Kenapa Gye Su Jeong Dipindahkan di IGD di Doctor X: Mafia in White?

- Gye Su Jeong dipindahkan dari Departemen Bedah ke IGD pada episode 3, sementara kontrak dokter lepasnya diabaikan dan posisinya digantikan Na Dae Il.
- Manajemen diduga menyingkirkannya untuk meredam protes dokter senior yang tersaingi kemampuan operasi Gye Su Jeong serta sikapnya yang menentang birokrasi demi pasien.
- Krisis tenaga medis di IGD membuat Gye Su Jeong dimanfaatkan mengisi kekosongan, sekaligus dibebani lingkungan kerja ekstrem sebagai bentuk sanksi dan penurunan posisi.
Setelah berhasil menyelamatkan petugas kebersihan Pusat Medis Seonam Universitas Guseo lewat operasi rawan, Gye Su Jeong (Kim Ji Won) malah tak mendapatkan apresiasi sebagaimana seharusnya. Pada episode 3 drakor Doctor X: Mafia in White, Gye Su Jeong (Kim Ji Won) malah dipindahtugaskan dari departemen bedah ke IGD. Hal ini disinyalir sebagai bentuk penurunan jabatan dari dokter bedah andalan menjadi dokter umum di IGD.
Selain dipindahkan, pembaruan kontrak Gye Su Jeong sebagai dokter lepas pun tak digubris. Malah, posisinya langsung diganti dengan dokter baru bernama Na Dae Il (Jang Seung Jo). Meski keputusan ini sangat membantu para nakes di IGD, diduga terdapat alasan lain mengapa Gye Su Jeong dipindahkan ke unit tersebut. Kenapa? Simak alasan lebih lengkapnya di bawah ini.
1. Taktik penyingkiran oleh jajaran dokter senior

cuplikan drakor Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White) Meski nama Departemen Bedah membaik sejak kehadiran Gye Su Jeong, kehadirannya tetap saja tak diterima oleh jajaran dokter senior di sana. Mereka tersinggung dengan kemampuan Gye Su Jeong yang mampu melakukan operasi tanpa kesalahan sedikit pun. Terlebih, statusnya sebagai dokter lepas tapi malah sering membangkang aturan birokrasi dengan alasan menyelamatkan nyawa. Hal ini membuat para petinggi rumah sakit sengaja melakukan working harassment.
Merasa tak mampu membendung sikap Gye Su Jeong dan protes para dokter senior, Direktur Rumah Sakit, Bu Seung Gwon (Son Hyun Joo), memilih memindahkan Gye Su Jeong ke IGD. Tujuannya bukan sekadar meredam kemarahan dokter senior, tetapi juga untuk mengisolasi Gye Su Jeong agar segera membuat kesalahan. Selama ini, Gye Su Jeong selalu bangga dengan kemampuannya dan mengaku tak pernah berbuat kesalahan selama melakukan operasi.
2. Krisis dokter di IGD

cuplikan drakor Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White) Efek domino dari beban kerja yang tidak manusiawi selama pandemi COVID-19, ditambah dengan regulasi internal yang tidak berpihak pada kesejahteraan tenaga medis, memicu eksodus besar-besaran. Para dokter spesialis bedah dan perawat senior memilih mengundurkan diri secara massal, menyisakan IGD dalam kondisi kelangkaan personel akut yang sangat berbahaya bagi keselamatan pasien. Terlebih, para profesor dan jajaran manajemen rumah sakit menerapkan standar ganda dalam penanganan medis. Membuat dokter yang tersisa menghadapi tekanan moral yang luar biasa karena dipaksa menunda tindakan medis hanya demi menunggu keputusan birokrasi.
Karena kekurangan dokter yang bersedia mengambil risiko, IGD sering kali melakukan praktik penolakan pasien darurat secara halus dengan dalih fasilitas penuh. Untuk menutupi kekosongan kritis tanpa harus memberikan tunjangan penuh, manajemen rumah sakit memanfaatkan jasa agensi dokter lepas seperti Gye Su Jeong dengan kemampuan bedah jenius. Sehingga, para pasien yang rentan dapat diselesaikan oleh Gye Su Jeong tanpa harus melibatkan dokter bedah senior.
3. Sanksi karena membangkang

cuplikan drakor Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White) Di Pusat Medis Seonam Universitas Guseo yang kaku dan gila hormat, Departemen Bedah Umum adalah tempat dengan prestise tertinggi. Di sanalah tempat para profesor melakukan operasi-operasi besar yang mendatangkan uang, sorotan media, dan reputasi. Melempar Gye Su Jeong ke IGD berarti menurunkan derajatnya dari seorang ahli bedah utama menjadi sekadar dokter penambal lubang. Dengan begitu, Gye Su Jeong tak lagi memiliki hak istimewa, kehilangan akses fasilitas utama, serta menjadi bahan olok-olok dokter lain.
IGD Pusat Medis Seonam Universitas Guseo juga sedang mengalami krisis tenaga medis akibat gelombang pengunduran diri massal. Menempatkan Gye Su Jeong di sana bukanlah tugas biasa, melainkan sengaja mengeksploitasi fisiknya. Pihak manajemen tahu bahwa IGD adalah lingkungan yang sangat kacau, tidak dapat diprediksi, dan penuh tekanan emosional. Mereka menghukum Gye Su Jeong dengan beban kerja ekstrem agar ia mengalami kelelahan hebat.
Kepindahan Gye Su Jeong dari Departemen Bedah ke IGD bukanlah tanpa disengaja. Kemampuan jeniusnya berhasil mengancam posisi dokter senior yang kaku dan gila hormat. Dengan berpindahnya Gye Su Jeong ke IGD, para petinggi meyakini kalau posisi mereka dapat aman. Tanpa sadar telah memperlihatkan kontras tajam antara dedikasi murni seorang dokter sejati dengan keserakahan sistem institusi mereka.






















