Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fenomena Sosial Berlapis yang Diangkat di Drakor The Art of Sarah

5 Fenomena Sosial Berlapis yang Diangkat di Drakor The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Kalau kamu menonton The Art of Sarah dengan ekspektasi thriller investigasi biasa, kamu mungkin akan terkejut. Serial Netflix ini memang memulai ceritanya dengan kematian seorang figur berpengaruh, Sarah Kim (Shin Hae Sun) yang kemudian kasus tersebut diungkap oleh detektif Park Mu Gyeong (Lee Jun Hyuk). Namun, semakin dalam ceritanya berjalan, bukan hanya pada siapa yang bertanggung jawab, tetapi pada bagaimana sosok Sarah Kim bisa ada dan dipercaya sejak awal.

The Art of Sarah bergerak dari kisah personal menuju refleksi sosial yang lebih luas. Sinopsis tentang seorang perempuan yang melakukan penipuan dan membangun identitas baru menjadi pintu masuk untuk membahas fenomena sosial yang sangat relevan di kehidupan modern saat ini. Daripada penasaran, yuk simak fenomena sosial yang diangkat dalam drama The Art of Sarah!

1. Kelas sosial, elitisme, dan eksklusivitas yang menciptakan keterbatasan akses bagi 'outsider'

cuplikan drama The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Elitisme dan eksklusivitas di The Art of Sarah relevan dengan konteks modern saat ini karena berkaitan dengan kelas sosial yang bukan cuma soal uang, tetapi juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, pendidikan prestisius, jaringan sosial, garis keturunan simbolik, dan legitimasi sosial yang sudah terbentuk sebelumnya. Hal ini sering kali terlihat terbuka secara formal, tetapi dalam praktiknya tetap memiliki lingkaran eksklusif.

Dalam The Art of Sarah, pesta privat dengan tamu terbatas, jamuan makan berkonsep fine dining, hingga percakapan yang terjadi hanya di balik pintu tertutup memperlihatkan bahwa akses terhadap jaringan tertentu baik dalam bisnis maupun komunitas elite tidak hanya ditembus lewat kerja keras semata. Namun, soal diakui sejak awal sebagai bagian dari 'mereka' menjadi lebih berharga daripada kapasitas.

Memahami hal ini, Sarah Kim tidak sekadar memalsukan dan membangun identitas baru, ia juga memalsukan akses untuk mendapat legitimasi dari mereka yang sudah berada di 'dalam'. Drama ini tidak menghakimi kelas tertentu. Ia hanya memperlihatkan bagaimana struktur sosial dapat menciptakan jarak yang sulit ditembus dan membuat outsider harus menjadi orang lain terlebih dahulu sebelum diberi ruang.

2. Budaya persona di era yang haus validasi

cuplikan drama The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Sarah Kim membangun identitas dirinya seperti brand premium dengan visual yang konsisten, narasi masa lalu yang solid, jejak sosial terkurasi, dan aura eksklusif yang terjaga. Ia memahami bahwa persepsi publik bisa dibentuk melalui konsistensi.

Budaya persona Sarah Kim sangat relevan dan terlihat dalam bagaimana media sosial bekerja saat ini. Membangun citra diri bukan lagi sekadar strategi personal, tetapi seolah telah menjadi norma sosial di era digital. Individu kini berperan sebagai kurator identitasnya sendiri, memilih bagaimana ingin dilihat, menampilkan versi terbaik yang konsisten, serta membangun narasi yang terkontrol dan terlihat meyakinkan.

Validasi sosial sering kali menjadi indikator nilai diri. Dalam drama, bukan hanya kebohongan Sarah Kim yang mengganggu, tetapi juga fakta bahwa sistem sosial membuat kebohongan itu rasional. Dalam dunia pencitraan, yang menang bukan yang paling jujur, melainkan yang paling konsisten membangun narasi.

3. Kapitalisme simbolik dan industri kemewahan

cuplikan drama The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Ada beberapa pola yang terlihat di The Art of Sarah, barang mewah mendapat sorotan visual yang detail, akses terhadap brand tertentu langsung mengubah cara orang memperlakukan Sarah Kim, dan eksklusivitas digambarkan lebih penting daripada fungsi produk itu sendiri. Sarah Kim memahami ini sepenuhnya, ia menciptakan dan menjual BUDOIR tidak berdasarkan kualitas, melainkan narasi kelangkaan, semakin produk itu sulit didapat maka semakin tinggi nilainya.

