Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Upie Guava Tanggapi Isu Pelangi di Mars Gunakan AI dan Tudingan Buzzer

Upie Guava Tanggapi Isu Pelangi di Mars Gunakan AI dan Tudingan Buzzer
Sutradara Upie Guava (tengah) bersama produser Dendi Reynando (kiri) dan Wamenekraf Irene Umar (kanan) dalam konferensi pers balon raksasa Pelangi di Mars yang digelar di Jakarta, Kamis (19/2/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
Intinya Sih
  • Upie Guava menegaskan penggunaan AI dalam film Pelangi di Mars hanya sebagai alat bantu teknologi, bukan pengganti kreativitas manusia, dengan proses produksi yang tetap digerakkan para kreator.

  • Ia menjelaskan kerja sama dengan RANS baru terjadi saat tahap post-production pada 2025, dan menyebut kerja sama lintas pihak merupakan praktik umum untuk memperkuat ekosistem industri film Indonesia.

  • Terkait tudingan buzzer, Upie menolak adanya strategi promosi instan, menegaskan keputusan penonton organik adalah faktor utama keberhasilan film serta menilai karyanya sebagai langkah perubahan bagi industri kreatif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pelangi di Mars menjadi salah satu film yang tayang di bioskop pada masa libur Lebaran 2026. Namun, penayangan film ini justru menjadi sorotan publik dan diterpa isu seperti penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam penggarapannya sampai tuduhan pengerahan buzzer untuk mempromosikan film.

Setelah isu tersebut belakangan ramai dibicarakan di media sosial X, sutradara Upie Guava memberikan klarifikasinya melalui unggahan di Instagram pada Sabtu (21/3/2026). Lantas, bagaimana tanggapan Upie?

1. Upie Guava akui AI hadir dalam berbagai bentuk termasuk pada perangkat teknologi yang digunakan timnya

Sutradara Upie Guava tanggapi isu film Pelangi di Mars gunakan AI dan tudingan buzzer dalam unggahan Instagram pada Sabtu (21/3/2026)
Sutradara Upie Guava tanggapi isu film Pelangi di Mars gunakan AI dan tudingan buzzer dalam unggahan Instagram pada Sabtu (21/3/2026) (instagram.com/upieguava)

Mengenai isu penggunaan AI, Upie tidak menampik bahwa saat ini teknologi secanggih AI sudah hadir dalam berbagai bentuk di hampir semua perangkat teknologi yang digunakan pihaknya dalam penggarapan film ini. Walau begitu, ia tetap menegaskan bahwa AI tak akan bisa menggantikan manusia sepenuhnya dalam membuat sebuah film.

Terlebih lagi, Upie pun menyebut proses produksi Pelangi di Mars tetap dikerjakan oleh kreator dengan mengombinasikan berbagai pendekatan produksi dan teknologi canggih yang dimanfaatkan. Proses penggarapannya diketahui telah dimulai sejak lama, yaitu dari tahun 2020.

"Dalam prosesnya, kami menggabungkan berbagai pendekatan produksi dan teknologi, termasuk virtual production dan XR (extended reality), motion capture (mocap), Unreal Engine, serta integrasi live-action dan animasi. Seluruh proses ini tetap digerakkan oleh manusia – oleh ide, rasa, dan dedikasi dari para kreator yang terlibat selama bertahun-tahun," tulisnya.

Bagi Upie, teknologi yang dikembangkan pihaknya dalam membuat film Pelangi di Mars dihadirkan bukan dengan tujuan menggantikan manusia dan membunuh kreativitas. Sebaliknya, ia menyebut teknologi itu dapat dimanfaatkan agar manusia dapat berkarya lebih jauh.

2. Upie jelaskan RANS bekerja sama dengan proyek Pelangi di Mars saat film sudah masuk tahap post-production

Film Pelangi di Mars Siap Tayang Lebaran 2026.jpeg
Pelangi di Mars (dok. Mahakarya Pictures/Pelangi di Mars)

Selain soal AI, Upie turut memberikan klarifikasi soal keterlibatan perusahaan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, RANS, dalam film Pelangi di Mars. Ia bercerita kalau proses kerja sama baru terjadi setelah film tersebut sudah memasuki tahap post-production. Menurutnya, itu merupakan sesuatu hal yang lazim terjadi dalam industri perfilman.

"Setelah film selesai lebih dari 80% dan memasuki tahap post-production, MBK Production, ANZ, PFN, dan RANS bergabung, dalam rentang waktu sejak Mei 2025 hingga Desember 2025. Kolaborasi seperti ini merupakan praktik yang lazim dalam industri film, di mana berbagai pihak dengan visi yang sama bersatu untuk mewujudkan sebuah karya. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah fondasi penting dalam membangun ekosistem industri film Indonesia yang lebih kuat," terang Upie.

3. Soal buzzer, Upie sebut tak ada strategi jangka pendek yang bisa gantikan keputusan penonton

Sutradara Upie Guava tanggapi isu film Pelangi di Mars gunakan AI dan tudingan buzzer dalam unggahan Instagram berbeda pada Minggu (22/3/2026)
Sutradara Upie Guava tanggapi isu film Pelangi di Mars gunakan AI dan tudingan buzzer dalam unggahan Instagram berbeda pada Minggu (22/3/2026) (instagram.com/upieguava)

Sementara mengenai tudingan buzzer, sutradara kelahiran 1976 itu menegaskan bahwa tak ada strategi jangka pendek yang bisa menggantikan keputusan penonton. Apalagi, ia mengaku, pihaknya percaya faktor penentu utama keberhasilan dari sebuah film di bioskop ada di tangan para penonton organik.

"Bagi kami, hubungan terbaik antara sebuah film dan penontonnya adalah hubungan yang dibangun melalui pengalaman jujur, bukan karena dorongan sesaat," imbuhnya.

Terlepas dari maraknya isu yang menghampiri Pelangi di Mars, Upie menyebut film garapannya bukan sekadar film pertama yang penuh dengan kekurangan. Kehadiran film ini pun dianggapnya sebagai langkah pertama dari sebuah perubahan agar pelaku industri kreatif dapat naik kelas.

"Buatlah isu sesukamu tentang kami. Artinya, langkah kami cukup penting bagimu. Karena kami berjuang untuk mereka-mereka yang selama ini hanya dimanfaatkan, dipaksa berkarya, lalu ditenggelamkan oleh cahaya gemerlapmu. Kami berjuang untuk para penerus kami. Untuk mereka yang selama ini tidak tahu harus melangkah ke mana," kata Upie dalam unggahan berbeda pada Minggu (22/3/2026).

Berdasarkan data Cinepoint, film Pelangi di Mars telah mengumpulkan jumlah penonton sebanyak 85.587 setelah tayang perdana di bioskop secara resmi pada 18 Maret 2026. Kisahnya mengikuti Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars, memulai petualangan menegangkan bersama sahabatnya untuk menemukan Zeolit Omega untuk dibawa pulang ke Bumi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Triadanti N
EditorTriadanti N
Follow Us

Latest in Hype

See More