6 Peristiwa yang Memicu Rencana Pemberontakan di To My Beloved Thief

- Insiden berdarah tahun Gyeongo
- Munculnya sosok pencuri yang jadi sekutu rakyat
- Pembunuhan Hong Min Jik
Drakor To My Beloved Thief menggunakan latar pemerintahan Raja Yi Gyu (Ha Seok Jin). Sebagai pemimpin, ia dianggap tidak pernah berada di sisi rakyat hingga membiarkan pejabat korup merajalela. Bencana kelaparan dan wabah penyakit yang diderita rakyat tidak dihiraukan oleh raja dan sebagian besar pejabat istana.
Perilaku Raja Yi Gyu semakin hari semakin menimbulkan keresahan banyak pihak. Akhirnya, rencana untuk melakukan pemberontakan pun tak bisa dihindari oleh mereka yang menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Berikut ini enam peristiwa yang memicu rencana pemberontakan di drakor To My Beloved Thief.
1. Insiden berdarah tahun Gyeongo

Tahun Gyeongo adalah tahun yang sulit dilupakan. Raja Yi Gyu saat itu benar-benar tidak terkendali. Ia tidak ragu untuk mengeksekusi siapa pun yang berani menentang perintahnya. Akibatnya, banyak orang yang harus kehilangan keluarga hingga rekan terdekat pada tahun Gyeongo.
2. Munculnya sosok pencuri yang jadi sekutu rakyat

Rakyat heboh dengan kehadiran pencuri baik hati yang diberi nama Gil Dong. Ia mencuri dari lumbung pejabat korup untuk membantu rakyat yang kelaparan dan kesakitan. Tidak ada yang tahu identitas asli Gil Dong, tapi kehadirannya memberikan harapan baru. Karena itulah, nama Gil Dong ingin digunakan untuk mewakili rakyat yang mati karena kemiskinan dan penindasan kaum atas.
3. Pembunuhan Hong Min Jik

Hong Min Jik (Kim Seok Hoon) merupakan mantan Kepala Inspektur yang dilengserkan karena menentang keinginan Raja Yi Gyu. Dulu ia adalah sosok guru untuk sang raja. Namun, tidak disangka Hong Min Jik malah tewas di tangan muridnya sendiri. Hong Min Jik saja bisa berakhir seperti itu, orang-orang jadi resah karena artinya tak ada pengecualian di mata sang raja.
Pikiran Raja Yi Gyu sudah sangat kacau akibat dupa pemberian Im Sa Hyung (Choi Won Young), tapi tak ada yang mengetahuinya. Ia sudah dicap sebagai raja tiran akibat insiden tahun Gyeongo, jadi tidak ada yang curiga. Orang lain menilai bahwa Raja Yi Gyu hanya kembali menunjukkan sisi kejamnya seperti dulu.
4. Penyiksaan terhadap Hong Dae Il

Kepergian Hong Min Jik begitu mengejutkan semua pihak, termasuk keluarga kerajaan. Mereka pun ikut miris melihat Raja Yi Gyu tertidur pulas setelah membunuh salah satu abdi setianya. Bahkan saat ia sudah sadar, mencari pelaku yang mencoba membunuhnya dalam perjalanan balik dari Istana Sementara justru menjadi prioritasnya.
Tidak cukup dengan membunuh Hong Min Jik, Raja Yi Gyu mengusik keluarganya juga. Hong Dae Il (Song Ji Ho), putra sulung Hong Min Jik, disiksa sebagai tersangka utama. Bukan merenungkan perbuatannya, langkah yang diambil oleh Raja Yi Gyu menimbulkan kekecewaan.
5. Munculnya kandidat kuat untuk menggantikan raja

Menentukan pengganti raja merupakan langkah awal yang penting sebelum melancarkan pemberontakan. Dulu tidak ada sosok yang dianggap bisa memangku posisi tersebut. Namun, Pangeran Do Wol (Moon Sang Min) akhirnya memberikan harapan. Topengnya makin runtuh seiring waktu melalui aksi nyata yang ditunjukkannya untuk membantu rakyat. Dengan begitu, dirinya pun dipilih sebagai orang yang akan diberikan takhta hanya saat pemberontakan berhasil.
6. Eksploitasi gisaeng di kediaman raja

Raja Yi Gyu benar-benar sudah tidak memedulikan apa pun selain dirinya sendiri. Ia memanggil para gisaeng untuk memberi hiburan di kediamannya. Namun, raja tidak membiarkan mereka berhenti selama berhari-hari. Para gisaeng dipaksa untuk terus menari dan memainkan musik meskipun kaki dan tangan sudah berdarah.
Pangeran Do Wol dan Hong Eun Jo (Nam Ji Hyun) kemudian bersatu untuk membebaskan para gisaeng. Raja yang mengetahui hal ini dengan cepat menyusul mereka. Tindakan ini juga mencerminkan bahwa nyawa rakyat sudah tidak aman karena sama sekali tidak dihargai oleh raja mereka sendiri.
Para pemberontak di drakor To My Beloved Thief sudah sangat siap untuk melancarkan serangan. Mereka hanya perlu menunggu Hong Eun Jo dan Pangeran Do Wol untuk meyakinkan diri. Enam peristiwa di ataslah yang membulatkan tekad mereka untuk menempuh jalur yang sulit dan berbahaya.


















