7 Benturan Idealisme Hukum yang Menghancurkan Tim di Pro Bono

Intinya sih...
- Tim pro bono menilai apapun alasannya, Kang Da Wit harusnya tak boleh melakukan manipulasi persidangan, terlebih ia adalah hakimnya
- Ketika terungkap bahwa Da Wit punya luka personal terhadap Yoo Baek Man, tim langsung menyimpulkan motif dendam
- Tim menuntut Da Wit steril dari emosi, seolah keadilan bisa ditegakkan tanpa sejarah dan pengalaman. Idealismenya cukup naif!
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)
Tim pro bono di Pro Bono hancur seketika usai ketua tim mereka, Kang Da Wit (Jung Kyung Ho) dituduh memanipulasi hasil pengadilan. Park Gi Ppeum (So Ju Yeon) bersikeras mengatakan kalau Da Wit itu memang salah, apa pun alasannya.
Hal ini lantas membuat tim pro bono yang tadinya mulai kompak, mendadak jadi musuh di ruang pengadilan. Ini semua karena tujuh benturan idealisme hukum yang menghancurkan timnya dalam drakor Pro Bono.
1. Tim pro bono menilai apapun alasannya, Kang Da Wit harusnya tak boleh melakukan manipulasi persidangan, terlebih ia adalah hakimnya

2. Ketika terungkap bahwa Da Wit punya luka personal terhadap Yoo Baek Man, tim langsung menyimpulkan motif dendam

3. Tim menuntut Da Wit steril dari emosi, seolah keadilan bisa ditegakkan tanpa sejarah dan pengalaman. Idealismenya cukup naif!

4. Fokus tim bergeser dari kelalaian Yoo Baek Man ke kesalahan Da Wit. Akibatnya, sosok direktur yang memang lalai mengelola pabrik justru terlindungi

5. Tim Pro Bono yang biasanya empatik pada korban, kali ini kehilangan empati pada rekan sendiri. Prinsip ditegakkan dengan cara menghakimi

6. Ironisnya, tim yang membela Elijah sebagai korban sistem, gagal melihat Da Wit sebagai korban ketidakadilan masa lalu. Idealisme mereka berubah!

7. Alih-alih bertanya siapa yang paling bertanggung jawab atas tragedi pabrik, tim sibuk menjaga citra moral profesi hakim

Retaknya tim di Pro Bono menunjukkan bahwa hukum bisa kehilangan arah ketika prinsip dijaga tanpa belas rasa. Idealisme memang penting, tapi ketika ia menutup mata pada konteks dan kemanusiaan, keadilan justru kembali melukai. Setuju?
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.



















