Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ungkap Arti Hantu di Ghost in the Cell, Joko Anwar: Kita Semua Hantu
Joko Anwar setelah press screening "Ghost in the Cell" di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (9/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Joko Anwar menjelaskan bahwa hantu di film Ghost in the Cell adalah metafora tentang hal-hal yang tidak dipahami manusia, termasuk relasi antara pemerintah dan rakyat.
  • Poster film menampilkan karakter Tokek sebagai simbol bahwa hantu sejatinya adalah refleksi sisi terburuk manusia—saat kita dikuasai oleh keputusasaan, korupsi, dan energi negatif.
  • Hantu dalam film digambarkan berasal dari hutan yang rusak akibat deforestasi; ia belajar kehancuran dari manusia hingga pembunuhannya tampak artistik namun sarat makna ekologis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar, kembali menyajikan karya terbarunya bertajuk Ghost in the Cell (2026). Film ini bukan sekadar horor biasa, tapi juga menyisipkan banyak satire serta lapisan makna yang dalam tentang manusia, sistem, dan cara kita memandang sesuatu yang "berbeda."

Dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026), Joko Anwar membagikan sudut pandangnya soal konsep hantu dalam film ini. Alih-alih hanya sebagai sosok menyeramkan dengan nama yang nyentrik, hantu di film ini justru menjadi metafora menggelitik yang relevan dengan kondisi dewasa ini.

1. Joko Anwar sebut sosok hantu adalah entitas yang tidak kita pahami

Joko Anwar dan Aming setelah press screening "Ghost in the Cell" di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (9/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Menurut sutradara yang akrab dipanggil Jokan ini, hantu dalam Ghost in the Cell bukan sekadar makhluk supranatural, melainkan representasi dari sesuatu yang sulit dipahami manusia.

"Jadi kalau teman-teman lihat, obviously hantunya ini sebenarnya mewakili sesuatu yang tidak kita pahami ya. Karena kita sering melabeli sesuatu sebagai hantu, ancaman gitu," ucapnya.

Ia juga mengaitkan konsep ini dengan relasi antara pemerintah dan rakyat. Dalam analoginya, rakyat kerap dianggap sebagai ancaman, karena kurangnya pemahaman dari pihak yang berkuasa.

"Sama halnya kayak pemerintah, mungkin gak paham sama rakyat. Mereka anggap rakyat sebagai ancaman gitu. 'They are ghost,'" lanjutnya.

Dari perspektif ini, sosok "hantu" yang menebar teror bukan lagi soal makhluk gaib, tapi tentang kesalahpahaman yang akhirnya malah berubah menjadi ketakutan.

2. Makna hantu di Ghost in the Cell ternyata juga tercermin di posternya

Poster "Tokek" Ghost in the Cell (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)

Menariknya, makna tersebut sudah "dibisikkan" lebih dulu lewat visual di poster film. Dalam salah satu poster, terlihat Aming yang memerankan karakter Tokek sebagai sosok yang tampak seperti representasi hantu itu sendiri.

"Kalau teman-teman lihat poster Aming yang Tokek itu, Tokek is the ghost. Tapi di dalamnya kan ada kita," jelas Joko.

Sutradara Pengabdi Setan (2017) ini menegaskan kembali bahwa hantu dalam film ini adalah refleksi kondisi terburuk manusia. Intinya, manusia dengan aura negatif dan lekat dengan hal-hal buruk.

"Jadi hantunya siapa? Hantu adalah kita in our worst state. Kondisi terburuk kita. Ketika kita sangat negatif, kita hopeless, kita corrupt. That’s our ghost," imbuhnya.

3. Alasan sosok hantu bisa melakukan pembunuhan yang "nyeni"

Joko Anwar dan para cast "Ghost in the Cell" di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (9/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Dalam trailer Ghost in the Cell, terlihat kalau pembunuhan yang terjadi di Lapas Labuhan Angsana terlihat "estetik." Jokan pun membeberkan alasannya. Menurutnya, entitas dalam film berasal dari hutan yang mengalami deforestasi.

"Kenapa bentuknya artistik seperti itu? Kan si entitas ini berasal dari hutan… Dia kan hanya mengetahui dan memahami creation," jelasnya.

Namun, saat manusia datang dan merusak habitatnya, entitas tersebut mulai "belajar" tentang kehancuran. Pada akhirnya, dia bisa melakukan sesuatu yang buruk tapi terlihat indah.

"Jadi kenapa dia membunuh? Dia hanya belajar dari manusia. Kenapa bentuknya masih artistik? Karena itulah yang dia tahu. Itulah nature," pungkas Jokan.

Editorial Team