Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Drakor Berlatar Sekolah Musik Klasik, Ada Four Hands, Two Sonatas
poster drama Four Hands, Two Sonatas (tvn.cjenm.com)
  • Four Hands, Two Sonatas dijadwalkan tayang di tvN pada 2026, mengisahkan rivalitas pianis Kang Bi O dan Choi Jeong Yo di SMA Seni Korea.
  • Do You Like Brahms? mengikuti pianis ternama Park Joon Young dan mahasiswi biola Chae Song Ah, menampilkan tekanan karier musik, pencarian diri, serta romansa.
  • Naeil's Cantabile menyoroti mahasiswa piano perfeksionis Cha Yoo Jin dan pianis bebas Seol Nae Il dalam perjuangan membentuk orkestra di akademi musik elit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Drama Korea dengan latar dunia musik klasik selalu memiliki tempat tersendiri di hati para penonton yang menyukai tema ini. Perpaduan antara alunan melodi yang indah, ambisi masa muda, hingga persaingan ketat di antara para musisi berbakat sering kali menciptakan konflik yang memikat.

Menonton perjuangan karakter-karakternya dalam menggapai mimpi sambil menemukan arti cinta dan persahabatan seakan membawa kita ikut terbawa emosi di setiap dentingan nadanya. Terbaru ada Four Hands, Two Sonatas yang bakal tayang di tvN, berikut tiga drakor berlatar sekolah musik klasik yang harus kamu tahu!

1. Four Hands, Two Sonatas (2026)

poster drama Four Hands, Two Sonatas (x.com/CJnDrama)

Four Hands, Two Sonatas menampilkan kolaborasi visual dan akting yang menyegarkan dari Song Kang, Lee Jun Young, dan Jang Gyu Ri. Kisahnya berpusat di Sekolah Menengah Atas Seni Korea, tempat berkumpulnya siswa-siswa dengan bakat musik luar biasa.

Fokus cerita mengikuti Kang Bi O (Song Kang), seorang siswa piano perfeksionis dengan dorongan batin yang kuat dan selalu meraih juara pertama. Hidupnya yang terstruktur seketika terguncang dengan kehadiran Choi Jeong Yo (Lee Jun Young), seorang pianis jenius dari latar belakang kurang beruntung yang selama ini hidup tanpa menyadari bakat besarnya.

Dinamika persaingan mereka semakin berwarna dengan hadirnya Hong Jae In (Jang Gyu Ri), seorang siswi biola berpendengaran sangat sensitif yang berteman dekat dengan Bi O. Drama ini menyoroti persaingan panas, pertumbuhan karakter, serta cinta masa muda di dunia musik yang kompetitif.

2. Do You Like Brahms? (2020)

poster drama Do You Like Brahms? (m.programs.sbs.co.kr)

Dibintangi oleh Kim Min Jae dan Park Eun Bin, Do You Like Brahms? menawarkan kisah yang lebih melankolis dan realistis tentang kehidupan mahasiswa sekolah musik di sebuah universitas bergengsi. Ceritanya mengisahkan tentang Park Joon Young (Kim Min Jae), seorang pianis jenius bertaraf internasional yang hidupnya penuh tekanan dan ekspektasi.

Di sisi lain, ada Chae Song Ah (Park Eun Bin), mahasiswi jurusan biola yang pantang menyerah meski sering dianggap tidak memiliki bakat teknis yang memadai. Drama ini tidak hanya menampilkan indahnya alunan instrumen klasik, tetapi juga menggambarkan kerasnya realitas karier di dunia musik, kebingungan usia 20-an, serta romansa yang saling menyembuhkan antara dua jiwa yang kelelahan.

3. Naeil's Cantabile (2014)

poster drama Naeil's Cantabile (program.kbs.co.kr)

Diadaptasi dari manga populer Jepang, Naeil's Cantabile diperankan dengan apik oleh Joo Won dan Shim Eun Kyung. Berlatar di sebuah akademi musik elit, ceritanya menyoroti pertemuan dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Cha Yoo Jin (Joo Won) adalah mahasiswa piano yang sangat perfeksionis, kaku, dan ambisius dengan mimpi besar menjadi seorang konduktor.

Kehidupannya yang serba teratur langsung berantakan ketika ia berurusan dengan Seol Nae Il (Shim Eun Kyung), seorang pianis jenius dengan gaya bermain yang bebas, impulsif, dan sering kali nyeleneh. Berbeda dengan dua drama sebelumnya, Naeil's Cantabile lebih kental dengan unsur komedi yang segar sambil tetap menyuguhkan perjuangan para mahasiswa dalam membentuk orkestra impian mereka.

Ketiga drama di atas membuktikan bahwa kehidupan di balik partitur musik klasik tidak pernah membosankan, melainkan penuh dengan intrik, air mata, tawa, dan romansa yang menggetarkan hati. Setiap dentingan piano dan gesekan biola pada akhirnya menyimpan cerita tentang ambisi dan penemuan jati diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article