Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Alasan Babylon Selalu Kalah dari Jin Man di A Shop for Killer 2
still cut drama A Shop for Killer 2 (Instagram.com/disneypluskr)
  • Jeong Jin Man mencuri server data utama Babylon untuk menawarkan gencatan senjata permanen, tetapi organisasi itu mengerahkan pasukan besar demi merebutnya kembali.
  • Babylon gagal karena kerja sama internalnya buruk: anggota saling bersaing dan Bale bahkan menghabisi rekan setimnya, sementara tim Jin Man bergerak kompak.
  • Strategi Babylon dinilai ceroboh dan meremehkan Jin Man, yang memahami pola operasinya berkat pengalaman sebagai mantan pasukan khusus dan tentara bayaran Babylon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jeong Jin Man (Lee Dong Wook) mengambil langkah ekstrem dengan mencuri server utama data organisasi Babylon dalam drakor A Shop for Killer 2. Dengan mencuri server utama data Babylon, Jeong Jin Man mau menawarkan kesepakatn gencatan senjata permanen. Ini agar kehidupannya dan Jeong Ji An (Kim Hye Jin) tidak terus menerus dibayang-bayangi teror Babylon.

Karena tindakannya ini, organisasi Babylon tentu marah karena server utama data itu menyimpan seluruh kejahatan mereka sejak berdiri. Tindakan Jeong Jin Man ini membuat organisasi Babylon mengerahkan banyak pasukannya hingga memerlukan bantuan para petarung dari cabang yang ada di Jepang. Namun, meski telah mengerahkan banyak pasukannya, organisasi Babylon selalu saja gagal dan kalah dari Jeong Jin Man. Setidaknya ada tiga hal yang jadi alasan mengapa organisasi Babylon selalu kalah dari Jeong Jin Man dalam drakor A Shop for Killer 2, intip, yuk!

1. Meski punya banyak anggota, kerja sama tim yang terjalin kurang kompak

still cut drama A Shop for Killer 2 (Instagram.com/disneypluskr)

Babylon merupakan organisasi kejahatan dengan skala besar yang fokus menyediakan jasa keamanan untuk klien dari berbagai negara. Beroperasi dengan skala yang besar, Babylon tentu punya anggota tim yang banyak. Tapi sayangnya kuantitas anggotanya tidak dibarengi dengan kualitas kerja sama timnya. Para anggota Babylon kebanyakan merasa sombong dan paling kuat dari pada anggota lainnya. Sikap ini jelas terlihat dalam diri Bale (Jo Han Seon). Dalam operasi penangkapan Jin Man, Bale enggan kooperatif dengan tim dari Babylon cabang Jepang.

Bukannya membentuk chemistry agar kerja sama tim terbangun, Bale justru menunjukkan sikap permusuhan. Saat turun lapangan menyergap markas Jin Man, Bale justru menghabisi J (Masaki Okada), rekan satu timnya sendiri. Hal ini yang membuat Babylon selalu kalah dari Jin Man. Bukannya bersatu menangkap Jin Man, anggota di dalamnya justru sibuk melawan satu sama lain untuk tunjukkan kekuasaannya. Sedangkan kekompakan tim Jin Man tidak perlu diragukan lagi. Meski anggotanya terbatas dalam segi jumlah, mereka bergerak menjadi satu kesatuan yang sangat kuat.

 

2. Strategi dan taktik perangnya masih jauh dari yang dimiliki Jin Man

still cut drama A Shop for Killer 2 (Instagram.com/disneypluskr)

Meski merupakan organisasi keamanan berbasis internasional, dari segi strategi dan taktik perang, Babylon masih jauh di belakang Jin Man. Babylon kurang dalam hal perencanaan yang membuat mereka selalu saja kewalahan untuk menangkap Jin Man dan antek-anteknya. Babylon hanya fokus mengerahkan pasukan sebanyak mungkin tanpa benar-benar memahami rencana yang telah Jin Man buat. Terlebih, Jin Man di masa lalu merupakan anggota pasukan khusus Korea Selatan dan mantan tentara bayaran dari Babylon sendiri. Jin Man memahami strategi dan taktik perang yang biasa digunakan Babylon dan unggul karena pengalamannya saat di pasukan khusus.

Strategi yang sembrono dan asal-asalan dari Babylon justru hanya membuat banyak korban berjatuhan dari pihaknya. Sedangkan Jin Man yang hanya beranggotakan Pasin (Kim Min), Kwak Chul Seung (Baek Soo Jang), Park Jin Woo (Kim Yoon Sung), Kim Min Hye (Geum Hannah) dan Brother (Lee Tae Young) itu bisa mempertahankan keutuhan timnya. Hal ini juga menjadi alasan lainnya mengapa Babylon selalu kalah dari Jin Man.

 

3. Babylon terlalu sombong dan mudah meremehkan Jin Man yang jadi lawannya

still cut drama A Shop for Killer 2 (Instagram.com/disneypluskr)

Kebiasaan buruk Babylon yang selalu memandang sebelah mata musuhnya menjadi celah fatal yang terus-menerus dimanfaatkan oleh Jin Man. Karena merasa sebagai organisasi global dengan sumber daya finansial melimpah, persenjataan canggih, dan jumlah personel yang masif, Babylon terjebak dalam rasa percaya diri yang berlebihan. Mereka berasumsi bahwa Jin Man hanyalah seorang "pembelot tunggal" yang bisa ditundukkan dengan mudah hanya dengan menggempurnya menggunakan pasukan skala besar.

Kesombongan ini membuat Babylon buta terhadap kenyataan bahwa Jin Man bukanlah lawan sembarangan. Jin Man adalah mantan prajurit pasukan khusus Korea Selatan sekaligus salah satu tentara bayaran paling berdarah dingin dan jenius yang pernah dimiliki oleh Babylon sendiri. Ia paham luar-dalam bagaimana Babylon berpikir, beroperasi, hingga celah keamanan dan pola taktik yang biasa mereka gunakan.

Alih-alih menyusun rencana mitigasi risiko yang matang, para petinggi terlalu berfokus pada ego dan superioritas mereka. Mereka menganggap cara-cara kotor dan intimidasi teknologi sudah cukup untuk meruntuhkan mental Jin Man. Sikap meremehkan ini terbukti menjadi senjata makan tuan. Babylon tidak menyadari bahwa di balik kesendirian dan keterbatasan jumlah timnya, Jin Man selalu berada sepuluh langkah di depan mereka, memanfaatkan setiap jengkal kesombongan Babylon untuk menjebak dan menghancurkan mereka satu per satu.

Konflik antara Babylon dan Jeong Jin Man menjadi bukti nyata bahwa kekuatan fisik dan skala organisasi yang besar tidak serta-merta menjamin kemenangan. Ketika kesombongan membuat musuh lengah, strategi yang terukur dan kecerdasan taktis akan selalu menemukan celah untuk membalikkan keadaan. Jin Man berhasil membuktikan bahwa keunggulan sejati tidak terletak pada seberapa banyak anggota yang dimiliki, melainkan pada ketenangan, kesiapan, dan pemahaman mendalam atas lawan yang dihadapi. Pada akhirnya, sikap meremehkan lawan justru menjadi jebakan mematikan yang menghancurkan Babylon dari dalam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article