7 Prinsip Sarah Kim Membangun Boudoir dari Nol di The Art of Sarah

Bagi Sarah Kim (Shin Hae Sun) di The Art of Sarah, Boudoir bukan sekadar merek tas, melainkan eksperimen sosial. Ia membuktikan bahwa kemewahan bisa diciptakan dengan reputasi yang direkayasa.
Dari nol, tanpa warisan keluarga kaya atau atelier Eropa, Boudoir tumbuh menjadi merek mewah dengan status sosial yang mahal. Meski kesannya ini manipulatif, tapi tak dapat dipungkiri kalau Sarah Kim ternyata sosok pebisnis yang handal.
Inilah tujuh prinsip yang digunakan Sarah Kim untuk membangun Boudoir hingga dipercaya sebagai merek mewah.
1. Sarah Kim sadar bahwa membuat tas bukanlah hal istimewa. Yang langka justru kemampuan menciptakan desire

2. Boudoir tidak dijual sebagai tas fungsional, melainkan sebagai simbol pencapaian sosial. Ketika orang menginginkannya, kualitas jadi urusan kedua

3. Barang mewah tidak dibuat untuk menyenangkan pelanggan. Justru sebaliknya, semakin sulit dijangkau sebuah merek, semakin tinggi nilainya

4. Tas Boudoir diproduksi di Sinwol-dong, Korea Selatan. Namun bukti impor tetap ada, dari hendel tas yang dipasang di Inggris lalu diimpor kembali

5. Secara teknis, Boudoir bisa mengklaim produknya sebagai barang impor. Dalam dunia luxury, detail administratif sering kali lebih dipercaya

6. Sejarah merek, klaim sertifikasi, hingga isu Boudoir sebagai pemasok keluarga kerajaan Inggris menjadi fondasi citra mewahnya

7. Bagi Sarah Kim, itu adalah cerita yang disebarkan dari mulut ke mulut. Ia tak memaksa orang percaya, merekalah yang yakin dengan sendirinya

Pada akhirnya, Boudoir sukses bukan karena kebohongan Sarah Kim semata, melainkan karena manusia selalu rela membayar mahal demi terlihat lebih tinggi dari orang lain. Di The Art of Sarah, Sarah Kim memang manipulatif, tetapi ia tidak menciptakan sistem tersebut, ia hanya memahaminya dengan sangat baik.

















