Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Sisi Temperamental Pi O Four Hands, Two Sonatas, Jangan Tiru!

2 min read
7 Sisi Temperamental Pi O Four Hands, Two Sonatas, Jangan Tiru!
still cut drama Four Hands, Two Sonatas (instagram.com/tvn_drama)
  • Kang Pi O sejak kecil dibebani ibunya untuk menguasai piano demi pengakuan kakeknya, di tengah lingkungan keluarga yang dipenuhi pertengkaran dan tuntutan tinggi.
  • Tekanan, perfeksionisme, dan contoh perilaku keluarga membentuk Pi O menjadi temperamental; ia mudah berteriak, membanting barang, berkelahi, menyela, serta bersikap sarkastik.
  • Stres berlebih membuat Pi O mengalami gangguan panik dan halusinasi yang menghambat performa pianonya, termasuk saat memaksakan latihan meski jarinya terluka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kang Pi O (Song Kang) sejak usia empat tahun sudah punya ketertarikan pada seni musik dalam drakor Four Hands, Two Sonatas. Namun, lambat laun minatnya itu berubah menjadi tuntutan pembuktian diri yang dibebankan oleh Kang Ji Hye (Yoon Se Ah), ibunya, kepada dirinya. Kang Pi O dituntut untuk menguasai teknik piano oleh ibunya semata-mata hanya untuk mendapatkan pengakuan dari Kang Seung Woon (Jung Jin Young), kakeknya yang merupakan konduktor orkestra terkenal.

Karena ingin mendapatkan pengakuan dari kakeknya, Kang Pi O memaksa diri secara berlebihan untuk menguasai permainan piano. Di rumah, tak jarang Kang Pi O juga mendengar pertengkaran hebat yang terjadi di antara ibu dan kakeknya. Kombinasi antara stres akibat tuntutan tinggi, model perilaku orang tua dan perfeksionisme, membentuk Kang Pi O menjadi sosok yang memiliki emosi tidak stabil. Beberapa bukti di bawah ini membuktikan sisi temperamental yang dimiliki Kang Pi O. Simak bersama, yuk!

  1. 1. Meledak-ledak. Pi O mudah luapkan amarah dengan berteriak, membanting barang bahkan tindakan fisik impulsif

    Potongan adegan drama Four Hands, Two Sonatas yang dibagikan melalui akun Instagram resmi tvN Drama.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (instagram.com/tvn_drama)
  2. 2. Saat partiturnya hilang, Pi O marah, memaksa masuk ruangan peserta lain hingga berkelahi dengan Jeong Yo

    Potongan adegan drama Four Hands, Two Sonatas yang diunggah melalui akun Instagram resmi tvN Drama.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (instagram.com/tvn_drama)
  3. 3. Suka menyela. Kalau berbincang dengan orang lain, ia cenderung tidak sabar mendengarkan dan mudah tersulut

    Potongan adegan serial drama Four Hands, Two Sonatas dalam unggahan resmi akun Instagram tvN Drama.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (instagram.com/tvn_drama)
  4. 4. Saat mempertanyakan keahliannya pada Hyun Soo, Pi O memotong dan membantah penjelasan gurunya terus-menerus

    Potongan adegan promosi drama Four Hands, Two Sonatas yang dibagikan melalui akun Instagram tvN Drama.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (instagram.com/tvn_drama)
  5. 5. Perilaku pasif-agresif. Pi O juga suka menggunakan nada bicara sarkastik pada orang lain

    Potongan adegan dari drama Four Hands, Two Sonatas produksi tvN, sesuai materi promosi serial tersebut.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (dok.TvN/Four Hands, Two Sonatas)
  6. 6. Saat Jeong Yo memintanya rehat agar kelingkingnya tak semakin terluka, Pi O membalas kekhawatiran temannya itu dengan sarkas

    Potongan adegan drama Four Hands, Two Sonatas dari unggahan akun Instagram tvN Drama sebagai materi promosi serial.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (instagram.com/tvn_drama)
  7. 7. Ia mengatakan orang yang tidak jenius seperti dirinya harus berlatih keras dan tidak seberuntung Jeong Yo yang punya bakat alami

    Still cut drama Four Hands, Two Sonatas produksi tvN yang memperlihatkan salah satu adegan dalam serial tersebut.
    still cut drama Four Hands, Two Sonatas (dok.TvN/Four Hands, Two Sonatas)

    Karena tumbuh di lingkungan yang kurang sehat, Kang Pi O beranjak dewasa menjadi sosok yang temperamental dalam drakor Four Hands, Two Sonatas. Bukan hanya temperamental, Kang Pi O bahkan punya gangguan panik karena stress berlebih hasil dari tuntutan sebagai seorang pianis. Ia mengalami gejala halusinasi yang jadi penghambat performanya. Akhirnya, itu semua berdampak pada hal yang paling penting dalam hidupnya yaitu permainan pianonya. Perfeksionisme, paparan model perilaku orang tua dan tuntutan sosial yang tinggi diam-diam mulai menggerogoti dirinya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More