Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Bukti Park Min Jae Hidup Ketakutan di Between Steps, Mode Survival?

3 min read
4 Bukti Park Min Jae Hidup Ketakutan di Between Steps, Mode Survival?
Cuplikan drakor Between Steps (x.com/channel_ena)
  • Park Min Jae, mahasiswa PhD robotik yang kehilangan kaki akibat kanker, tetap hidup dalam kecemasan meski telah remisi dan dinilai menjalani keseharian secara normal.
  • Ia menekan diri untuk segera menciptakan karya sebelum meninggal, merasa waktunya singkat, serta memilih memikul tugas sendiri ketika rekan lab mengabaikan tenggatnya.
  • Trauma kanker dan kondisi prostetik membuatnya rendah diri, menjauhi renang serta hubungan romantis, dan takut saat memar menghambat penggunaan kaki prostetiknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Park Min Jae (Choo Young Woo) adalah seorang mahasiswa PhD teknik mesin yang mendalami robotik di drakor Between Steps (2026). Di kalangan mahasiswa, Park Min Jae dikenal sebagai salah satu peneliti disabilitas yang dulunya seorang perenang profesional. Banyak orang menganggap hidup Park Min Jae telah kembali normal dan menjalankan kesehariannya dengan baik.

Sayangnya, Park Min Jae selama ini hidup penuh ketakutan dan bisa dirasakan oleh beberapa orang yang berinteraksi langsung dengannya. Kehilangan satu kaki karena kanker membuat Park Min Jae selalu memikirkan banyak hal. Bahkan setelah dinyatakan remisi, Park Min Jae tetap ketakutan karena sel kankernya akan kembali. Lalu, bukti apa saja yang menunjukkan bahwa Park Min Jae hidup dalam ketakutan di drakor Between Steps?

Peringatan, artikel ini mengandung spoiler!

  1. 1. Keras pada diri sendiri

    Cuplikan drakor Between Steps
    Cuplikan drakor Between Steps (x.com/channel_ena)

    Setelah dinyatakan remisi, Park Min Jae disarankan dokter untuk menjaga gaya hidup dan berat badan karena kaki prostetiknya. Dokter juga menekankan jika Park Min Jae bisa hidup layaknya manusia sehat pada umumnya. Dia hanya perlu kontrol beberapa kali untuk menjaga tubuhnya dalam kurun beberapa bulan.

    Sayangnya, Park Min Jae malah gak merasa saran ini cukup membantunya tenang. Sebagai mahasiswa doktoral, Park Min Jae bertekad untuk menciptakan sebuah karya yang diluncurkan sebelum dirinya meninggal. Kondisi ini membuat Park Min Jae harus hidup penuh tekanan dan keras pada dirinya sendiri.

  2. 2. Merasa hidupnya singkat

    Cuplikan drakor Between Steps
    Cuplikan drakor Between Steps (x.com/channel_ena)

    Mahasiswa yang bergabung di lab bersamanya kerap ditekankan jika kanker membuat hidup Park Min Jae seakan gak punya waktu banyak. Mereka bahkan diberikan tugas untuk diselesaikan secara cepat. Sayangnya, para mahasiswa ini kerap mengabaikan tenggat waktu yang diberikan Park Min Jae. 

    Mereka bahkan dengan mudah menyuruh seniornya tersebut untuk hidup lebih tenang dan santai. Sayangnya, pendapat ini gak pernah diperhatikan Park Min Jae. Dia malah memilih untuk mengerjakan tugas tanpa meminta bantuan orang yang gak menghargainya. Kondisi ini jelas membuat hidupnya semakin stres, lho.

  3. 3. Gak punya keinginan dan berpacaran

    Cuplikan drakor Between Steps
    Cuplikan drakor Between Steps (x.com/channel_ena)

    Park Min Jae sendiri merasa gak punya waktu menjalin hubungan dengan orang lain. Sejak kecil, dia berusaha menggapai mimpinya sebagai perenang profesional namun harus terhenti setelah kanker menyerang hingga kehilangan kakinya. Sejak saat itu, dia hanya fokus untuk menjadikan hidup singkatnya ini berguna bagi dirinya sendiri.

    Sayangnya, saking fokus menjalani hidup dan ambisinya, Park Min Jae lupa untuk menyenangkan diri. Dia bahkan gak yakin jika dirinya bisa menjalin hubungan dengan seorang perempuan di masa depan. Bahkan, dia merasa jika hidupnya gak ada yang menarik untuk ditampilkan, lho.

  4. 4. Punya ketakutan besar akan hidupnya

    Cuplikan drakor Between Steps
    Cuplikan drakor Between Steps (x.com/channel_ena)

    Setelah kehilangan kakinya, Park Min Jae kerap merasa rendah diri. Dia gak lagi menikmati waktunya untuk berenang santai demi menjernihkan pikiran. Baginya, kolam renang merupakan mimpi besar yang harus dikubur paksa karena penyakitnya. 

    Gak hanya itu, ketika merasa gak nyaman menggunakan kaki prostetik, Park Min Jae cukup ketakutan dengan kondisinya. Dia bahkan mengaku jika menangis keras karena memar hingga gak bisa menggunakan kaki prostetiknya. Kondisi ini membuktikan jika Park Min Jae berada di mode survival karena pengalaman buruknya terhadap kanker.

    Sejak kehilangan kakinya, Park Min Jae gak berhenti khawatir dan menikmati hidupnya. Dia kerap tersinggung ketika orang lain membicarakan dirinya di masa menjadi perenang. Bukankah penjelasan di atas membuktikan Park Min Jae hidup ketakutan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More