6 Superhero MCU yang Pernah Mengalami Depresi Berat

Thor Odinson depresi berat setelah kegagalan membunuh Thanos dan kematian orang-orang terdekatnya
Star-Lord depresi atas kematian Gamora, membuatnya murung dan tidak seperti dirinya yang dulu
Iron Man selalu depresi karena aksinya sebagai superhero, mulai dari Arc Reactor hingga kegagalannya menghentikan Thanos
Avengers memang disebut sebagai Pahlawan Terkuat Bumi. Namun pada akhirnya, mereka hanyalah manusia yang punya perasaan dan pikiran. Di Marvel Cinematic Universe (MCU), para superhero gak selalu digambarkan tahan banting. Bahkan, beberapa superhero ada yang mentalnya rapuh, lho.
Dari puluhan superhero yang dikenalkan di MCU, sebagian ada yang pernah mengalami depresi berat. Hal tersebut membuat mereka tidak bisa beraksi seperti biasa. Lantas, siapa saja superhero MCU yang pernah mengalami depresi berat? Simak di bawah ini, yuk!
1. Kegagalan membunuh Thanos membuat Thor Odinson depresi berat

Thor adalah salah satu superhero yang paling menyalahkan dirinya atas keberhasilan Thanos (Josh Brolin) melenyapkan setengah populasi makhluk hidup di alam semesta. Kegagalannya membunuh Thanos di akhir Avengers: Infinity War (2018) membuatnya benar-benar depresi. Hal tersebut diperparah oleh kematian Loki (Tom Hiddleston), kedua orangtua, dan separuh penduduk Asgard.
Sama seperti manusia biasa, depresi Thor membuatnya kehilangan jati diri. Terlihat dalam Avengers: Endgame (2019), Thor menghabiskan waktunya mengurung diri sambil mabuk-mabukan dan bermain game. Alhasil ia terlihat berantakan dengan rambut lusuh dan badan yang tidak sefit dahulu. Setelah berhasil mengembalikan tatanan dunia, Thor akhirnya bergabung dengan Guardian of the Galaxy untuk memulai perjalanan untuk menemukan jati dirinya kembali.
2. Star-Lord depresi atas kematian Gamora

Peter Quill alias Star-Lord (Chris Pratt) adalah salah satu karakter paling jenaka dan lucu di MCU. Ia selalu menghibur penonton dengan tingkah konyolnya. Namun, hal tersebut berubah setelah kematian Gamora (Zoe Saldana) di Avengers: Infinity War. Kematian Gamora membuat Peter depresi berat.
Ini dapat dilihat pada spin-off, The Guardian of the Galaxy Holiday Special (2022) dan sekuel terakhir, The Guardian of the Galaxy Vol.3 (2023). Peter terlihat selalu murung dengan penampilan yang lesu. Ia juga tidak seperti dirinya yang dulu, yang lebih jenaka dan konyol.
Kalau Peter tidak ikut lenyap saat Thanos Snap, kemungkinan ia bakal jauh lebih depresi, sih. Sebab, Peter adalah salah satu penyebab terbesar kegagalan superhero menghentikan Thanos.
3. Iron Man selalu depresi karena aksinya sebagai superhero

Kalau ditanya siapa anggota Avengers yang paling sering depresi, banyak yang akan menjawab Iron Man (Robert Downey Jr.). Bahkan, sebelum bergabung dengan Avengers, Tony Stark sudah beberapa kali depresi berat. Contohnya, di film Iron Man 2 (2010), Tony menjadi depresi ketika mengetahui Arc Reactor yang menyambung hidupnya ternyata perlahan meracuni tubuhnya. Seolah kehilangan harapan hidup, Tony mulai mabuk-mabukan, pesta dan menghamburkan uang. Ia juga menenteng zirahnya ke mana saja. Hal tersebut kembali diulik di film Iron Man 3 (2013).
Tony kembali depresi ketika mendapatkan kilasan masa depan di film Avengers: Age of Ultron (2015). Itu kemudian berlanjut dan lebih buruk, mulai dari serangan panik dan insomnia karena pertarungan melawan alien, sahabatnya yang lumpuh karena membantunya, hingga akhirnya depresi akan kegagalannya menghentikan Thanos.
4. Wanda Maximoff menjadi villain karena depresi berat kehilangan keluarga

Kehilangan sesuatu yang berharga tentunya sangat menyakitkan, ya? Bahkan, ia bisa bikin depresi berkepanjangan. Itulah yang dirasakan Wanda Maximoff alias Scarlet Witch (Elizabeth Olsen). Sejak debut di MCU, Wanda selalu mengalami kemalangan. Mulai dari kehilangan orangtua, kampung halaman, saudara kembar, hingga akhirnya kekasih.
Untuk menekan kesedihannya, Wanda akhirnya menciptakan semesta alternatif yang memungkinkannya hidup bersama kekasihnya, Vision (Paul Bethanny) dan kedua anak mereka yang ia ciptakan dengan ilusi. Sayangnya, hal tersebut berakhir atas intervensi Agatha Harkness (Kathryn Hahn). Hal tersebut menjadi pemicu terakhir sebelum Wanda benar-benar depresi berat.
Karena mentalnya yang tidak stabil, Wanda akhirnya terpengaruh buku sihir Darkhold. Ia mengupayakan berbagai cara agar bisa kembali pada keluarganya. Hal tersebut akhirnya mengubahnya menjadi villain yang mengancam multiverse di film Doctor Strange: in the Multiverse of Madness (2022).
5. Sebelum jadi superhero, The Sentry adalah pecandu psikotropika akibat depresi

Sebelum menjadi superhero, The Sentry, Bob Reynolds adalah seorang pecandu narokoba. Menghadapi keluarga yang abusif, Bob harus mengandalkan obat-obatan untuk melawan depresinya. Hal tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh organisasi O.X.E untuk menawarkannya obat yang ternyata merupakan serum super.
Meskipun berhasil menjadi superhero, sisi jahat Bob tetap bersemayam dalam tubuhnya. Sisi jahat yang disebut Void tersebut merupakan manifestasi depresi, kecemasan, dan rasa kesepian Bob. Di akhir film Thunderbolts* (2025), ia berhasil menemukan keluarga baru bersama New Avengers dan berhasil menekan Void jauh ke dalam alam bawah sadarnya.
6. US Agent menjadi depresi karena tidak bisa menggantikan Steve Rogers

Sebelumnya, John Walker (Wyatt Russels) adalah tokoh antagonis di film The Falcon and the Winter Soldier (2021), tetapi di film Thunderbolts* ia akhirnya menjadi superhero bernama US Agent yang tergabung dalam New Avengers. Sebelum ia sampai ke titik tersebut. John harus melewati masa-masa sulit.
Setelah gagal memenuhi ekspektasi publik sebagai pengganti Captain America, John mengalami depresi berat. Apalagi, sahabatnya, Lemar Hoskins (Clen Bennett) juga terbunuh saat membantunya meringkus teroris. Karena depresi berat, ia menjadi tempramental dan melenatarkan keluarganya. Alhasil, ia kehilangan istri dan anaknya yang memiliki untuk pergi. Untungnya, setelah bergabung dengan New Avengers, John sepertinya sudah mulai pulih dari masa sulitnya.
Meskipun mengalami depresi, umumnya para superhero dapat bangkit kembali. Itulah salah satu kualitas superhero yang patut dicontoh. Mereka dapat bangkit dan optimis dengan modal keyakinan akan perubahan yang lebih baik!



















