Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Se Na vs Byung Gyun di Idol I Lebih dari Sekadar Sidang?

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Dalam banyak drama hukum Korea, ruang sidang sering kali menjadi arena adu kecerdasan semata, siapa lebih cepat menemukan celah hukum, siapa lebih piawai menyusun argumen, dan siapa yang mampu menjatuhkan lawan dengan bukti pamungkas.

Namun, drakor Idol I memilih jalur yang jauh lebih kompleks. Pertarungan antara Maeng Se Na (Sooyoung) melawan Kwak Byung Gyun (Jeong Jae Kwang) tidak berhenti pada menang atau kalah di pengadilan, melainkan menyentuh lapisan psikologis, etis, dan personal yang jauh lebih dalam.

Sejak awal, drama ini membangun konflik mereka bukan sebagai rival profesional biasa, tetapi sebagai dua individu dengan cara pandang yang bertolak belakang terhadap hukum, kebenaran, dan kekuasaan. Setiap persidangan menjadi refleksi dari luka lama, ego, serta keyakinan yang telah mengeras selama bertahun-tahun. Inilah alasan mengapa duel Maeng Se Na versus Kwak Byung Gyun terasa lebih intens daripada sekadar proses hukum formal.

1. Benturan dua cara pandang terhadap keadilan

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Maeng Se Na dan Kwak Byung Gyun mewakili dua wajah sistem hukum yang saling berseberangan. Maeng Se Na percaya bahwa hukum harus melindungi individu dari kesewenang-wenangan, bahkan ketika individu tersebut dibenci publik.

Sementara Kwak Byung Gyun memandang hukum sebagai alat untuk mengukuhkan otoritas negara dan menjaga citra institusi. Dalam setiap sidang, perdebatan mereka bukan hanya soal pasal, melainkan soal definisi keadilan itu sendiri.

2. Pertarungan ego yang terbentuk sejak masa lalu

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Relasi Maeng Se Na dengan Kwak Byung Gyun tidak lahir di ruang sidang Idol I. Mereka memiliki sejarah panjang sejak masa remaja, di mana Maeng Se Na kerap berada satu langkah di depan Kwak Byung Gyun, meski menjadi korban perundungan.

Fakta ini membentuk ego Kwak Byung Gyun sebagai jaksa yang terobsesi pada rekor tak terkalahkan. Kasus Do Ra Ik (Kim Jae Young) menjadi ajang pembuktian personal baginya, bukan semata tugas profesional. Sidang berubah menjadi medan untuk mempertahankan harga diri.

3. Simbol bentrokan antara kekuasaan dan kerentanan

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Kwak Byung Gyun berdiri sebagai representasi kekuasaan, jaksa senior, sistem yang mapan, dan opini publik yang sudah memvonis. Sebaliknya, Maeng Se Na membela Do Ra Ik yang berada di posisi paling rentan, idola yang dibenci, dijadikan kambing hitam, dan kehilangan suara. Pertarungan mereka mencerminkan relasi timpang antara negara dan individu, di mana kemenangan bukan hanya soal hukum, tetapi soal siapa yang berhak didengar.

4. Adu strategi yang sarat manipulasi psikologis

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Sidang di Idol I jarang berjalan lurus. Kwak Byung Gyun kerap menggunakan tekanan psikologis, asumsi, dan framing untuk mengarahkan opini hakim dan publik. Di sisi lain, Maeng Se Na memilih strategi membongkar ketidakkonsistenan, bias, dan celah moral di balik dakwaan. Ketegangan muncul bukan karena bukti semata, melainkan karena bagaimana keduanya memainkan rasa takut, ragu, dan kepercayaan.

5. Ujian integritas profesional keduanya

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Kasus Do Ra Ik memaksa Maeng Se Na dan Kwak Byung Gyun menghadapi batas etika masing-masing. Maeng Se Na diuji karena ia membela idolanya sendiri, sementara Kwak Byung Gyun diuji karena sejak awal ia ragu, tetapi tetap memaksakan dakwaan. Sidang menjadi cermin yang memantulkan siapa mereka sebenarnya ketika integritas bertabrakan dengan ambisi dan ketakutan pribadi.

6. Representasi konflik antara fakta dengan narasi

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Kwak Byung Gyun membangun kasusnya di atas narasi yang mudah diterima publik, idola populer, skandal, dan kemarahan massa. Maeng Se Na justru berfokus pada fakta yang tidak populer, tidak sensasional, dan sering diabaikan. Pertarungan mereka menunjukkan bahwa di pengadilan modern, narasi bisa lebih berbahaya daripada kebohongan, karena ia tampak masuk akal meski rapuh.

7. Sidang sebagai ruang penyelesaian trauma

still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Bagi Maeng Se Na, menghadapi Kwak Byung Gyun bukan hanya soal membela klien, tetapi juga menghadapi trauma masa lalu dan rasa bersalah sebagai fangirl. Bagi Kwak Byung Gyun, sidang ini adalah upaya menutup keraguan terdalamnya sendiri. Dengan demikian, setiap pertemuan mereka di ruang sidang adalah konfrontasi batin yang sama pentingnya dengan konfrontasi hukum.

Pada akhirnya, Idol I menjadikan pertarungan Maeng Se Na versus Kwak Byung Gyun sebagai inti emosional cerita. Sidang hanyalah panggung, yang dipertarungkan sesungguhnya adalah kebenaran, ego, dan keberanian untuk mengakui kesalahan. Inilah yang membuat duel mereka terasa hidup, relevan, dan jauh melampaui batas drama hukum konvensional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera
Follow Us

Latest in Korea

See More

10 Lagu Korea Romantis dan Sedih yang Bikin Terharu

05 Jan 2026, 16:40 WIBKorea