dalam film 12 Years a Slave (dok. 20th Century Fox/ 12 Years a Slave)

Masalahnya, tadi itu bukan fenomena universal. Ia hanya berlaku untuk aktor dan aktris kulit putih. Silakan tengok bagaimana nasib para aktor berlatarbelakang kulit berwarna dan minoritas yang pernah memenangkan piala Oscar atau setidaknya dapat nominasi. Lupita Nyong’o (12 Years a Slave), Daniel Kaluuya (Get Out!), Steven Yeun (Minari), Riz Ahmed (Sound of Metal), Lily Gladstone (Killers of the Flower Moon), Halle Berry (Monster’s Ball), Chiwetel Ejiofor (12 Years a Slave), Sophie Okonedo (Hotel Rwanda), dan Yalitza Aparicio (Roma).

Nyong’o, Gladstone, Yeun, Eijofor, dan Ahmed mungkin beberapa nama yang berhasil mempertahankan status elitenya sebagai pemenang Oscar dengan bergabung di proyek-proyek menarik beberapa tahun setelahnya. Namun, coba perhatikan nama lain dari daftar tadi. Mereka hampir bak ditelan bumi. Alasan mereka beragam, kebanyakan berpindah fokus di belakang layar. Eijofor dan Okonedo memang masih aktif, tetapi mereka lebih sering dapat peran pendukung ketimbang lakon.

Nyong’o sendiri mengaku setelah kemenangannya di Oscar 2014, ia memang dapat banyak tawaran film, tetapi masih terpaku pada stigma yang melekat pada etnisitasnya. Lily Gladstone setelah Oscar 2024 memilih untuk fokus pada proyek independen dan cerita dari perspektif penduduk pribumi seperti dirinya. Yeun, Eijofor, dan Ahmed dapat kesempatan mencoba lebih banyak peran di luar stigma etnik mereka. Namun, tetap harus diakui kecepatan mereka dapat proyek bagus tak sebanding dengan yang didapat aktor kulit putih. Kalau mereka butuh hitungan tahun, aktor kulit putih seperti Eddie Redmayne dan Cillian Murphy bisa mendapatkannya dalam hitungan bulan.

3. Pola industri film Amerika Serikat tidak berubah

Emma Stone dalam film Bugonia
Emma Stone dalam film Bugonia (dok. Focus Features/Bugonia)

Pertanyaannya, mengapa aktor atau aktris kulit putih dapat keuntungan lebih besar dari Oscar? Ini bisa berakar dari tradisi industri film Amerika yang memang memprioritaskan mereka. Pada akhirnya, riwayat kolonialisme, segregasi, dan diskriminasi rasial yang melestarikan supremasi kulit putih bukan sesuatu yang dengan mudah dihilangkan dari tradisi masyarakat.

Belum lagi, secara struktural, tokoh-tokoh strategis (sutradara, penulis naskah) dalam industri film Amerika Serikat masih didominasi orang kulit putih dan bergender pria. Ini setidaknya berdasar data tahun 2024 yang dirilis UCLA dalam Hollywood Diversity Report 2025. Tak heran, peluang untuk aktor dan aktris kulit putih meluas, tetapi tidak untuk aktor-aktor kulit berwarna yang mewakili kelompok etnik atau bangsa tertentu. Terbukti, pemeran utama dalam film-film Hollywood pun masih didominasi aktor atau aktris kulit putih ketimbang kulit berwarna.

Jadi, seberapa besar pengaruh nominasi Oscar untuk karier seorang aktor? Jelas ia bagus untuk publisitas si aktor atau aktris, tetapi mengeklaim mereka bakal mengubah hidup seorang aktor agaknya berlebihan. Perjalanan karier mereka pada akhirnya tergantung pula oleh ketersediaan serta kecocokan proyek dengan visi personal masing-masing aktor. Namun, faktor etnisitas tidak pula bisa dilupakan, mengingat industri film Hollywood memang sensitif terhadap ciri fisik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More

7 Potret Artis di Pernikahan Shindy Huang, Ada Prilly dan Omara

21 Jan 2026, 10:47 WIBHype