Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Efek Kegagalan Sistem Pendidikan yang Diungkit di Teach You a Lesson

7 Efek Kegagalan Sistem Pendidikan yang Diungkit di Teach You a Lesson
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)
Intinya Sih
  • Teach You a Lesson mengangkat kisah Biro Perlindungan Hak Pendidikan yang dibentuk untuk melindungi korban praktik menyimpang di sekolah akibat kegagalan sistem pendidikan.
  • Drama ini menyoroti dampak serius seperti meningkatnya ketimpangan karena bimbel, turunnya otoritas guru, hingga maraknya perilaku negatif di lingkungan sekolah.
  • Pembentukan biro tersebut menuai pro dan kontra karena meski dianggap solusi bagi sistem pendidikan yang rusak, cara penanganan kasusnya memunculkan kekhawatiran soal pelanggaran hak asasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Webtoon The Real Lesson sudah resmi diangkat menjadi serial orisinal Netflix Korea berjudul Teach You a Lesson. Ini adalah drama tentang organisasi fiksi yang bernama Biro Perlindungan Hak Pendidikan. Mereka akan memberikan perlindungan terhadap korban praktik menyimpang di lingkungan sekolah.

Urgensi pembentukan biro itu tak lain adalah kegagalan sistem pendidikan. Efeknya dirasakan oleh semua pihak, mulai dari murid, guru, dan orangtua. Dalam sepuluh episode Teach You a Lesson, ada beberapa efek kegagalan sistem pendidikan yang diungkit.

1. Guru bimbel lebih dihargai oleh murid dan orang tua murid karena dianggap lebih berjasa dalam menaikkan nilai dibandingkan para guru di sekolah

Seorang wanita berambut panjang mengenakan setelan krem dengan pita besar berdiri di depan papan tulis bertuliskan rumus matematika.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

2. Semakin meningkatnya prestise guru bimbel akhirnya membuka celah bagi tenaga pendidik tidak bertanggung jawab untuk mengomersialkan pendidikan

Seorang pria mengenakan setelan jas hitam berdiri di ruang konferensi yang kosong dengan pencahayaan redup dan meja-meja berderet.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

3. Orang tua murid jadi berusaha keras untuk mencari guru bimbel terbaik karena tidak bisa mengandalkan guru di sekolah dan ikut menderita karenanya

Beberapa siswi berseragam sekolah duduk di kelas, satu siswi berdiri menunjuk ke arah teman-temannya dalam adegan drama Teach You a Lesson.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

4. Bimbel menjadi sumber ketidakadilan dan ketimpangan di antara para murid karena tidak semua orang tua mampu membayar biaya yang tidak rendah

Seorang pria berjas hitam berjalan di koridor sekolah dengan ekspresi serius, diikuti oleh beberapa siswa berseragam di belakangnya.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

5. Pada akhirnya otoritas guru di sekolah terus menurun sampai murid tidak lagi menganggap omongan mereka pantas untuk didengarkan

Seorang pria mengenakan sweater hijau dengan tulisan kuning berdiri di dalam toko kecil, tampak terkejut sambil memegang dadanya.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

6. Dengan begitu, murid menjadi semakin berani sampai perundungan, perjudian, hingga pengedaran narkoba semakin marak di lingkungan sekolah

Suasana kelas besar di aula sekolah dengan banyak orang duduk menghadap panggung, dua pria berdiri di depan papan tulis.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

7. Sekolah tidak lagi menjadi tempat yang sakral dan aman bagi murid maupun guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran, tapi malah menjadi neraka

Dua pria duduk berhadapan di meja minimarket sambil makan mi instan, salah satunya mengenakan seragam sekolah abu-abu.
still cut drama Teach You a Lesson (dok. Netflix/Teach You a Lesson)

Pembentukan Biro Perlindungan Hak Pendidikan dalam drama Teach You a Lesson tidak lepas dari pro dan kontra. Biro tersebut dibentuk sebagai solusi untuk memperbaiki sistem pendidikan. Sebab, sistem saat ini menyebabkan sekolah bukan dilihat sebagai tempat untuk belajar dan mengembangkan karakter, melainkan sebatas tempat pengumpulan bukti yang diperlukan untuk masuk perguruan tinggi. Tujuan biro ini memang tampak seperti solusi yang tepat untuk masalah itu, tapi di sisi lain juga menimbulkan keresahan baru terkait pelanggaran hak asasi dilihat dari cara mereka menangani setiap kasus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera

Related Articles

See More