3 Kelebihan Manusia Dibandingkan Gumiho di No Tail to Tell

Dalam drama Korea No Tail to Tell, sosok Eun Ho (Kim Hye Yoon) selaku gumiho ditampilkan lebih superior dibanding manusia. Eun Ho bisa bertelekinesis, berteleportasi, membaca masa depan, bahkan mengendalikan pikiran. Manusia biasa jelas tidak bisa melakukan hal itu.
Oleh sebab itu, Eun Ho memandang manusia sebagai entitas yang lemah. Namun, di balik kelemahannya, manusia justru memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk abadi sekalipun. Apa sajakah itu?
1. Manusia punya spektrum emosi yang berwarna

Kelebihan pertama manusia terletak pada spektrum emosinya yang berwarna. Eun Ho mungkin melihat kesedihan atau kebahagiaan sebagai perasaan yang tak penting, tapi bagi manusia, spektrum emosi adalah alat untuk menghargai kehidupan. Siklus sedih dan bahagia menciptakan kontras yang memberi makna pada setiap momen.
Empati yang lahir saat kita melihat orang lain menderita bukanlah kelemahan, melainkan jembatan yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya. Hidup Eun Ho yang datar selama berabad-abad membuktikan bahwa tanpa spektrum emosi, keabadian hanyalah kehampaan yang membeku tanpa memori yang layak dikenang.
2. Manusia menjalin ikatan untuk saling menguatkan

Meski Eun Ho sebagai gumiho terkesan memiliki segalanya, tapi ia tidak memiliki siapa-siapa. Di sisi lain, kekuatan manusia justru terletak pada ikatan antarmanusia itu sendiri.
Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri, tapi bersosialisasi.
Kehadiran orang tua, saudara, sahabat, kekasih, bahkan musuh sekalipun, memberikan peran dan narasi dalam hidup kita. Interaksi ini melahirkan pembelajaran hidup. Seburuk apa pun keadaannya, manusia selalu memiliki peluang untuk menemukan rumah dalam diri orang lain.
Sedangkan, untuk sekadar punya teman, Eun Ho harus menghipnotis seseorang dulu agar ia setuju. Kesepian adalah harga mahal yang harus Eun Ho bayar dari pilihannya sebagai makhluk abadi yang tak punya ikatan dengan siapa pun.
3. Manusia mengenal dan menikmati filosofi kerja keras

Terakhir, meski terdengar menakutkan, manusia akrab dengan apa yang disebut kerja keras. Manusia bagaikan Sisyphus, terus mendaki menuju puncak meski beban hidup terasa berat. Ada kepuasan batin yang mendalam ketika sebuah keberhasilan dapat diraih setelah bekerja keras dan berkeringat.
Di lain sisi, hidup Eun Ho justru dipenuhi keinstanan. Ia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Tinggal mengabulkan permintaan orang kaya, miliaran dolar sudah masuk ke rekeningnya.
Namun, keinstanan ini justru menjadi ironi: Eun Ho tidak memahami nilai dari sesuatu karena ia tidak pernah mengenal dan menikmati filosofi kerja keras. Padahal, keterbatasan adalah guru terbaik yang mengajarkan kita untuk menghargai setiap keping pencapaian.
Hidup manusia memang tidak semudah gumiho yang memiliki banyak kekuatan, tapi jauh lebih bermakna berkat adanya perasaan, ikatan, dan perjuangan. Menjadi manusia berarti menerima kerapuhan dan dalam kerapuhan itulah terletak kekuatan hakiki yang tak dimiliki gumiho sekalipun.

















