Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Realitas Korban Pelecehan Seksual di Drakor Honour, Miris Banget!
still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

Salah satu paling menarik untuk di bahas di drakor Honour (2026) adalah bagaimana drama ini menampilkan realitas pahit yang dialami korban pelecehan seksual. Lewat karakter Yoon Ra Young (Lee Na Young) dan para korban prostitusi Connect In, penonton diperlihatkan bahwa luka yang ditinggalkan bukan hanya fisik, tetapi juga luka mental yang dalam dan bertahan lama. 

Drama ini tidak sekadar menghadirkan kasus hukum, melainkan menggambarkan bagaimana sistem, opini publik, dan kekuasaan sering kali membuat korban justru semakin terpojok. Berikut tujuh realitas miris yang tergambar di dalamnya.

1. Korban sering kali tidak langsung dipercaya dan justru dipertanyakan kredibilitasnya saat memberikan kesaksian

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

2. Pelaku yang memiliki status sosial tinggi lebih mudah terlindungi oleh citra dan kekuasaan yang mereka miliki

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

3. Trauma yang dialami korban bisa bertahan puluhan tahun dan memengaruhi cara mereka menjalani kehidupan sehari-hari

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

4. Banyak korban memilih bungkam karena takut ancaman, stigma, atau dampak sosial yang jauh lebih besar

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

5. Ketika korban akhirnya berani bersuara, mereka tetap harus menghadapi penghakiman publik yang menyakitkan

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

6. Proses mencari keadilan sering kali menguras mental korban, bahkan terasa lebih berat daripada kejadian itu sendiri

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

7. Sistem terorganisir seperti Connect In membuat korban merasa terjebak dan seolah tidak memiliki jalan keluar

still cuts drama Honour (dok. ENA/Honour)

Melalui cerita di Honour, penonton diajak melihat betapa kerasnya perjuangan korban pelecehan seksual untuk mendapatkan keadilan. Dibutuhkan keberanian luar biasa untuk bersuara, dan dukungan sistem yang adil agar mereka tidak kembali menjadi korban untuk kedua kalinya. Drama ini bukan hanya tentang menjatuhkan pelaku, tetapi tentang bagaimana kita memandang, mendengar, dan memperlakukan para korban.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team