Hubungan antara industri kemewahan dan kapitalisme simbolik di masyarakat modern saat ini, menempatkan nilai produk tidak lagi ditentukan dari fungsi atau biaya produksi, tapi dari makna yang melekat padanya. Jika banyak orang menganggap barang itu bergengsi, maka ia menjadi bergengsi. Sehingga, yang dibeli bukan cuma produk, tapi status, eksklusivitas, dan pengakuan.

Di sinilah muncul dampak yang lebih luas. Tekanan sosial untuk membeli simbol demi diterima, semakin lebarnya jurang pemisah antara yang mampu mengakses simbol dengan yang tidak, serta budaya konsumerisme yang didorong oleh persaingan citra. Karena dalam masyarakat kapitalis kompetitif, kepemilikan barang bermerk merupakan bentuk komunikasi non-verbal mengenai posisi dan keberhasilan seseorang.

4. Kaburnya moralitas di tengah sistem kompetitif ekstrem dan tidak setara

cuplikan drama The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Biasanya cerita tentang penipuan dibuat sederhana, ada korban dan pelaku. Tapi di The Art of Sarah, moralitas dibuat kabur. Sarah memang memanipulasi dan drama ini tidak membenarkan tindakannya. Tapi perlu diingat bahwa Sarah Kim lahir dari ketimpangan. Ia hidup dalam tekanan status dan terjebak dalam sistem yang memuja citra.

Drama ini memperlihatkan bagaimana sistem yang sangat kompetitif dan berbasis citra, turut membentuk pilihan individu. Tekanan untuk “naik kelas” atau terlihat sukses juga bisa menjadi sangat besar. Ketika keberhasilan diukur dari simbol eksternal seperti status, koneksi, kemewahan, maka sebagian individu mungkin merasa terdorong untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi tersebut, meski harus berusaha dengan cara yang problematis sekalipun.

Secara tidak langsung, ini kritik terhadap standar sosial yang membuat orang merasa “tidak cukup” jika mereka hanya menjadi diri sendiri. Ini selaras dengan realitas global di mana ketimpangan akses dan tekanan sosial dapat memengaruhi keputusan moral.

5. Munculnya krisis identitas di bawah tekanan standar sosial

cuplikan drama The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Krisis identitas muncul ketika jati diri tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang tetap, melainkan sesuatu yang bisa dinegosiasikan bahkan direkonstruksi. Mok Ga Hui (Sarah Kim) mengganti nama, latar belakang, dan posisi sosialnya bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk menjadi versi diri yang lebih “diakui”. Dan di sinilah drama ini terasa relevan untuk generasi modern.

Kita hidup dalam era di mana pengakuan sosial menentukan harga diri, menjadi “biasa” terasa seperti kegagalan, serta nilai diri sering dikaitkan dengan pencapaian visual dan pengakuan sosial. Sarah Kim takut menjadi biasa. Konflik batinnya menjadi bukan takut ketahuan, tapi takut kehilangan validasi.

Dari hal ini lah The Art of Sarah juga menggambarkan kecemasan generasi sekarang, takut tidak diakui, takut tertinggal, takut tidak terlihat bernilai. Drama ini seolah menunjukkan tekanan eksistensial itu ada tanpa harus menyatakannya secara eksplisit.

6. Drama The Art of Sarah sebagai refleksi sosial

cuplikan drama The Art of Sarah
cuplikan drama The Art of Sarah (instagram.com/netflixkr)

Pada akhirnya, The Art of Sarah membingkai misterinya sebagai refleksi sosial. Dengan alur yang penuh teka-teki, karakter manipulatif yang kompleks, serta kritik terhadap obsesi masyarakat pada status serta citra, drama ini seolah membuka diskusi yang relevan tentang realitas sosial modern, bahwa dalam kultur yang sangat menilai status, kadang narasi dan simbol bisa mengalahkan fakta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Korea

See More

9 Justifikasi Sarah Kim atas Penipuannya di The Art of Sarah

22 Feb 2026, 10:01 WIBKorea