Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Sikap Rasisme yang Didapatkan Sato Shinichi di 100 Days of Deception

3 min read
3 Sikap Rasisme yang Didapatkan Sato Shinichi di 100 Days of Deception
Cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok.tvN/100 Days of Deception)
  • Sato Shinichi, pejabat Jepang yang lahir dan besar di Joseon, diperlakukan tidak setara dengan warga Jepang kelahiran Jepang hingga masuk Akademi Militer demi pengakuan.
  • Meski terlibat pembantaian Kyeam-ri dan berkarier sebagai polisi, Shinichi sulit naik pangkat; ia menikah dengan keluarga kaya Sato demi relasi, tetapi tetap dicap rendah.
  • Setelah berpangkat tinggi, Shinichi masih diremehkan atasan dan rekan kerja karena asal kelahirannya; pengalaman itu mendorong obsesinya diakui sebagai warga Jepang melalui tindakan kejam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sato Shinichi (Jin Sun Kyu) dikenal sebagai pimpinan tertinggi nomor 2 pemerintahan Jepang di drakor 100 Days of Deception (2026). Di mata warga Joseon, Sato Shinichi dianggap sebagai salah satu musuh terbesar mereka setelah kejadian pembantaian di beberapa desa pada tahun 1919. Dia menjadi target utama gerakan kemerdekaan Joseon.

Di balik sifat kejamnya, Sato Shinichi juga menghadapi permasalahan hidup layaknya warga Joseon. Sepanjang hidupnya, Sato Shinichi juga berhadapan dengan sikap rasis warga Jepang setelah kembali. Lalu, apa saja rasisme yang didapatkan Sato Shinichi di drakor 100 Days of Deception?

Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.

  1. 1. Dianggap gak setara dengan warga Jepang yang lahir di Jepang

    Cuplikan drakor 100 Days of Deception
    Cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok.tvN/100 Days of Deception)

    Ayah Sato Shinichi merupakan seorang samurai yang mengalami kemunduran di akhir masa Keshougunan. Kondisi ini membuat sang ayah memutuskan merantau ke Joseon untuk mendapatkan peruntungan sebagai pedagang. Situasi ini membuat Shinichi lahir dan tumbuh besar di Joseon.

    Sayangnya, Shinichi gak punya pendapat yang sama dengan sang ayah. Pada akhirnya, dia kembali ke Jepang untuk melanjutkan hidupnya. Namun, Shinichi gak mendapatkan sikap yang sama dengan para warga Jepang lainnya karena lahir dan besar di Joseon.

    Kondisi ini membuat Shinichi harus masuk ke Akademi Militer demi mendapatkan pengakuan dan sikap ini terus dihadapi Shinichi sepanjang hidupnya.

  2. 2. Kesulitan naik pangkat dan harus menikah demi negara

    Cuplikan drakor 100 Days of Deception
    Cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok.tvN/100 Days of Deception)

    Setelah menjadi polisi, Shinichi memanfaatkan kejadian 1 Maret 1919 untuk menguatkan kariernya. Saat itu, Shinichi dianggap sebagai salah satu otak di balik kejadian pembantaian desa Kyeam-ri. Sayangnya, situasi ini gak membuat karier Sato Shinichi naik pesat. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menikah dengan salah satu orang kaya Jepang untuk mendapatkan relasi.

    Sato Shinichi merupakan nama yang dimilikinya setelah menikah dengan orang kaya tersebut. Nama lahir Shinichi sendiri merupakan Ishikawa. Dia memutuskan mengganti namanya menggunakan marga keluarga istrinya. 

    Sayangnya, bagi rekan kerja dan atasannya, Shinichi masih dianggap sebagai salah satu golongan warga Joseon yang statusnya jauh dibawah warga Jepang. Pada akhirnya, dia lebih terobsesi membesarkan anaknya dengan kebiasaan dan budaya militer Jepang.

  3. 3. Tetap diremehkan sekalipun berpangkat tinggi

    Cuplikan drakor 100 Days of Deception
    Cuplikan drakor 100 Days of Deception (dok.tvN/100 Days of Deception)

    Setelah berhasil jadi sosok yang berpengaruh, Shinichi tetap menghadapi rasisme di kalangan tempat kerjanya. Beberapa rekan kerja dan juniornya memang menunjukkan penghormatannya ketika berhadapan dengan Shinichi. Sayangnya, beberapa dari mereka masih menganggap anak-anak Shinichi hanya beruntung karena Shinichi memiliki jabatan yang mentereng.

    Beberapa kali, Shinichi mendapatkan rasisme dari atasannya langsung. Sayangnya, ucapan ini muncul setelah Sato Shinichi keluar dari ruangan. Bahkan, atasannya juga gak mempercayai Sato Shinichi karena dianggap sebagai salah satu orang Joseon karena lahir di Joseon.

    Situasi ini jelas membuat Sato Shinichi terdiam. Dia seakan terbiasa mendapatkan sikap rasisme ini dari berbagai pihak. Tindakannya untuk menikahi keluarga Sato juga membuat para warga Joseon memandang Sato Shinichi sebelah mata. 

    Situasi ini yang membuat Sato Shinichi berambisi untuk dipandang dan diakui sebagai warga Jepang. Dia bahkan berani melakukan kejahatan perang, seperti pembantaian massal, untuk bisa mendapatkan pengakuan. Gak hanya itu, Sato Shinichi bahkan ingin memasukkan anak angkatnya, Kim Tae Woong (Jun Young), ke Akademi Militer.

    Berbagai tindakan rasis ini dihadapi Sato Shinichi dengan sangat tenang. Namun, dia seakan punya jalan yang kejam untuk membalas tindakan ini. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More