Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Sisi Pilu Kang Pi O di Drakor Four Hand Two Sonatas

4 Sisi Pilu Kang Pi O di Drakor Four Hand Two Sonatas
Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas (x.con/CJnDrama)
  • Kang Pi O, pianis muda jenius, terus mengejar pengakuan kakeknya, tetapi kemenangan dan kerja kerasnya justru dibalas penilaian bahwa ia tidak berbakat.
  • Ia tumbuh tanpa mengetahui ayahnya dan menghadapi penolakan dari kakek, sementara ibunya juga berjuang memperoleh pengakuan keluarga tersebut.
  • Prestasi Pi O dianggap bergantung pada nama besar kakeknya, sementara permainan pianonya yang teknis belum sepenuhnya menampilkan emosi dan identitas dirinya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Four Hand Two Sonatas menjadi drakor terbaru yang membawa cerita tentang persahabatan, rivalitas, dan proses tumbuh dewasa dua pianis muda di SMA Seni Korea. Song Kang turut membintangi drama ini sebagai Kang Pi O, pianis muda jenius yang dikenal perfeksionis sekaligus cucu dari pianis legendaris Korea.

Meski punya kemampuan piano yang hebat dan terlihat seperti sosok yang nyaris sempurna, Pi O ternyata menyimpan banyak hal yang gak mudah ia hadapi. Lantas, apa saja sisi pilu yang membuat sosok Kang Pi O terasa berbeda di Four Hand Two Sonatas?

  1. 1. Sehebat Apa Pun Kang Pi O Berusaha, Pengakuan dari Kakeknya Tetap Sulit Didapat

    Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas
    Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas (x.con/CJnDrama)

    Kang Pi O punya satu hal yang mungkin terlihat sederhana, tetapi justru paling sulit ia dapatkan, yaitu pengakuan dari kakeknya sendiri. Ia sudah berusaha mengikuti bidang yang disukai sang kakek dan menunjukkan kemampuannya lewat berbagai pencapaian, tetapi semua itu seperti belum pernah cukup untuk membuatnya merasa dibanggakan. Bahkan kemenangan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru gak membuat Pi O mendapatkan pujian yang ia tunggu-tunggu.

    Yang lebih menyakitkan, Pi O malah harus mendengar bahwa dirinya gak berbakat dari orang yang paling ingin mengakui kemampuannya. Perkataan tersebut tentu gak mudah dilupakan karena Pi O sudah menghabiskan banyak usaha untuk membuktikan dirinya. Jadi, di balik sosoknya sebagai pianis yang mampu memenangkan kompetisi, ada seorang anak yang sebenarnya masih menunggu kakeknya berkata bahwa dirinya cukup baik.

  2. 2. Kang Pi O Harus Menjalani Hidup Tanpa Tahu Siapa Ayahnya

    Still cut Song Kang di drakor Four Hands
    Still cut Song Kang di drakor Four Hands (x.con/CJnDrama)

    Ada bagian dari kehidupan keluarga Pi O yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya karena ia gak mengetahui siapa ayahnya. Hal tersebut juga membuat hubungan Pi O dengan kakeknya semakin rumit karena sang kakek gak mau mengakuinya sebagai cucu. Tanpa sosok ayah yang ia kenal dan tanpa pengakuan dari kakeknya, Pi O seperti tumbuh dengan bagian dari keluarganya yang gak pernah benar-benar lengkap.

    Pi O juga harus melihat ibunya terus berusaha mendapatkan pengakuan dari kakeknya, sementara dirinya sendiri berada di tengah persoalan tersebut. Ia mungkin gak bisa mengubah keadaan keluarganya, tetapi tetap harus menerima dampaknya dalam kehidupannya sendiri. Hal inilah yang membuat sisi keluarga Pi O terasa pilu karena ada banyak hal yang ingin ia ketahui dan dapatkan, tetapi gak semuanya bisa ia miliki.

  3. 3. Saat Berhasil Sekalipun, Kang Pi O Tetap Dianggap Cuma Mengandalkan Nama Kakeknya

    Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas
    Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas (x.con/CJnDrama)

    Pencapaian Pi O dalam dunia piano seharusnya bisa menjadi bukti bahwa dirinya memang punya kemampuan. Sayangnya, teman-temannya justru melihat keberhasilan tersebut dari sisi yang berbeda dan menganggap Pi O bisa mencapai semuanya hanya karena membawa nama besar kakeknya. Kerja keras yang sudah ia lakukan akhirnya seperti gak terlihat karena orang-orang lebih dulu menilai dirinya dari keluarga tempat ia berasal.

    Perlakuan tersebut tentu semakin menyakitkan karena Pi O gak hanya mendengar perkataan yang meremehkan, tetapi juga mendapat gangguan secara langsung. Kertas miliknya dirusak dan berbagai perkataan menyakitkan dilontarkan di hadapannya, seolah pencapaiannya memang gak pantas disebut sebagai hasil kerja keras. Padahal, di balik semua yang berhasil ia raih, Pi O tetap harus menanggung perasaan bahwa orang lain gak benar-benar melihat kemampuannya.

  4. 4. Kang Pi O Punya Teknik Piano yang Hebat, tapi Musiknya Belum Terasa sebagai Dirinya

    Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas
    Still cut Song Kang di drakor Four Hands Two Sonatas (x.con/CJnDrama)

    Kemampuan Pi O dalam bermain piano sebenarnya gak bisa dianggap remeh karena ia mampu mengikuti kompetisi bergengsi dan meraih kemenangan. Namun, ada bagian dari permainannya yang justru membuat orang lain merasa ada sesuatu yang kurang, yaitu musiknya belum menunjukkan ciri khas dirinya sendiri. Tekniknya memang bagus, tetapi permainan tersebut terasa seperti sekadar menunjukkan kemampuan tanpa benar-benar memperlihatkan perasaan Pi O.

    Yang membuatnya semakin pilu, Pi O sebenarnya sudah berusaha keras untuk menghidupkan emosi dari setiap partitur yang dimainkan. Ia mencoba memahami perasaan di balik musik tersebut, tetapi hasilnya tetap terasa seperti ada jarak antara dirinya dengan permainan pianonya. Seakan-akan Pi O sudah punya kemampuan untuk memainkan musik dengan sempurna, tetapi masih kesulitan membuat orang lain benar-benar mendengar “Pi O” di dalam musiknya.

    Itulah empat sisi pilu yang membuat kehidupan Kang Pi O gak sesempurna yang terlihat di Four Hand Two Sonatas, menurutmu bagian mana yang paling bikin simpati?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Inaf Mei
EditorInaf Mei

Related Articles

See More