Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Darah Mutan Lee Woo Gyeom di Bloody Flower

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Dalam drama Bloody Flower, Lee Woo Gyeom (Ryeo Un) hadir bukan sekadar sebagai terdakwa kasus pembunuhan berantai, tetapi sebagai figur yang mengaburkan batas antara ilmuwan jenius dan kriminal tanpa empati. Di tengah sorotan publik yang haus hukuman, ia tetap bersikeras bahwa semua tindakannya berakar pada satu hal, darahnya yang berbeda dari manusia biasa.

Darah mutan itulah yang menjadi inti konflik, sekaligus fondasi pembelaannya di ruang sidang. Klaim bahwa darahnya mampu menyembuhkan penyakit tak tersembuhkan membuat kasus ini jauh lebih kompleks daripada sekadar hitam dan putih. Berikut lima fakta tentang darah mutan Lee Woo Gyeom di Bloody Flower yang membuat ceritanya semakin provokatif dan sulit ditebak arahnya.

1. Memiliki komposisi biologis yang tidak lazim

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Sejak awal, darah Lee Woo Gyeom digambarkan memiliki struktur sel yang berbeda dari manusia pada umumnya. Ia memiliki kemampuan regenerasi yang jauh lebih cepat, dengan kandungan antibodi yang tidak lazim dan respons imun yang ekstrem terhadap berbagai penyakit mematikan. Secara ilmiah, darahnya seperti anomali yang tidak bisa dijelaskan dengan teori konvensional.

Keunikan ini bukan sekadar klaim sepihak, karena riset awalnya menunjukkan hasil yang konsisten dan terukur. Dalam beberapa adegan, diperlihatkan bagaimana sampel darahnya bereaksi berbeda saat diuji di laboratorium, memunculkan harapan sekaligus kecurigaan. Di titik inilah drama mulai mempertanyakan, apakah Woo Gyeom benar-benar menemukan terobosan medis, atau hanya membangun narasi untuk membenarkan ambisinya.

2. Digunakan sebagai dasar pengobatan eksperimental

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Metode pengobatan Woo Gyeom sepenuhnya bertumpu pada darah mutannya sendiri. Ia mengekstraksi, memodifikasi, dan mengolah darah tersebut menjadi terapi eksperimental bagi pasien dengan kondisi kritis yang sudah divonis tidak memiliki harapan hidup. Baginya, itu adalah bentuk penyelamatan terakhir yang tidak berani dilakukan dunia medis arus utama.

Namun masalahnya, semua prosedur itu dilakukan tanpa izin resmi dan tanpa uji klinis yang sah. Ia melangkahi regulasi, mengabaikan protokol etik, dan memilih bertindak sendiri demi membuktikan keyakinannya. Dalam perspektif hukum, tindakan itu jelas ilegal; tetapi dalam sudut pandang kemanusiaan, ia menawarkan peluang yang sebelumnya tidak pernah ada.

3. Pernah mendapat pengakuan akademik

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Sebelum namanya tercoreng kasus pembunuhan, Woo Gyeom dikenal sebagai peneliti brilian. Karya ilmiahnya tentang struktur darah dan kemungkinan terapi berbasis sel pernah mendapatkan nilai tinggi dalam forum akademik dan menuai pujian dari para profesor. Ia bukan sosok sembarangan yang tiba-tiba mengaku menemukan keajaiban medis.

Reputasi itulah yang membuat banyak orang terbelah dalam menilai dirinya. Jika seorang ilmuwan dengan rekam jejak cemerlang mengemukakan temuan luar biasa, bukankah ada kemungkinan bahwa ia memang berada selangkah di depan zamannya? Drama ini dengan cerdas memanfaatkan latar akademik Woo Gyeom untuk memperkuat dilema antara kejeniusan dan kegilaan.

4. Diakui oleh asosiasi darah internasional

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Dalam proses persidangan, terungkap bahwa penelitian awal tentang darah mutan Woo Gyeom sempat menarik perhatian asosiasi darah di Amerika. Meski belum pernah dilegalkan sebagai terapi resmi, ada pengakuan bahwa komposisi darahnya memang unik dan layak diteliti lebih lanjut. Fakta ini menjadi senjata penting bagi tim pembela.

Pengakuan tersebut tidak otomatis membebaskannya dari jerat hukum, tetapi cukup untuk menanamkan keraguan. Jika lembaga internasional saja mengakui keunikannya, apakah sepenuhnya adil untuk menyebutnya delusi? Bloody Flower memanfaatkan momen ini untuk menggeser opini publik dalam cerita, membuat kasusnya semakin abu-abu.

5. Menjadi harapan sekaligus sumber petaka

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Bagi sebagian pasien dan keluarga mereka, darah Woo Gyeom adalah secercah harapan terakhir. Ada kesaksian yang menyebutkan kondisi pasien membaik setelah menerima terapinya, bahkan menunjukkan tanda-tanda kesembuhan yang sebelumnya mustahil. Rekam medis yang muncul di persidangan menambah lapisan kompleksitas pada kasus ini.

Namun di sisi lain, darah itu juga dikaitkan dengan kematian 17 korban yang disebutnya sebagai bagian dari eksperimen. Harapan dan tragedi berjalan beriringan, membentuk paradoks yang sulit dipisahkan. Darah yang diklaim menyelamatkan nyawa justru lahir dari rangkaian tindakan yang merenggut nyawa lain.

Pada akhirnya, darah mutan Lee Woo Gyeom bukan hanya elemen medis dalam Bloody Flower, melainkan simbol pertarungan ideologi antara sains, hukum, dan moralitas. Drama ini tidak pernah memberi jawaban sederhana, karena setiap fakta tentang darahnya selalu diiringi pertanyaan baru yang mengguncang keyakinan penonton terhadap kebenaran. Melalui konflik darah mutan itu, Bloody Flower menjelma menjadi kisah tentang batas ambisi manusia yang begitu tipis antara penyelamat dan perusak, sekaligus menegaskan bahwa kebenaran dalam drama ini selalu berdiri di antara cahaya dan bayangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us

Latest in Korea

See More

7 Kesolidan Tim Pengacara Park Han Joon dalam Drakor Bloody Flower

16 Feb 2026, 19:17 WIBKorea